Rabu, 31 Agustus 2016

Setelah Mengikuti Sosialisasi Pendidikan Pemilu dan Demokrasi, PR IPM MIM 1 Jombang Adakan Musyran


WARTAMU - Pemilihan Ketua dan Sekretaris Umum IPM MIM ONE JOE yang bekerjasama dengan KPU Kab. Jombang dilaksanakan pada hari rabu 31 Agustus 2016 pukul 08.00 pagi tadi serta sosialisasi untuk memberikan pemahaman tentang Pemilu dan Demokrasi kepada siswa/ siswi MIM ONE JOE yang juga diliput langsung oleh salah satu wartawan Jawa Pos Radar Jombang.

Antusiasme yang dilakukan oleh siswa/ siswi dalam pemilihan sangat besar karena 2 kandidat pasangan nomor 1 (M. Akmal Firdaus & M. Ukaidar R.R) pasangan nomor 2 (Bintang Islam J.P & M. Albir Darajad) yang sama-sama memiliki kekuatan besar sesuai dengan passion masing-masing calon. Tidak hanya disitu saja, bapak/Ibu guru dan pegawai pun ikut andil dalam pemilihan tersebut.


Sampai pada perhitungan suara, semua siswa/siswi MIM ONE JOE ada yang tercengan tegang dan sorak soray ketika ketua PANLIH membacakan surat suara. Dan sampai hasil akhir dengan perhitungan 152 untuk pasangan nomor 1 dan 149 untuk pasangan nomor 2.
Selamat buat pasangan nomor urut 1 (M. Akmal Firdaus & M. Ukaidar R.R) semoga Amana. (*)

sumber : http://mim1jombang.sch.id

Lanjutkan Jihad Konstitusi : Inilah Tiga Rekomendasi Muhammadiyah Soal Tax Amnesty


WARTAMU - Pogram pengampunan pajak (amnesti pajak) masuk bulan kedua, penerimaan dana tebusan masih minim. Agar program ini bisa maksimal, PP Muhammadiyah ikut urun rembug. Ini rekomendasinya.

Wakil Ketua Majelis Ekonomi Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah, Mukhaer Pakkana mengatakan, ada tiga rekomendasi terkait kebijakan pengampunan pajak yang dikeluarkan PP Muhammadiyah.

“Muhammadiyah melalui Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai, masih ada ketidak jelasan sikap pemerintah. Dalam hal ini terkait program pengampunan pajak,” papar Mukhaer di Jakarta, Minggu (28/8/2016).

Rekomendasi pertama, terang Mukhaer, Muhammadiyah meminta pemerintah untuk menunda pelaksanaan UU Pengampunan Pajak, atau perpanjang sosialisasi UU tersebut. Jangan hanya karena waktu semakin mepet, menjelang akhir tahun anggaran, pemerintah mengambil jalan pintas yang tidak terdesain dengan matang.

Dikhawatirkan, lanjut Mukhaer, kepentingan rakyat menjadi terabarkan. Lantaran APBN-P 2016 bakal dipreteli hingga Rp133,8 triliuan, serta ada wacana menaikkan tarif rokok setinggi-tingginya untuk menambal bolong fiskal.

Rekomendasi kedua, lanjut Mukhaer, pemerintah harus serius mengejar dana simpanan pemodal kakap, koruptor, bandir kekayaan alam Indonesia, sampai rekening gendut pejabat maupun mantan pejabat yang selama ini mengemplang pajak.

Muhammadiyah bahkan masih mencatat pernyataan Presiden Jokowi di awal pemberlakuan UU Pengampunan Pajak yang menyebut, pemerintah sudah memiliki data detil tentang siapa pemilik rekening gendut lengkap dengan alamatnya.

“Tapi hingga kini, pemerintah belum berhasil menunjukkan kinerja perolehan dana dari mereka. Bandingkan penerimaan HP merek Galaxy Note 7 yang ludes terpesan hanya dalam waktu tiga hari, pasca pembukaan pre-order pada 23 Agustus 2016. Di mana, nilainya itu triliunan,” papar Mukhaer.

Rekomendasi ketiga, ungkap Mukhaer, apabila UU Pengampunan Pajak tetap dijalankan, pemerintah perlu memiliki tim sosialisasi yang efektif. Disarankan untuk melibatkan kalangan akademisi, organisasi kemasyarakatan, keagamaan, tokoh masyarakat, dan lainnya. “Kami berharap pemerintah merespon apa yang menjadikan rekomendasi Muhammadiyah ini untuk kemaslahatan umat,” pungkas Mukhaer.

Dari data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, dana hasil repatriasi sebesar Rp 1,44 triliun dari total aset yang dicatatkan mencapai Rp 37,27 triliun. Jumlah Surat Pernyataan Harta (SPH) yang telah disetor ke Direktorat Jenderal Pajak sejak Juli hingga 20 Agustus 2016 sebanyak 6.896 SPH. Sedangkan uang tebusan yang terkumpul hanya Rp857 miliar.

Dengan data itu, terlihat keberhasilan pelaksanaan UU itu hanya sekadar mimpi saja. Karena itu, pemerintah kemudian beralih untuk mendongkrak potensi penerimaan dari subyek pajak yang beroperasi di dalam negeri. Rakyat yang berpenghasilan menengah ke bawah pun yang banyak taat pajak dan tidak pernah menyimpan dananya di luar negeri mulai dikejar, bahkan diancam denda atau sanksi yang sangat tinggi. (*)

sumber http://sangpencerah.com

MEWASPADAI ‘ABU JAHAL’ MODERN


MUHSIN HARIYANTO
Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak
Tetap STIKES ’AISYIYAH Yogyakarta


Imam As-Suyuthi, di dalam kitabnya Lubab al-Nuqul fî AsbabM al-Nuzul menjelaskan sabab al-nuzul Q.s. Al-’Alaq [96]: 9-10, dengan mengutip sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas. ‘’Ketika Rasulullah Muhammad saw akan mengerjakan shalat, tiba-tiba Abu Jahal, seorang yang sangat
memusuhi Rasulullah saw — yang nama aslinya adalah Abdul Hakam bin Hisyam — datang, lalu melarangnya (agar ia tidak mengerjakan shalat). Lalu – berdasarkan peristiwa itu — Allah SwT menurunkan ayat ini hingga ayat kadzibatin khathiah ([yaitu] ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka) (Q.s. Al-’Alaq [96]: 16). Itulah Abu Jahal yang hadir (kurang-lebih) 14 abad yang lalu. Dia — dengan gagah berani — melarang seorang hamba Allah SwT — Muhammad (Rasulullah) saw — yang akan bermunajat (dengan shalatnya) kepada Rabb-nya.

Dikisahkan, bahwa sejak sama-sama remaja Abu Jahal senantiasa mengolok-olok Muhammad. Bahkan diceriterakan pula dalam beberapa riwayat, yang otentisitas dan validitasnya masih diperselisihkan, keduanya (Abu Jahal dan Muhammad di masa remaja) pernah juga berkelahi, dan kebetulan Abu Jahal
kalah dan – bahkan diceriterarkan — terkilir lututnya. Oleh karena itu, ia sangat dendam kepada Muhammad. Ditambah lagi ada sebuah ceritera yang menyatakan bahwa Abu Jahal pernah melamar Khadijah binti Khuwailid, tetapi Khadijah menolak lamaran tersebut. Dan beberapa bulan kemudian, Muhammad meminang Khadijah dan langsung diterima. Hati Abu Jahal – tentu saja — semakin dengki kepada Muhammad.

Setelah kaum dhuafa’ (orang-orang lemah) masuk Islam, Abu Jahal memproklamasikan dirinya sebagai ‘preman’ kota Makkah. Kaum dhuafa’ yang masuk Islam – semuanya, tanpa kecuali — mendapat teror dan bahkan penyiksaan pedih dari Abu Jahal. Misalnya, Yasir dan isterinya Sumayyah pernah mendapat siksaan — sampai syahid — di tangan Abu Jahal.

Zaman telah berganti. Abu Jahal memang sudah mati. Namun, karakternya tak akan pernah mati. Mati satu tumbuh seribu. Dia bisa menjadi benda hidup atau juga benda mati. Ingat, tidakkah kita merasa bahwa selama ini kita ternyata dikelilingi juga oleh benda-benda (hidup dan mati) yang berpotensi untuk menjadi ‘Abu Jahal Modern’ yang mengusung ‘spirit’ setan.

Jika Abu Jahal zaman dulu dengan terang-terangan melarang Nabi Muhammad saw ketika hendak mengerjakan shalat, para ‘Abu Jahal Modern’ ini dengan cara halus, cara yang tidak kita sadari, terus membujuk diri kita. Jika tak berhasil membujuk dalam meninggalkan shalat, sehingga diri kita masih belum melupakan shalat. Minimal ‘dia’ telah banyak berhasil menggoda umat manusia untuk menunda-nunda waktu shalat. Karena, ternyata
sampai saat ini, banyak teman-teman, saudara-saudara, keluarga kita yang ketika adzan sudah dikumandangkan masih asyik menonton televisi atau asyik-masyuk bertelepon ria dengan ponselnya. Dengan satu ucapan: ‘nanggung’, demikian alasannya. Hal yang sepele, tetapi kadang-kadang mengalahkan suatu kewajiban yang sudah jelas perintahnya.

Semakin modern zaman, semakin modern pula cara-cara ‘Abu Jahal Modern’ dalam menggoda kita. Ungkapan ini setidaknya dapat membuat kita untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi tipu-dayanya di sekitar kita, apa pun bentuknya.

Mau tidak mau, kita sendiri yang harus bisa mengatur dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai justru kita sendiri yang menciptakan ‘Abu Jahal Modern’, yang memberi kenikmatan sesaat, namun menjerumuskan kita ke dalam kekufuran pada Allah SwT selama-lamanya. Tidak hanya “shalat” yang kita remehkan, tetapi (bahkan) semua bentuk amal shalih yang seharusnya kita kerjakan. Hingga akhirnya, bisa jadi, “kita terjebak dalam kemaksiatan”.

Abu Jahal itu pun kini bisa berubah wujudnya menjadi para provokator yang selalu meneriakkan terompet kebencian kepada Islam dan umat Islam dengan beragam caranya. Hingga – bukan tidak mungkin – kebencian-kebencian publik terhadap Islam dan umat Islam, kini dan masa datang, akan terus menjadi realitas yang perlu kita sikapi dengan cerdas untuk – secara sistematik – kita hadapi dengan isu tandingan yang lebih menyejukkan. Agar kita (baca: umat Islam) tidak selalu dihantui oleh opini publik yang menyesatkan terhadap Islam dan umat Islam. Termasuk di dalamnya, ketika kita menghadapi menghadapi fenomena Islamophobia yang bukan hanya terjadi di kalangan komunitas non- Muslim, tetapi bahkan telah merasuk ke dalam jantung kehidupan umat Islam sendiri, yang – tentu saja — sangat memprihatinkan.

Untuk menyelesaikan persoalan umat Islam, ’Kita’ tidak bisa banyak berharap pada orang lain. Saatnya “kita” bekerja mandiri untuk melangkah “dengan sikap percaya diri”, melawan Abu Jahal modern yang berupaya untuk menciptakan citra negatif Islam, Islam yang menakutkan, menuju pada strategi pencitraan Islam yang serba positif, Islam yang ramah dan menyejukkan. “Islam rahmatan lil ’alamin yang ditunggu-tunggu, bukan saja oleh umat
Islam, tetapi oleh seluruh umat manusia. Dengan mengedepankan “wajah ramah Islam” untuk semuanya. Insya Allah.

Meneladani Dengan Spirit 'Fastabiqul Khairat'

Meneladani dengan Spirit “Fastabiqû Al-khairât”
MUHSIN HARIYANTO
Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa
STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta


Setiap orang pasti memiliki keinginan umum yang sama: “menjadi yang terbaik”, tetapi (setiap orang) tidak diberi instrumen yang (seluruhnya) sama untuk menjadikan dirinya menjadi yang terbaik. Kesamaan dalam perbedaan inilah bagian yang memicu hukum kompetisi.

Kompetisi (competition) —menurut para pakar bahasa— adalah kata kerja intransitive, yang berarti tidak membutuhkan objek (sebagai korban) kecuali ditambah dengan pasangan kata lain seperti against (melawan), over (atas), atau with (dengan). Tambahan itu merupakan pilihan hidup dan bisa disesuaikan dengan kepentingan kita. Hasil dari kompetisi adalah kemenangan (winning). Menjadi pemenang berkat perjuangan (doing the best). Dari sini terlihat, baik kompetisi dan kemenangan tidak kita temukan indikasi adanya ajaran yang menjadikan orang lain sebagai objek/ kurban.

Perintah Allah dalam Al-Qur'an (Al-Baqarah [2]: 148 dan Al- Mâidah [5]: 48) untuk berkompetisi (fastabiqû al-khairât) menunjukkan bahwa, meskipun berbeda kadar dan jenis keunggulan- kelemahan tetapi semua manusia mempunyai (baca: diberi) potensi dan kesempatan yang sama oleh Allah, dan selanjutnya
diberi peluang untuk mengembangkan potensi dan memanfaatkan kesempatannya dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Bercermin pada diri Nabi, Nabi kita (Muhammad saw) adalah seorang yang mampu mensyukuri nikmat Allah. Beliau adalah seorang yang berjiwa besar, termasuk di dalam upayanya untuk meraih kesuksesan. Dengan seluruh potensi dan kesempatan yang dimilikinya, Dia selalu ‘bisa’ berjuang untuk menjadi yang terbaik tanpa mengusik kehadiran orang lain, bahkan Muhammad Husain Haikal menyebutnya sebagai seorang inspirator bagi (kesuksesan)
orang lain. Dia berhasil menjadi Insan Kamil (manusia paripurna). Manusia “multi-dimensi”, yang berhasil mencapai puncak prestasi tertinggi tanpa harus medlalimi orang lain.

Semangat untuk berkompetisi dengan siapa pun —dalam seluruh aspek kehidupannya— dihadirkan oleh Nabi saw dengan amal shalih (karya nyata yang serba-positif). Dia selalau ’bisa’ hadir sebagai pribadi yang memiliki integritas dalam kompetisi multidimensi, yang oleh karena integritas (kepribadian)-nya, Ia pun disebut oleh Allah dengan predikat “uswah hasanah” (Al-Ahzab [33]: 21). Manusia paripurna (multi-dimensi) yang bisa menjadi
teladan untuk siapa pun, di mana pun dan kapan pun dalam konteks apa pun.

Ibn Katsir, ketika menafsirkan Al-Ahzab [33]: 21 (Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah), menyatakan bahwa ayat ini merupakan pedoman dasar dalam penetapan Nabi Muhammad saw sebagai suri teladan bagi semua orang dalam konteks apa pun. Meskipun turun dalam konteks  perang (Khandaq), ayat ini memiliki pengertian (yang) universal, dalam arti mengharuskan kaum Muslim meneladani Beliau, tidak terbatas (hanya) dalam masalah perang, tetapi dalam segala hal.

Dalam khazanah Tafsir Al-Qur'an, para pakar tafsir menjelaskan bahwa makna meneladani Nabi Muhamad saw bisa dipahami dengan beberapa pengertian: (1) wujub al-iqtida’, yang bermakna bahwa setiap Muslim seharusnya selalu mengikuti dan menjadikannya sebagai tokoh ‘identifikasi diri’ dalam segala hal, baik perkataan, sikap, maupun perilaku; (2) mulazamah al-tha`ah, yang bermakna bahwa setiap Muslim seharusnya selalu patuh
dan taat kepadanya; (3) ’adam al-takhalluf `anh, yang bermakna bahwa setiap Muslim tidak boleh menjauh dan berpaling darinya.

Sebagai muttabi’ (pengikut setia [yang] kritis) Beliau, tidak seharusnya kita terjebak pada konsep ’ittiba’ parsial dan simbolik, yang sebenaranya tidak layak untuk dilakukan oleh setiap Muslim yang cerdas. Patut disayangkan, misalnya, di saat seorang Muslim berjuang menuju keberjayaannya untuk menjadi yang terbaik, di saat itu pula ia harus ’bersahabat’ dengan sikap anti-tasamuhnya, menyikapi setiap perbedaan dengan tindakan ’kekerasan’. Padahal, ketika kita harus bertarung dengan seperangkat sistem dan budaya yang (lebih banyak) menghambat proses perjalanan menuju ketakwaan sekali pun, seharusnya kita tetap bersabar untuk meladeninya dengan sikap ’empati’ dan penuh kehati-hatian. Karena sejumlah tantangan eksternal di seputar kita, terkadang bisa menjebak diri kita menjadi manusia-manusia ’bodoh’, yang karenanya, ‘kita’ —atas nama jihad, misalnya — dengan bangga
bertindak anarkhis. Bahkan ketika berhadapan dengan seperangkat sistem yang begitu berkuasa dan seperangkat budaya yang begitu dominan terlalu sering menjadikan diri kita menjadi tidak berdaya pun, kita selayaknya bisa melawan dengan kekuatan ’al-akhlaq al-karimah’ kita, yang tak pernah mungkin mendorong diri kita untuk berbuat dlalim terhadap orang lain.

Kita pun – di negeri kita tercinta — harus sadar bahwa hanya ’mereka’ yang bersabar – menjadi para muttabi’ — yang selalu bisa “survive” untuk meneladani Nabi saw dengan spirit fastabiqu al-khairat, melawan realitas yang tidak bersahabat, hegemoni sistem dan budaya korup yang terus menghantui diri kita, untuk menjadi “yang terbaik”, meskipun – untuk sementara – harus menjadi “ghuraba’” (umat manusia yang – dalam pandangan mayoritas manusia - teralienasi) di tengah umat manusia yang sedang menikmati hidupnya menjadi kelompok “mufsidin” (orang-orang pragmatis yang tengah bersahabat dengan sistem dan budaya korup).

Persis Dukung Muhammadiyah Judicial Review UU Tax Amnesty



BANDUNG, suaramuhammadiyah.id,- PP Persis mendukung upaya Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) PP Muhammadiyah yang akan mengajukan judicial review (JR) atau uji materiil UU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty). Hal ini diberitakan dalam laman resmi Persis, Selasa (30 Agt 16).

Muhammadiyah sendiri, menurut Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, melihat saat ini pemerintahan Jokow-JK telah melakukan blunder terkait tax amnesty ini. PP PP Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa akan memberikan solusi atas blunder pemerintah ini. Salah satu dari solusi yang bisa ditempuh adalah dengan mengadakan judicial review pada seluruh UU yang tidak benar ini. Yang di dalam Muhammadiyah dikenal sebagai jihad konstitusi.

Wakil Ketua Umum PP Persis, Dr. Jeje Zaenudin, mengajak masyarakat untuk mendukung langkah Muhammadiyah melakukan upaya Judical Review UU Tax Amnesty. “Saya sangat mendukung langkah PP Muhammadiyah melakukan JR dan mengajak seluruh masyarakat mendukung langkah Muhamadiyah tersebut,”  tegas Dr. Jeje.

Selain sasarannya tidak jelas, pengampunan pajak juga dinilai tidak sesuai dengan hukum Islam.

“Kalau ditinjau dari teori hukum Islam yang menyatakan bahwa pada dasarnya harta manusia dilindungi oleh syariat dan haram diambil oleh siapapun termasuk oleh penguasa atas nama negara,” tegas Wakil Ketua Umum Persis ini

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Syafii Maarif: Dari Tukang Tambal Ban Saya Bisa Memetik Pelajaran


WARTAMU, YOGYAKARTA – Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum juga terbebas dari ketidakadilan. Cita-cita negara untuk mensejahterakan segenap tumpah darah Indonesia masih mengalami banyak persoalan. Justru, yang terjadi adalah disparitas antara si kaya dan si miskin semakin melebar.

Kondisi itu membuat Ahmad Syafii Maarif gusar. Guru bangsa itu merasa negara yang berpegang pada asas Pancasila ini telah mengkhianati janjinya untuk mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Keprihatinan Buya juga diperoleh dari kebiasaan Buya berinteraksi secara intens dengan semua kalangan.

Kisah-kisah perjumpaan Buya dengan orang-orang kecil itu sebagian besar dituliskan dalam artikel-artikel Buya di media. Cerita sederhana Buya itu kemudian dijadikan sumber utama cerita komik “Bengkel Buya:Belajar dari Kearifan Wong Cilik”, yang diluncurkan pada Senin (29/8) di Madrasah Muallimin Yogyakarta.

Buya Syafii menyinggung kondisi orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. “Haji masih banyak, tapi tengoklah di sekitar kita,” papar Buya. Yang dimaksud kondisi sekitar kita kata Buya adalah kondisi kemiskinan. Jika standar hidup layak diukur dengan pendapatan minimal 2 US Dolar per kepala keluarga per hari, maka kata Buya, hampir separuh dari 250 juta rakyat Indonesia berada dalam garis kemiskinan.

“Sebenarnya ada lebih dari separuh rakyat Indonesia di bawah sejahtera, kita bilang wong cilik. Buku ini hanya percik kecil saja, tapi inilah gambaran fakta yang ada di Indonesia,”  ujar Buya Syafii.
Dialog Buya Syafii dengan wong cilik hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. “Saya mengajak masyarakat untuk berpikir mengurai permasalahan yang ada, jangan hanya berpikir untuk enak dan aman,” papar ketua umum PP Muhammadiyah 1998-2005.
Dalam kesempatan tersebut, Syafii menceritakan saat dirinya berbincang dengan tukang tambal ban. Menurutnya, orang-orang kecil seperti ini memiliki ketajaman nurani dengan semua profesi yang dijalani.

Buya memulai percakapan saat menunggu tukang tambal ban mereparasi sepeda miliknya. Ketika itu Buya menanyakan mengapa tukang tambal ban tersebut tidak sekalian berjualan bensin dan kelontong. Si tukang tersebut menjawab bahwa biarlah orang lain yang membuka bensin dan kelontong sebagai mata pencahariannya.

Dari sana Buya menemukan semangat ekonomi kerakyatan yang dimiliki si tukang tambal ban. Bahwa salah satu watak dari ekonomi kapital yang membuat ketimpangan kemiskinan di seluruh belahan dunia ditandai dengan watak bisnis yang serakah.  “Kita tahu sistem kapital telah melahirkan ketimpangan dan kemiskinan. Dari tukang tambal ban itu saya bisa memetik pelajaran,” ujar Syafii.

http://suaramuhammadiyah.id

Kamis, 1 September 2016 Ada Gerhana Matahari, Tapi Tidak Lewat Indonesia


Gerhana matahari merupakan salah satu dari fenomena alam terkait peredaran benda-benda langit. Seperti munculnya hilal maupun tenggelamnya mahari, semua peristiwa alam yang bersifat pasti itu bisa diprediksi kapan akan terjadi.

Gerhana matahari terjadi bilamana piringan matahari tertutup oleh bulan, jika dilihat dari bumi. Dengan kata lain, saat itu bulan berada persis di antara matahari dan bumi. Akibatnya, beberapa kawasan tertentu di muka bumi tidak terkena sinar matahari. Saat seperti itulah disebut gerhana matahari.

Piringan matahari yang tertutup oleh bulan kadang tertutup keseluruhannya, keadaan muka bumi menjadi gelap, jika langit cerah, bintang-bintang juga akan terlihat, suhu udara juga berubah dingin. Keadaan ini disebut gerhana matahari total (al-kusῡf al-kullī).
Tetapi ada kalanya piringan matahari yang tertutupi oleh bulan itu hanya sebagian. Ini dinamakan gerhana matahari sebagian (al-kusá¿¡f al-juz’Ä«).

Kadang hanya bagian tengah saja piringan matahari yang ditutupi oleh piringan bulan sehingga bagian pinggirnya atau tepi piringannya tidak tertutup. Hal itu terjadi bilamana bumi berada dalam keadaan jauh dari bulan sehingga piringan bulan nampak lebih kecil dan tidak dapat menutupi seluruh piringan matahari jika dilihat dari muka bumi.

Keadaan ini dinamakan gerhana matahari cincin (al-kusῡf al-ḥalqī) karena bagian pinggir piringan matahari yang tidak tertutupi oleh piringan bulan berbentuk lingkaran seperti cincin.
Kamis 29 Dzulqa’dah 1437 H atau 1 September 2016 M, gerhana matahari cincin dan juga gerhana sebagian akan terlihat di beberapa wilayah di bumi ini.

Sesuai hasil hisab Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah yang dimuat di kalender 2016 terbitan Suara Muhammadiyah, gerhana matahari cincin dan gerhana matahari sebagaian akan terjadi di muka bumi ini.

Gerhana matahari cincin akan melewati wilayah Samudra Atlantik, Afrika Tengah, Madagaskar, dan Laut India. Sedangkan daerah di Benua Afrika dan Samudera India akan dilewati gerhana sebagian.
Oleh karena wilayah Indonesia tidak dilewati oleh gerhana matahari cincin ataupun gerhana matahari sebagaian, maka umat Islam di Indoneia tidak disunnahkan melakukan shalat kusuf. (*)

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Selasa, 30 Agustus 2016

‘Bengkel Buya’ Merayakan Rakyat Kebanyakan


WARTAMU, YOGYAKARTA-Komik “Bengkel Buya: Belajar dari Kearifan Wong Cilik” resmi diluncurkan di aula Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (29/8). Hadir dalam kegiatan peluncuran dan bincang komik itu Ahmad Syafii Maarif yang memberikan sambutan peluncuran serta dua narasumber lainnya, Beng Rahadian selaku tim kreatif Bengkel Buya dan Wisnu Nugroho sebagai blogger, praktisi media dan Pemred Kompas.com.

Buya Syafii Maarif selama ini dikenal dengan kesederhanaan, pembawaan yang tenang, pendiriannya teguh, bicaranya lugas, serta selalu kritis terhadap hal yang mengusik keadilan dan kemanusiaan. Sehingga keberadaan komik ini diharapkan mampu menularkan inspirasi untuk semua.

Wisnu Nugraha menyatakan bahwa sekarang ini Indonesia kering inspirasi dan Buya adalah orang yang sering megingatkan orang-orang kebanyakan lewat tulisan-tulisan reflektif, yang terkesan sederhana, namun memiliki dampak besar.
“Ketika kita capek dengan kegaduhan politik, Buya hadir dalam tulisan tentang ketulusan seorang pekerja bengkel sepeda, membantu sesama tanpa mencari nama,” ungkap Wisnu.

Membaca komik ini akan membuka mata hati. Pembacanya diajak untuk mendalami makna kehidupan yang mungkin diabaikan. “Komik ini berisi tentang kisah orang kebanyakan yang dirayakan oleh Buya,” papar Wisnu, yang mengaku kerap melakukan jalan kaki dan bersepeda sebagaimana keseharian Buya.

Baca: Syafii Maarif: Guru Aisyiyah yang Dibayar Murah Lebih Berhak Masuk Surga Daripada Saya
Wisnu mengajak untuk memikirkan hal-hal sederhana di lingkungan sekitar. “Kegelisahan kita harus kita bawa ke banyak orang. Hal-hal sepele tapi punya makna,” tutur Wisnu. Perilaku Buya yang bersepeda, dianggap Wisnu merupakan perilaku orang-orang yang berpikir reflektif dan mendalam, dengan pembawaan yang tenang.

Oleh karena itu, kata Wisnu, jika ingin mewujudkan kepekaan kepada sesama, maka bisa dimulai dari sikap hening dan berpikir reflektif. “Sediakan waktu untuk hening, membantu kita untuk peka,” kata Wisnu.

Sementara itu, tim kreatif pembuatan komik yang juga hadir dalam acara itu, Bambang Tri Rahadian, mengatakan, ada lima kisah nyata yang ada di komik ini, yakni “Bengkel”, “Taksi”, “Tugimin”, “Suparmin” dan “Teknisi Kompor”. Lima kisah tersebut merupakan kumpulan tulisan Syafii Maarif di artikel opini dan esai yang diterbitkan di Harian Kompas dan Republika. (*)

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

UMM Raih AUN-QA di Wisuda ke-81



WARTAMU, MALANG - Prosesi Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-81 yang berlangsung hari ini, Sabtu (27/8) ditandai keberhasilan UMM meraih sertifikasi internasional, yaitu sebagai Associate Member of Asean University NetworkQuality Assurance (AUN-QA) tertanggal 11 Agustus 2016. AUN-QA merupakan jejaring perguruan tinggi ASEAN yang dikualifikasi berdasarkan jaminan mutu (quality assurance) regional dan internasional.

Keberhasilan tersebut disampaikan Rektor UMM Fauzan saat menyampaikan laporan kemajuan UMM dalam triwulan terakhir pada 1,312 wisudawan dan para orang tua/wali yang hadir di hall UMM Dome. Rektor mengatakan, karena akreditasi institusi tertinggi nasional telah diraih, maka saat ini fokus UMM adalah meningkatkan pengakuan internasional.

Fauzan menambahkan, sebagai sertifikasi internasional, AUN-QA mengacu pada standar akreditasi International yang disusun oleh pakar-pakar quality assurance ASEAN. Anggota AUN-QA dan prodi yang telah dinilai berdasar standar AUN, lanjutnya, mahasiswanya dapat mengikuti program kredit transfer dengan universitas-universitas anggota AUN-QA lainnya.

Rektor tak lupa memberi pesan, agar lulusan UMM mampu memainkan peran penting di tengah-tengah masyarakat lewat ilmu dan pengalaman yang didapat dari UMM. “Di samping itu, modal spritual dan juga kepercayaan masyarakat atas pendidikan yang diselenggarakan UMM turut ambil bagian dan sekaligus memberikan kontribusi yang sangat strategis kepada lulusan UMM dalam menjalankan kompetisi kualitatif di bidang masing-masing,” ujar Fauzan.

Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Prof HA Malik Fadjar MSc pada kesempatan ini turut mengajak kepada kaum terdidik, khususnya bagi seluruh sarjana untuk terus-menerus melakukan olah pikir, menatap, menganalisa, dan sekaligus melakukan gerak antisipasi sehingga mampu mewujudkan harapan-harapan setelah menuntaskan studinya di perguruan tinggi.

Bagi Malik, setiap fase tantangannya berubah-ubah. Oleh karenanya, lanjutnya, perubahan di setiap fase tersebut diperlukan kemampuan membaca tanda-tanda zaman. “Lulusan UMM bukan sekedar lulusan yang telah diwisuda membawa sebuah ijasah, tapi mampu membaca seluruh perkembangan dan mampu memainkan peranan di tengah-tengah perkembangan tersebut,” kata Ketua Badan Pembina UMM ini.

Sedangkan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI Hamid Muhammad MSc PhD dalam orasi ilmiahnya mengharapkan lulusan UMM dapat mengabdikan diri pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. “Saya yakin, lulusan universitas dengan akreditasi sangat baik seperti UMM mampu mencetak sarjana unggul yang bermanfaat bagi masyarakat, apalagi dengan pengakuan internasional yang disandangnya,” paparnya.  (Humas UMM)

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Pemuda Muhammadiyah: Pengebom Gereja Medan Jangan Sampai Mati


WARTAMU, JAKARTA - Ivan Armadi Hasugihan, pelaku pengeboman di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansur, Kota Medan, Sumatra Utara mengaku disuruh melakukan bom bunuh diri oleh orang tak dikenal.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, sebaiknya pelaku bom bunuh diri dijaga jangan sampai mati. "Pengakuannya yang menyatakan disuruh melakukan bom bunuh diri oleh orang tak dikenal itu tak masuk akal," katanya, Ahad, (28/8).

Polisi harus menjaga pelaku bom bunuh diri jangan sampai mati. Sebab perlu penyelidikan yang intensif dan penuh keterbukaan untuk mengungkap apa motinya melakukan kejahatan tersebut. "Selama ini penyelidikan kepolisian sering kurang terbuka. Masalah penyelidikan terorisme seringkali tak tuntas dan tertutup," terang Dahnil.

Tersangka pengeboman kali ini, ujar dia, harus tetap hidup. Sebab ia harus menjadi pintu masuk mengungkap siapa dalang yang  bermain dibelakang terorisme ini.(*)


sumber : http://republika.co.id

Senin, 29 Agustus 2016

Syafii Maarif: Pelaku Teror Medan Merasa Benar di Jalan yang Sesat


WARTAMU, YOGYAKARTA – Insiden percobaan bom bunuh diri di Gereja Stasi Santo Yosep, Jalan Doktor Mansyur Nomor 75, Padang Bulan, Kota Medan menjadi keprihatinan banyak kalangan. Terlebih, pelaku percobaan bom bunuh diri tersebut masih berusia belia. Remaja berinisial IAH‎ (18)‎ melakukan percobaan bunuh diri dengan bom saat jemaat di gereja itu tengah melakukan kebaktian minggu.

Namun karena bom yang dibawanya gagal meledak, IAH kemudian menyerang‎ pastor Albert Pandingan yang tengah memberikan khotbah. Akibatnya pastor Albert mengalami luka tusukan di tangannya. Sementara pelaku ditangkap para jemaat dan langsung dipukuli hingga babak belur.

Menyikapi hal itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 1998-2005, Ahmad Syafii Ma’arif mengaku prihatin dengan doktrin yang mengajarkan tindakan teror seperti itu.

“Mereka itu merasa benar di jalan yang sesat,” kata Buya Syafii seusai peluncuran buku komik esai berjudul “Bengkel Buya; Belajar dari Kearifan Wong Cilik” di Aula Madrasah Mualimin Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin, 29 Agustus 2016.

“Pelakunya masih muda, yang jadi pengantin belasan tahun karena dicuci otaknya luar biasa,” kata Syafii Maarif. Istilah “pengantin” sering digemborkan di kalangan teroris sebagai doktrin bahwa setelah melakukan bom bunuh diri, mereka bagaikan pengantin baru yang akan segera disambut oleh para bidadari di surga, sebagai balasan atas pengorbanan mati syahid.

Bagi Buya, perilaku biadab itu sangat menampar rasa kemanusiaan dan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. “Karena mereka putus asa, enggak punya harapan hidup. Lebih baik mati dengan banyak bidadari. Itu palsu semua,” ujar Buya Syafii. Parahnya mereka merasa benar dengan cara-cara terorisme itu.

Buya Syafii menegaskan bahwa aksi terorisme menggunakan bom bunuh diri hanya dilakukan oleh kelompok yang menganut teologi maut yang hanya akan merusak citra Islam. Tindakan itu bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang diajarkan Islam sebagai agama yang damai dan harusnya menjadi rahmatan lil ‘alamin.

“Teologi maut itu filsafat berani mati, tapi tak berani hidup,” kata Buya Syafii dalam acara peluncuran Komik Bengkel Buya yang diselenggarakan oleh Maarif Institute bekerjasama dengan Madrasah Muallimin Muhammadiyah sebagai rangkaian dari mensyukuri 80 tahun Ahmad Syafii Maarif. (*)
sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Puluhan Warga Kedungmlati Kesamben Demo Tolak Penggusuran untuk Jalan Tol Jombang-Mojokerto




WARTAMU, JOMBANG - Puluhan warga Desa Kedungmlati Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang menggelar aksi Demo Menolak penggusuran rumah yang akan dibangun jalan Tol Jombang Mojokerto didepan Pengadilan Negeri Jombang.

Masyarakat menilai BPN dan PPK melakukan penggusuran tanpa Musyawarah, Transparan dan Akuntable.

“Kami tidak diberitau tentang penggusuran rumah, dan kami tidak mendapatkan surat instruksi untuk mengosongkan rumah. Namun kami mendapatkan bocoran dari Kepala Desa yaitu surat eksekusi penggusuran dari Pengadilan Negeri Kabupaten Jombang,” ujar Dentok (41) salah satu warga Desa Kedungmlati, Selasa (30/08/2016).

 Dentok menambahkan, tuntutan kami yaitu pertama administrasinya tolong dilakukan secara benar, mulai dari musyawarah, dan melakukan pengukuran yang benar. Yang kedua masalah harga kami minta harga per meter, kami menawarkan harga tanah sawah Rp. 1.100.000/meter untuk tanah darat Rp. 3.500.000/meter tetapi sementara ini yang turun masih seharga Rp. 50.000/meter,” Imbuhnya.

Aksi masa dua desa tersebut berlangsung damai, hingga berita ini diturunkan masih terjadi perundingan antara pihak Pengadilan Negeri Kabupaten Jombang dengan warga Desa Kedungmlati.(*)

Prof Mahfud MD pun Kejebak Banjir Jakarta


JAKARTA, wartamu.com,- Hujan deras akhir pekan lalu di Jakarta juga menjebak Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr Mahfud MD. Mesin mobil Mahfud MD tiba-tiba mati karena terendam banjir di Ragunan Jakarta Selatan.
Banjir ternyata nggak milih-milih, mobil siapapun akan terkena jika menghadangnya. Ini disadari betul oleh Mahfud MD. “Memangnya banjir tahu siapa yang guru besar atau guru kecil, siapa ketua MK dan ketua PKK? Banjir mah tak pilih-pilih orang,” katanya menghibur diri.
“Desss, mati begitu saja,” cerita Mahfud MD, Ahad (28/8/16). Kejadiannya sore hari, sehari sebelumnya.
Untuk meneruskan perjalanan, menurut Mahfud, ia terpaksa pinjam mobil dan mobil ditinggal di jalan. “Saya tak tahu apanya yang rusak. Yang tahu nanti bengkel,” katanya.
Mobilnya sendiri, menurut Mahfud, didorong ramai-ramai oleh orang-orang kampung. Kemudian dititipkan di depan toko Laundry. “Tapi, ya harus turun mesin,” kata Mahfud.
Kalau dibilang rugi ya rugi. Selain harus membengkelkan mobilnya juga harus menyewa mobil untuk memperlancar kegiatannya di Jakarta. “Saya harus bayar, harus menyewa mobil harian, dan agenda-agenda lain jadi terhambat,” kata Mahfud.
Meski rugi, semua memang harus ditanggung sendiri. “Wah, masak mobil saya terendam banjir saya harus minta tanggungjawab pada pengembang. Bagaimana caranya? Ya, saya tanggung sendiri,” kata Mahfud.
Macetnya mobil, menurut Mahfud, juga bukan salah siapa-siapa. “Bukan salah saya, bukan salah Ahok. Itu yang salah sopir. Sopir kalau disalahkan, kan, kan tak bisa apa-apa,” guraunya.
Peristiwa ini terus mengingatkannya pada kata-kata Gus Dur. “Saya jadi Presiden tak pernah ketemu banjir”, kata Gus Dur dulu. Haha ya lah Gus. Presiden kan dilewatkan di jalan yg tak banjir dan tak macet. (*)

Sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Muhammadiyah Desak Jokowi Hapuskan Remisi Bagi Koruptor

ilustrasi - sumber waspada.co.id

Majelis Hukum dan Hak Asasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendesak Presiden Joko Widodo menghapus legalisasi pemberian remisi terhadap terpidana korupsi. Desakan itu mencuat sebagai salah satu rekomendasi hasil rapat kerja nasional yang berlangsung pada 26-28 Agustus 2016 di Yogyakarta.

“Kami meminta pemerintah tegas dalam memberantas korupsi dengan tidak memberikan remisi kepada terpidana korupsi,” ujar Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Saiful Bahri, Ahad, 28 Agustus 2016.

Saiful menambahkan, perserikatan Muhammadiyah sudah bersepakat, pelaku tindak pidana korupsi tak layak diberikan remisi, meski hal itu diatur undang-undang.

Remisi selama ini dimungkinkan diberikan sesuai dengan undang-undang jika terpidana korupsi melakukan hal yang dianggap baik selama di lembaga pemasyarakatan. Namun kelakuan baik itu hanya dalam penjara saja. “Tidak ada yang bisa dinilai atau diukur (tentang perilaku baik terpidana korupsi). Remisi ini berbanding terbalik dengan kejahatan yang sudah dilakukan,” ujar Saiful.

Saiful menuturkan, akibat remisi untuk terpidana korupsi diberikan, pemerintahan Jokowi mulai dipandang inkonsisten dengan janji-janji yang diberikan kepada masyarakat.

“Dulu, saat awal (Jokowi) memimpin, katanya akan tegas dengan kasus korupsi. Namun, kenyataannya, tidak demikian, sehingga rekomendasi penghapusan remisi ini kami buat,” ujar Saiful.
Dalam penutupan rapat kerja nasional, mereka menyayangkan adanya sejumlah koruptor kelas kakap yang mendapatkan remisi pada saat peringatan hari kemerdekaan kemarin.(*)

sumber : http://sangpencerah.id

Muhammadiyah Harus Antisipasi Maraknya Penganut “Syekh Google”


SUKOHARJO, wartamu.com– Persyarikatan Muhammadiyah dituntut untuk bisa memberikan solusi atas fenomena bermunculannya para penganut “Syekh Google” yang cenderung mencari kebenaran agama hanya lewat informasi internet.

Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sofyan Anif menjelaskan, fenomena yang disebut dengan cyber religion tersebut muncul beriringan dengan kemudahan setiap orang untuk mengakses situs-situs informasi lewat ponsel pintar.

“Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah, bersinergi dengan Majelis Tabligh maupun Tarjih harus membangun sebuah sistem untuk mengantisipasi adanya cyber religion dan para penganut Syekh Google tersebut,” jelas Sofyan saat pembukaan workshop pengelolaan website, database dan jurnalistik media yang diselenggarakan di Aula Fakultas Kedokteran UMS, Jumat (26/8).

Menurutnya, konten-konten ajaran Muhammadiyah yang tersebar di situs-situs pencarian dunia maya cukup minim. Karena itu, lanjut dia, MPI punya tugas untuk membangun sistem informasi yang disinergikan dengan Majelis Tabligh dan Tarjih untuk memperluas jangkauan ajaran Muhammadiyah.
Sofyan menyebutkan bahwa pernah ada kejadian, pelatihan tentang tata cara shalat khusyuk yang diselenggarakan oleh kader Muhammadiyah, sang narasumber justru mendapatkan ilmunya dari situs ajaran Syiah yang dicari lewat google. Itu menandakan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) PP Muhammadiyah belum terpublikasikan dengan baik.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua MPI PP Muhammadiyah, Muchlas mengemukakan, sistem berbasis teknologi informasi mutlak diperlukan untuk meningkatkan kinerja organisasi.

“Muhammadiyah adalah organisasi yang besar dan terus berkembang. Karena itu harus dikelola secara modern. MPI sudah mulai merumuskan sistem tersebut sejak sepuluh tahun lalu,” ujarnya.
Menurut Muchlas, dalam kaitannya dengan itu, ada tiga kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Yaitu konten untuk mengaktifkan lebih dari 500 subdomain website dari tingkatan pusat, wilayah, daerah hingga berbagai majelis dan lembaga, database yang akurat, dan jurnalisme warga untuk menyosialisasikan berbagai kegiatan persyarikatan.
 sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Majelis Berkemajuan


Oleh; Prof Dr H Dadang Kahmad

Wartamu.com Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang lalu, Muhammadiyah mengusung tema “Gerakan Pencerahan menuju Indonesia Berkemajuan”. Tema tersebut sangat relevan dengan situasi masa kini dan senapas dengan misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah di abad kedua. Melalui tema tersebut, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjadikan pandangan Islam berkemajuan sebagai sumber inspirasi dalam mencerahkan umat, bangsa, dan masyarakat manusia seluruhnya.

Dengan gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam gerakan dakwah dan tajdid untuk menghadirkan Islam jalan tengah (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat dan martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Komitmen Muhammadiyah tersebut menunjukkan karakter gerakan Islam yang dinamis dan progresif dalam menjawab tantangan zaman, tanpa harus kehilangan identitas dan karakter Islam sebagai agama ilahi.

Oleh karena itu, semua Majelis  dan Lembaga pasca Muktamar ke-47 itu, harus menjadi Majelis berkemajuan, yaitu Majelis yang dinamis, mandiri, produktif, dan proaktif sesuai prinsip dan kepribadiannya sebagai bagian dari Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam bermisi dakwah dan tajdid.

Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah ke depan sangatlah kompleks dan berat. Dunia semakin tidak menentu, sebagaimana yang digambarkan Anthony Gidden, dunia yang lari tanpa kendali, atau seperti yang disebutkan oleh Friedman sudah datar, panas dan krodid. Yang merupakan efek dari globalisasi. Penggunaan alat komunikasi yang luar biasa. Kemajuan dalam teknologi informasi yang sangat pesat itu menyebabkan dunia ini seolah datar, karena tidak ada lagi jarak maupun ruang waktu yang menyebabkan suatu tempat terisolir maupun tertutup dari informasi.

Karenanya, Majelis di lingkungan Muhammadiyah sudah saatnya bangkit dengan melakukan langkah-langkah praksis dan strategis yang membawa pengaruh signifikan bagi kemajuan Muhammadiyah khususnya dan umat Islam secara keseluruhan. Bagi kita pengurus Majelis, berbagai masalah yang dihadapi akan diolah menjadi tantangan dan peluang untuk dimanfaatkan dalam berdakwah amar makruf nahi munkar melalui media Pustaka dan Informasi.

Dalam menjalankan langkah strategis ke depan yang berat dan penuh tantangan itu, saya ingin Majelis menghadapainya dengan penuh tanggungjawab. Semua Pimpinan Majelis  dari Pusat, Wilayah sampai ke Daerah harus bergerak secara optimal, sehingga menjadi kekuatan gerakan yang maju dan unggul dan hasilnya dapat dilihat dan terukur.

Karenanya, marilah kita gelorakan semangat Majelis sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Idul Adha Tahun ini Jatuh Pada Hari Apa?


Revitalisasi Karakter Bangsa


Oleh; Siti Noordjannah Djohantini

Rumusan revitalisasi karakter bangsa sudah dibukukan Muhammadiyah. Satu buku Revitalisasi dan Karakter Bangsa, yaitu hasil dari Tanwir Muhammadiyah di Lampung. Berikutnya dilanjutkan dan lahir buku Indonesia Berkemajuan hasil Muktamar Yogyakarta. Karena itu penting menengok kembali putusan-putusan konsep Muhammadiyah terkait budaya tersebut.

Kaitanya dengan peran ‘Aisyiyah dalam membangun karakter dan budaya bangsa, sebenarnya sumbangsih terbesarnya melalui lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK). Hal ini pernah dijelaskan oleh Prof Muhadjir beberapa waktu lalu. Karena memang salah satu kekuatan terbesar persyarikatan Muhammadiyah adalah pendidikan, dan PAUD bersama TK ‘Aisyiyah dirasa lebih berperan dalam membangun karakter bangsa di banding lembaga pendidikan lainya.

Salah satu karakter yang ingin dibangun Muhammadiyah adalah karakter Indonesia berkemajuan yang merupakan aktualisasi dari Islam berkemajuan. Islam berkemajuan menjadi pandangan, paradigma Muhammadiyah dalam tiap langkah geraknya. Maka tidak perlu pandangan itu dibenturkan dengan pandangan lain yang berbeda. Cukuplah nilai dan karakter yang bersumber dari Islam itu benar-benar bisa diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai itu beragam bentuknya ada keadilan, kebaikan, kedamaian, kemakmuran, dan kemaslahatan. Namun lebih prioritas dari itu semua adalah karakter keutamaan hidup secara dinamis. Yaitu berusaha menampilkan spiritualitas yang dimiliki, yang diyakini menjadi spiritualitas yang dinamis tidak ajeg. Dari keshalihan individu menjadi keshalihan sosial. Artinya tidak sebatas menjadi orang baik yang taat pada nilai spiritual itu, namun lebih dari itu perbuatan baik itu bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi ideologi Muhammadiyah selama ini.

Islam juga yang menggerakkan misi anti peperangan, anti terorisme, dan anti kekerasan dalam bentuk apaun. Entah itu dalam keluarga, kehidupan sosial bermasyarakat, antar agama dalam bentuk penistaan. Pada saat bersamaan nilai itu menjunjung tinggi kemuliaan laki-laki dan perempuan. Karena kesetaraan laki-laki dan perempuan harus menjadi pandangan dan selama ini Muhammadiyah sudah melakukan itu. Karakter ini penting agar ke depan tidak ada lagi kasus diskriminasi perempuan dalam kehidupan bernegara. Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan media yang menayangkan berbagai kasus kejahatan yang korbannya adalah perempuan. Kasus ini bagai gunung es, yang mencuat ke permukaan adalah sebagian kecil saja. Padahal Al-Qur’an sendiri memberikan tempat yang sama antara perempuan dan laki-laki. Semua manusia di hadapan Allah sama, yang membedakan hanya ketakwaannya.

Dengan semangat mengangkat derajat wanita sama dengan derajat laki-laki inilah pula yang menjadi salah satu alasan dinobatkannya KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah sebagai pahlawan nasional.

Agar lebih menguatkan dan memudahkan implementasi nilai-nilai itu, lebih utama kita sebagai orang Indonesia merubah sifat-sifat buruk seperti suka mencela dan korupsi yang dampaknya luar biasa terhadap maju tidaknya bangsa. Bahkan sifat-sifat dan karakter seperti itu cenderung melemahkan diri sendiri maupun melemahkan secara kolektif dalam kehidupan berbangsa. Bukan berarti tidak mencela dan tidak mencemooh itu artinya pasif, sikap kritis tetap harus dipertahankan, yang dihilangkan adalah kebiasaan mengolok-olok orang lain.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Muhammadiyah Siapkan Solusi Atas Blunder Tax Amnesty


YOGYAKARTA. wartamu.com -Pelaksanaan Undang-Undang pengampunan pajak (UU tax amnesty) yang saat ini tengah dijalankan oleh pemerintah ternyata lebih berhasil menciptakan kegaduhan dan keresahan masyarakat daripada mengembalikan dana yang diparkir di luar negeri.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, kegaduhan ini terjadi karena watak hukum dari kebijakan undang-undang tax amesty itu tidak jelas.

Saat menutup rakernas Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, 25 Zulqa’dah 1437 H yang lalu, mantan ketua KPK ini menyatakan kalau watak hukum dari kebijakan undang-undang tax amesty itu harus jelas terlebih dahulu. Begitu pula dengan arah hukumnya.
Watak dan arah UU itu seharusnya bisa merumuskan nilai-nilai dalam UUD 1945, terutama dalam pasal-pasal yang erat dengan demokrasi dan HAM.

Seperti kita tahu, sasaran dari tax amnesty juga terasa semakin tidak jelas, bahkan dapat dikatakan berubah arah. Tujuan semula adalah untuk menarik dana para konglomerat yang selama ini diparkir di luar negeri. Di banyak kesempatan presiden mengaku sudah tahu pemarkir dan jumlah dana itu. Namun, entah karena mengejar target pemasukan dana yang ternyata seret itu, atau sebab lain, kini sasaran TA berubah kepada semua kalangan.
Akibatnya, masyarakat umum juga dijadikan sasaran UU ini. Inilah yang kemudian menimbulkan keresahan yang tersebar di berbagai media sosial. Untuk itu Busyro menyatakan agar ada evaluasi sasaran UU ini.

“Sasarannya harus dievaluasi juga, jangan sampai justru masyarakat kecil terkena dampaknya. Tax amnesty ini sebenarnya ditujukan untuk orang yang mengalami problem dalam kewajiban pajak, dan orang ini hanya beberapa gelintir saja. Uangnya pun diparkir di luar negeri. Tapi semua masyarakat terkena imbasnya dan ini membuat gaduh” kata Busyro.
Keresahan dan kegaduhan seperti ini seharusnya sudah dipikirkan oleh pembuat UU. Hal ini sebenarnya juga bisa diantispasi kalau ada kajian akademik yang serius sebelumnya. Hanya saja, menurut Busyro, naskah akademik UU Pengampunan Pajak ini tidak pernah dikemukakan secara jelas ke publik terutama kalangan akademis.

“Muhammadiyah mempunyai lebih dari 160 perguruan tinggi, tidak ada satupun dari perguruan tinggi itu yang dilibatkan dalam kajian akademik UU itu”, tegasnya. Oleh karenanya masyarakat tidak bisa melakukan pengkritisan atas naskah tersebut.

“UU ini bentuknya top down, kebijakan negara nalar hukumnya ditaruh di bawah kepentingan politik. Ini merusak sistem negara hukum,” ujarnya.
Menurut Busyro, saat ini pemerintahan Jokow-JK telah melakukan blunder terkait tax amnesty ini, PP PP Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa akan memberikan solusi atas blunder pemerintah ini.

Salah satu dari solusi yang bisa ditempuh adalah dengan mengadakan judicial review pada seluruh UU yang tidak benar ini. Yang di dalam Muhammadiyah dikenal sebagai jihad konstitusi.
Sampai saat ini, Muhammadiyah telah berhasil membatalkan beberapa UU yang menyelisihi UUD 45 dan Pancasila. Antara lain UU Minerba, UU Ormas, UU Rumah sakit, UU Sumber Daya Air, UU Ketenagalistrikan, serta UU Migas.

Selain mengkritisi masalah tax amnesty, rakernas MHH yang digelar tanggal 23-25 Dzulq’adah 1437 H di Islamic center kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan itu juga memberi sejumlah rekomendasi. Di antaranya mendesak MPR, DPR, Parpol serta segenap kekuatan politik lainnya memperhatikan aspek keadilan sosial dalam merencanakan penyusunan kembali GBHN.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Minggu, 28 Agustus 2016

Kabid PIP PR IPM Mu'allimaat Peserta Student Exchange ke China


Yogyakarta - 18 Agustus lalu, salah seorang siswi kelas XI Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Oase Aulia Amjad berangkat ke Beijing China. Rupanya, Ketua Bidang PIP PR IPM Madrasah Mu’allimaat tersebut menjadi salah satu peserta program pertukaran pelajar selama 1 tahun yang diselenggarakan AFS. Oase menjadi satu diantara 140 pelajar Indonesia dengan 26 negara tujuan pertukaran pelajar.

Oase berhasil lolos menjadi peserta setelah mengikuti proses seleksi yang cukup panjang dan melelahkan, terbagi dalam 3 tahap, mengalahkan 6000 lebih pendaftar dari seluruh Indonesia. Tahap seleksi daerah yang dilaksanakan 2x dan diikuti lebih dari 500 peserta. Kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi nasional dan seleksi berkas. Ditambah lagi dengan masa menunggu kepastian penempatan negara tujuan yang mencapai 4 bulan membuat tekanan semakin terasa besar.

Setelah dari Beijing, Oase ditempatkan di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang. Di kota tersebut ia akan bertemu dengan keluarga baru, teman-teman baru, dan aktivitas sekolah yang baru pula. Ketika ditanya bagaimana perasaannya menjadi peserta pertukaran pelajar, Oase berujar “Saya sangat bersyukur bisa dalam posisi ini (peserta pertukaran pelajar), karena bagi saya menjadi peserta pertukaran pelajar adalah bagian yang sangat penting dalam proses pendewasaan dan berperan memperkaya pengalaman saya.”

Oase menjadi satu-satunya pelajar perempuan muslim yang menjalani program pertukaran pelajar di Kota Harbin, sangat sedikit dibanding 20 peserta lain di kota tersebut. Bahkan Oase hanya 1 dari 2 pelajar perempuan muslim yang ditempatkan di China. Memang, pada masa-masa awal, Oase merasa tertekan dengan keadaan masyarakat Kota Harbin yang mayoritas atheis. Namun, setelah penyesuaian, dengan semangat tinggi Oase mengatakan, “Saya menjejakkan kaki di negara orang bukan hanya atas nama diri saya pribadi, namun juga atas nama Bangsa Indonesia, bahkan juga atas nama agama saya (Islam). Saya berharap dalam setahun kedepan saya berhasil menjadi duta yang baik bagi negara, agama, dan kemanusiaan. Sehingga seselesainya saya hidup di China, saya mampu menyerap apa yang baik dan memberikan pengaruh yang sangat baik bagi siapapun di sekitar saya.”(*)

Source : ipm.or.id

Yogyakarta - 18 Agustus lalu, salah seorang siswi kelas XI Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Oase Aulia Amjad berangkat ke Beijing China. Rupanya, Ketua Bidang PIP PR IPM Madrasah Mu’allimaat tersebut menjadi salah satu peserta program pertukaran pelajar selama 1 tahun yang diselenggarakan AFS. Oase menjadi satu diantara 140 pelajar Indonesia dengan 26 negara tujuan pertukaran pelajar.
Oase berhasil lolos menjadi peserta setelah mengikuti proses seleksi yang cukup panjang dan melelahkan, terbagi dalam 3 tahap, mengalahkan 6000 lebih pendaftar dari seluruh Indonesia. Tahap seleksi daerah yang dilaksanakan 2x dan diikuti lebih dari 500 peserta. Kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi nasional dan seleksi berkas. Ditambah lagi dengan masa menunggu kepastian penempatan negara tujuan yang mencapai 4 bulan membuat tekanan semakin terasa besar.
- See more at: http://www.ipm.or.id/2016/08/kabid-pip-pr-ipm-muallimaat-peserta.html#sthash.fNfvxGCx.dpuf
Yogyakarta - 18 Agustus lalu, salah seorang siswi kelas XI Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Oase Aulia Amjad berangkat ke Beijing China. Rupanya, Ketua Bidang PIP PR IPM Madrasah Mu’allimaat tersebut menjadi salah satu peserta program pertukaran pelajar selama 1 tahun yang diselenggarakan AFS. Oase menjadi satu diantara 140 pelajar Indonesia dengan 26 negara tujuan pertukaran pelajar.
Oase berhasil lolos menjadi peserta setelah mengikuti proses seleksi yang cukup panjang dan melelahkan, terbagi dalam 3 tahap, mengalahkan 6000 lebih pendaftar dari seluruh Indonesia. Tahap seleksi daerah yang dilaksanakan 2x dan diikuti lebih dari 500 peserta. Kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi nasional dan seleksi berkas. Ditambah lagi dengan masa menunggu kepastian penempatan negara tujuan yang mencapai 4 bulan membuat tekanan semakin terasa besar.
- See more at: http://www.ipm.or.id/2016/08/kabid-pip-pr-ipm-muallimaat-peserta.html#sthash.fNfvxGCx.dpuf
Yogyakarta - 18 Agustus lalu, salah seorang siswi kelas XI Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Oase Aulia Amjad berangkat ke Beijing China. Rupanya, Ketua Bidang PIP PR IPM Madrasah Mu’allimaat tersebut menjadi salah satu peserta program pertukaran pelajar selama 1 tahun yang diselenggarakan AFS. Oase menjadi satu diantara 140 pelajar Indonesia dengan 26 negara tujuan pertukaran pelajar.
Oase berhasil lolos menjadi peserta setelah mengikuti proses seleksi yang cukup panjang dan melelahkan, terbagi dalam 3 tahap, mengalahkan 6000 lebih pendaftar dari seluruh Indonesia. Tahap seleksi daerah yang dilaksanakan 2x dan diikuti lebih dari 500 peserta. Kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi nasional dan seleksi berkas. Ditambah lagi dengan masa menunggu kepastian penempatan negara tujuan yang mencapai 4 bulan membuat tekanan semakin terasa besar.
- See more at: http://www.ipm.or.id/2016/08/kabid-pip-pr-ipm-muallimaat-peserta.html#sthash.fNfvxGCx.dpuf