Tampilkan postingan dengan label Persyarikatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persyarikatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2016

Piala Kemenangan Aksioma dari MIM 3 Jogoroto




Wartamu, Jombang - Setelah bulan oktober kemarin sukses menjadi juara di Festifal Anak Sholeh Indonesi (FASI) XI Jombang, siswa-siswi MI Muhammadiyah 03 (MIM 3) Jogoroto kembali membawa pulang piala kemenangan di Ajang Kompetisi Seni dan Olah Raga Madrasah


(AKSIOMA) Kabupaten Jombang (22/11/2016)

3 siswa MI Muhammadiyah 03 Jogoroto menjadi peserta lomba sebagai wakil dari kecamatan Jogoroto. Berbekal juara 1 tingkat Kecamatan, mereka dengan gigih mempersiapkan dan telah berlatih sejak 1 bulan lalu.

Bertanding dengan puluhan peserta perwakilan Madrasah Ibtidaiyah dari penjuru Kabupaten Jombang, siswa MIM 3 ini mampu menjadi yang terunggul dari lainnya. Abdul Aziz Nur (V) menjadi Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia putra, Haidar Nazar Nashir (IV) sebagai Juara 1 Tenis Meja Putra dan Naila Imroatuz Zakiyah (III) Juara Harapan 2 Pidato Bahasa Inggris Putri.

Haidar dan Aan akan kembali berjuang Bulan Februari mendatang, mereka akan mewakili Kabupaten Jombang dalam ajang yang sama di Tingkat Provinsi Jawa Timur. Do’a kita bersama semoga mereka sukses berprestasi kembali dan mampu membawa harum nama Pelajar Muhammadiyah. (Imam/Galih)

Senin, 17 Oktober 2016

Bangga !!! Siswa SDLB Muhammadiyah Raih Juara ke 3 MTQ Kabupaten Jombang


WARTAMU, JOMBANG - Siswa SD Luar Biasa Muhammadiyah (SDLBM) Jombang berhasil meraih Juara ke 3 MTQ Tingkat Kabupaten Jombang yang diselenggarakan di Masjid Baitul Mukminin Jombang (14/10/2016).

Sofwan Jauharuddin Hasan, siswa kelas 3 SDLB Muhammadiyah Jombang meraih juara ke  3 lomba MTQ tingkat Kabupaten.

Sri Endahyati selaku Kepala SDLB Muhammadiyah Jombang menjelaskan sebelumnya Sofwan mengikuti perlombaan MTQ di tingkat Kecamatan Jombang.

"Tentang Sofwan atau Aan panggilan akrapnya dia bakat dibidang seni sehingga bagaimana bakat ini bisa diwujutkan, kami harus memfasilitasi baik dengan sarana maupun tenaga pengajarnya. Kita hadirkan guru musik dan kita siapkan keyboard untuk latihan bahkan kami bawai alat untuk belajar di rumah, sehingga sewaktu waktu ada  lomba anak sudah siap."Ucap Sri.

Sri mengaku bahwa surat undangan untuk mengikuti perlombaan diterima sekolah sehari sebelum hari perlombaan.

"Untuk keg MTQ kemarin memang surat baru kami terima sehari sebelum lomba, tapi kami optimis Aan bisa, karena surat yang dibaca tidak ditentukan, Aan saya suruh ambil surat Al Ma'un, suratnya pendek dan Aan sudah hafal karena besok sudah tampil di Kecamatan Jombang. Dan Alhamdulillah mendapatkan juara sehingga lanjut ke tingkat Kabupaten yang pelaksanaannya tadi malam," jelas Sri (14/10/16)


Sofwan pernah mewakili Kabupaten Jombang ke Provinsi dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN).


"Itu semua berkat dukungan Orangtua dan saya juga Termotivasi waktu ada pengajian akbar 'Aisyiyah di Masjid Al Akbar Surabaya yang dihadiri oleh Prof. Din Syamsuddin  yang dimana pemembaca ayat suci Al Quran adalah siswa SLB A'isyiyah Ponorogo kebetulan juga tunanetra."Imbuh Sri.

SDLB Muhammadiyah Jombang hanya memfasilitasi, dan memotivasi Sofwan agar tetap percaya diri dalam perlombaannya. Tentunya juga memberikan Apresisasi untuk Sofwan agar tetap semangat dalam belajar.

"Kemarin itu sudah saya tanya kalau Aan nanti juara 1 minta apa? Jawabnya pingin naik kereta api, dan yang lebih penting lagi anak bisa percaya diri, walaupun mereka berkebutuhan khusus tapi masih bisa berkopetisi dengan yang lain."Pungkas Sri.(*)

Sabtu, 24 September 2016

Eksistensi Dakwah Muhammadiyah Pakistan

 
WARTAMU, PAKISTAN - Gelora dakwah Muhammadiyah kian terasa hingga ke berbagai negara-negara, salah satunya yaitu di negara Pakistan. Muhammadiyah Pakistan menjadi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) setelah mendapatkan pembaharuan Surat Keputusan (SK) resmi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah bernomor 166/KEP/1.0/D/2016.

Gagasan pertama dibentuknya cabang Muhammadiyah di Pakistan berawal dari mahasiswa Islamabad. Institusi pendidikan yang banyak diminati oleh mahasiswa asal Indonesia terdapat di tiga kota, yaitu Islamabad, Lahore, dan Karachi.

Seperti dijelaskan oleh Heri Purwanto Siddiq, Ketua PCIM Pakistan pada Kamis (22/9) sejarah PCIM Pakistan bermula dari diskusi beberapa mahasiswa senior yang memiliki latar belakang keluarga Muhammadiyah di kampus International Islamic University Islamabad (IIUI).

Sampai akhirnya terbentuklah komunitas keluarga Muhammadiyah sekitar akhir tahun 2007. Pada akhir tahun itu, didirikan Ikatan Keluarga Muhammadiyah(IKM) oleh Nur Rahim Yunus M.Phill, Ihsanuddin M.Phill, dan Hamdan Maghribi M.Phill. Perkumpulan ini terus berjalan dengan diisi diskusi-diskusi keilmuan yang merupakan hobi para mahasiswa saat itu.

"Sampai akhirnya diusulkan agar IKM diajukan ke Pimpinan Pusat agar menjadi pimpinan cabang istimewa yang resmi. Dan pada tahun 2009 IKM berubah nama menjadi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Pakistan setelah mendapatkan SK resmi dari PP. Muhammadiyah, dan diketuai oleh Hamdan Maghribi M.Phill. saat itu," tutur Heri.

Seiring berjalannya waktu, PCIM Pakistan terus menghubungi mahasiswa-mahasiswa di kampus IIUI yang memiliki latar belakang Muhammadiyah untuk bergabung menjadi anggota. Sedangkan kegiatan mingguan yang kerap diselenggarakan PCIM Pakistan yaitu terkait dengan diskusi-diskusi keilmuan.

"PCIM Pakistan memiliki program rutin setiap Selasa sore dengan mengadakan diskusi keilmuan tentang masalah-masalah agama kontemporer, kajian ke-Muhammadiyahan, hadits, dan tugas karya ilmiah," tutur Heri.

Sehingga diharapkan nantinya anggota PCIM Pakistan memilki peranan penting ditengah permasalahan umat islam yang semakin banyak di zaman ini. "Selain itu, anggota PCIM Pakistan yang berasal dari berbagi daerah di Indonesia, sehingga secara tidak langsung telah mendapatkan amanat dari umat Islam di Indonesia untuk dapat menyebarkan dakwah Islam ke Pakistan, dan dakwah Muhammadiyah khususnya," tutup Heri.

sumber : http://muhammadiyah.or.id

Ketua Muhammadiyah Jombang, Semua Cabang Akan Aktif


WARTAMU, JOMBANG - Dalam muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar, dicanangkan tiga pilar kebangkitan Muhammadiyah di abad kedua, tiga Pilar itu meliputi Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi.

Pasca dilaksanakannya Musyawarah Daerah (Musyda) ke 10 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jombang, merupakan momentum untuk berbenah dalam segi pimpinan dan juga dalam menghadapi berbagai tantangan di Kabupaten Jombang.

Hal tesebut disampaikan oleh Ir. H. Abdul Malik, MP. Selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jombang, dalam sambutan Rapat Bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM)  sekaligus penyerahan Surat Keputusan untuk PCM se-Kabupaten Jombang di aula PDM Jombang.


Ada beberapa program yang akan kita laksanakan agar cabang dapat selalu aktif, pertama program Majelis Tabligh dan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) PDM dengan melakukan Turba ke setiap PCM di Kabupaten Jombang.


Pimpinan Daerah memiliki program unggulan yakni di bidang kesehatan di setiap PCM akan ada klinik kesehatan, dan juga dibidang ekonomi yaitu dengan adanya Kantor Kas Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) Surya Amanah di setiap PCM.

Dengan adanya beberapa program dari Pimpinan Daerah, diharapkan Syiar Muhammadiyah di semua Cabang dapat terlaksana, sehingga  Dakwah Pencerahan Menuju Jombang Sejahterah dapat terealisasikan.



Jumat, 16 September 2016

Perolehan Hewan Qurban Lazismu Jombang


WARTAMU, Jombang - Lembaga Amil Zakat Nasional (Lazismu) Muhammadiyah Kabupaten Jombang melaporkan jumlah hewan Qurban yang disalurkan.

Dari data yang didapat, Lazismu menyalurkan sejumlah 109 Ekor Sapi, dan 527 Ekor Kambing, dengan total 636 Ekor Hewan Qurban.
Berikut detail Perolehannya



Pengumpulan Kurban Lazismu Tahun Ini Pecahkan Rekor MURI yang Juga Rekor Lazismu


WARTAMU, Jakarta - Lembaga Amil Zakat Nasional (Lazismu) mencatat jumlah pekurban yang ada dalam Tabulasi Qurban Nasional Lazismu pada 2016 atau 1437 H ini yaitu mencapai 116.618 ribu orang. Selain itu, penerima manfaat dari kurban adalah sekitar 3.148.686 kepala keluarga.

“Target tahun ini Alhamdulillah tercapai dan memecahkan rekor 2012 atas nama Lazismu,” ujar Direktur Eksekutif Lazismu, Andar Nubowo, Kamis (15/9). Ia mengatakan, jika dirupiahkan, total nilai ekonomi dari kurban tersebut mencapai Rp 246.968.000.000. Demikian hasil tabulasi kurban nasional sampai dengan pukul 18.00 wib hari ini.

Andar menjelaskankan, Lazismu menyalurkan kurban hingga ke pelosok negeri yang tergolong 3 T yakni Terdalam, Terluar, dan Tertinggal. Penyaluran kurban yang dilakukan oleh lembaga filantropi Muhammadiyah ini, dimulai dari Provinsi Aceh hingga Provinsi Papua melalui kantor perwakilan dan kantor layanan unit Lazismu yang tersebar di Indonesia.

Lazismu bersama berbagai komunitas juga, dalam momen ini, mengadakan kurban khusus di wilayah Indonesia Timur seperti di Papua dan Nusa Tenggara Barat. Lebih lanjut, daging hewan kurban pun, kata Andar, disalurkan kepada masyarakat yang memang jarang merasakan daging kurban.

“Masyarakat semakin percaya dengan Lazismu,” kata dia mengapresiasi pekurban yang menyalurkan kurbannya melalui Lazismu. Bahkan, menurut Andar, kali ini, dari data yang ada, pekurban di Lazismu telah memecahkan rekor Muri.

Kemudian, Andar juga mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Indonesia yang telah berbagi dengan pemanfaat kurban melalui Lazismu untuk berkurban menunaikan ibadahnya. Sebab, dari program yang dilaksanakan Lazismu ini, menunjukkan program-program Lazismu sangat dirasakan oleh banyak orang.

Sementara itu, untuk menyiapkan program kurban tahun 2017, kata dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Lazismu akan membangun 100 sentra peternakan hewan kurban di 34 provinsi. Dari setiap sentra itu, akan ada 1000 hewan kurban yang diternak. “Kita akan siapkan untuk tahun depan,” ujarnya.

Sebelumnya pun, Lazismu telah melaksanakan program Kado Ramadhan pada 2016. Andar mengatakan, masyarakat menyalurkan donasinya untuk program ini mencapai Rp 35 milyar. Dan angka itu meningkat 10 kali lipat dari tahun sebelumnya khusus di program berbagi kebahagiaan pada bulan puasa itu.

Sampai saat ini, Lazismu telah memiliki 200 kantor perwakilan di provinsi dan daerah di seluruh Indonesia

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Rabu, 07 September 2016

Instruksi Penyelenggaraan Milad Muhammadiyah ke 107H /104M


WARTAMU, YOGYAKARTA - Muhammadiyah akan segera merayakan milad ke-107 H/104 M. Persyarikatan Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di  Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912. Persyarikatan yang memiliki puluhan juta anggota dan simpatisan di seluruh Indonesia ini telah menuai banyak prestasi dan konstribusi.

Mengarungi kiprah pencerahan abad kedua, dalam rangka merayakan ulang tahun ke 107 menurut perhitungan tahun Hijriyah atau tahun ke 104 menurut kalender Miladiyah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Instruksi Penyelenggaraab Milad, bertema “Membangun Karakter Indonesia Berkemjuan”.

Download Instruksi Penyelenggaraan Milad Muhammadiyah

Minggu, 04 September 2016

Indonesia Diprediksi Jadi Kiblat Umat Islam

 
WARTAMU, JAKARTA - Peran umat Islam dalam tegaknya Negara Republik Indonesia ini dinilai tidaklah sedikit. Tak terkecuali peran dari tokoh-tokoh muslim seperti kiyai, ulama maupun intelektual muslim.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan, kalangan ulama maupun intelektual muslim kini semakin menggeliat dan muncul ke ruang publik, ekonomi, atau sektor pemerintah. Dan tidak sedikit di antara mereka yang maju dan berkembang.

“Tentu ini modal besar umat untuk berbuat lebih banyak lagi dalam rangka memajukan bangsa Indonesia,” ujar Mu’ti tentang peran umat Islam terutama ulama muslim dalam memajukan bangsa saat pengajian bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jum’at (2/9/16).

Umat Islam, kata Mu’ti, tidak perlu minder dengan kalangan lainnya. Karena, masih saja terdapat stigma  bahwa umat Islam berada pada posisi inferior. Padahal, kata dia, umat Islam sekarang dilihat dari tingkat pendidikan dan ekonominya bisa dibilang cukup membanggakan.
“Pilar bangsa Indonesia ini menurut saya adalah umat Islam,”  tutur dia.

Karena, menurut dia, umat Islam sebagai kekuatan mayoritas mampu membangun bangsa menjadi negara yang memiliki martabat dan juga prestasi dalam kancah internasional. Bahkan, tidak sedikit pengamat mengatakan bahwa masa depan Islam itu berada di Indonesia.

Umat Islam Indonesia, kata Mu’ti, memiliki tradisi keislaman yang tinggi dan ketaatan beribadah yang tinggi. Dan hal inilah yang menjadi nilai lebih bagi umat Islam di Indonesia. Namun, keislaman tersebut juga perlu didorong dengan peningkatan kualitas ekonomi, pengetahuan dan teknologi bangsa.

“Kalau itu semua bisa kita capai, maka kiblat umat muslim dunia itu akan berubah atau akan bergeser,” terang Mu’ti menyoal potensi Indonesia sebagai kiblat umat Islam di dunia.
Mu’ti juga mengatakan, untuk mencapai kebangkitan umat Islam yang menjadi agenda besar bangsa Indonesia ini, perlu adanya kerjasama dari semua pihak. Termasuk di dalamnya ormas-ormas Islam di Indonesia. 

“Potensi ini sebagai agenda besar kita. Kebangkitan (Islam) akan memiliki pengaruh yang kuat kalau umat Islam bersatu antara yang satu dan yang lainnya,” ujar Mu’ti mengajak ormas Islam seluruh Indonesia untuk bersatu.

sumber : http://muhammadiyah.or.id

Jumat, 02 September 2016

Muhamadiyah Dinilai Potensial Kembangkan Dana Investasi Real Estate


WARTAMU, JAKARTA – Sebagai organisasi dengan asset dan tanah wakaf terbesar, Persyarikatan Muhammadiyah dinilai sangat potensial untuk mulai mengembangkan investasi melalui Dana Investasi Real Estate (DIRE). Hal itu dikatakan Kepala Manajemen Informasi dan Pengembangan Emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero, Senin (29/8/16).

DIRE sendiri bisa diterbitkan dalam dua bentuk, sebagai penerbit dan sebagai investor. Dari sisi penerbit, Muhammadiyah sangat berpeluang karena didukung oleh banyaknya aset properti yang tersebar di seluruh Indonesia. Serta memiliki puluhan juta anggota. Nantinya, semua orang bisa menjadi investor yang membeli instrumen DIRE yang diterbitkan Muhammadiyah.

Kekayaan Muhammadiyah didominasi oleh harta tak bergerak berupa tanah wakaf. Tanah wakaf yang kepemilikannya bersifat aset kolateral sulit menjadi agunan jika ingin mendapat pembiayaan dari bank dalam rangka pengembangan.

Sebagai solusi, ujar Poltak, DIRE merupakan salah satu cara paling tepat. ’’Mereka (Muhammadiyah) ada rencana membangun gedung administrasi. Nanti mereka bisa menyewakan kelebihan lantai bangunan gedung ke pihak eksternal,’’ ujar Poltak.

Yang terpenting, sesuai dengan persyaratan minimal, aset properti berpenghasilan sewa untuk kemudian dikumpulkan sebagai instrumen DIRE itu senilai Rp 50 miliar. ’’Secara umum, negara kita ini masih akan memulai. Ruang tumbuh DIRE masih sangat besar. Potensinya banyak,’’ ungkap Poltak.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Kamis, 01 September 2016

Rancang Strategi Pengembangan Cabang dan Ranting, LPCR PP Muhammadiyah Adakan Rakornas


WARTAMU, BENGKULU - Memasuki abad kedua, Muhammadiyah dihadapkan pada tugas dan tantangan baru yang semakin berat, bukan hanya karena makin kompleksnya perkembangan masyarakat yang menuntut berbagi penyesuaian, namun juga kemunculan banyak organisasi Islam baru mengharuskan Muhammadiyah memperbarui strategi dakwah dan perjuangannya.
Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR)  Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) pada tanggal 6 hingga 8 September 2016 bertempat di Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Diungkapkan oleh Syarkawi Ahmad, Wakil Bendahara LPCR PP Muhammadiyah, salah satu tantangan Muhammadiyah ditengah-tengah perkembangan masyarakat yaitu dalam hal penataan dakwah dan perjuangan di tingkat akar rumput melalui pengembangan Cabang dan Ranting.

"Secara hirarki keorganisasian, Cabang dan Ranting adalah level organisasi paling bawah, sehingga sering juga dilihat dari logika garis wewenang dimana pimpinan Cabang dan Ranting sekadar pihak yang menunggu dan menjalankan perintah pimpinan yang di atasnya," ucap Syarkawi, Kamis (1/9/16).

Lebih lanjut Syarkawi mengatakan padahal sebenarnya Cabang dan Ranting justru memainkan peran ujung tombak dalam kinerja persyarikatan Muhammadiyah. Pertama, Cabang dan Ranting merupakan ujung tombak dalam rekruitmen anggota dan kaderisasi. Kedua, ujung tombak dalam menjalankan dakwah keagamaan.
 
Ketiga, ujung tombak dalam ukhuwah dengan organisasi Islam yang lain, maupun dalam perjumpaan dengan organisasi sosial yang lain. Keempat, duta persyarikatan di masyarakat. Kelima, ujung tombak dalam membela kepentingan ummat.

"Secara kuantitas, jumlah Cabang dan terutama Ranting Muhammadiyah masih terhitung minim. Sedangkan secara kualitas, meskipun jika dibanding dengan beberapa ormas Islam yang lain Muhammadiyah jauh lebih unggul, namun masih jauh dari harapan warga Muhammadiyah sendiri," lanjut Syarkawi.

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi sangat penting dalam rangka refleksi dan evaluasi Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) pada tingkat pusat, wilayah dan daerah.

"Rakornas menjadi arena konsolidasi, menyusun strategi pengembangan Cabang dan Ranting dan melihat perkembangannya di seluruh Indonesia. Rekernas LPCR PP Muhammadiyah menjadi sebuah forum nasional yang mempertemukan LPCR PP Muhammadiyah dengan LPCR PWM Se-Indonesia yang akan merumuskan program dan agenda kerja LPCR dalam waktu jangka pendek mapun jangka panjang," tutup Syarkawi. (*)



sumber : http://muhammadiyah.or.id

Senin, 29 Agustus 2016

Idul Adha Tahun ini Jatuh Pada Hari Apa?


Minggu, 28 Agustus 2016

Muhammadiyah Dorong Kemenkes Beri Gambaran Langkah Kerjanya untuk Bersinergi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar memberikan gambaran langkah-langkah kerjanya yang bisa disinergikan dengan Muhammadiyah. Ini sebagai bentuk jalinan kerjasama antara Muhammadiyah dan pemerintah yang sudah dibangun begitu lama.

"Dua kali pertemuan dengan presiden, Pak Jokowi mengungkapkan apresiasi peran Muhammadiyah dalam pendidikan dan kesehatan," ujar Haedar kepada Menteri Kesehatan, Nila Moeloek yang berkunjung untuk silaturahim dengan PP Muhammadiyah dan PP Asyiyah, di Yogyakarta, Jumat (26/8).

Muhammadiyah, kata Haedar, menyadari bahwa posisi organisasi kemasyarakatan kerap menghadapi masalah-masalah dan regulasi yang ada di Indonesia dalam gerakannya. Ihwal ini, ia mengatakan, perlu adanya sinergi dengan pemerintah sekaligus.

Dengan, sinergi itulah, menurutnya, organisasi kemasyarakatan akan lebih leluasa dalam membangun bangsa. Tak lain, pekerjaan organisasi kemasyarakatan itu pun membantu pemerintah.

Karena itu, silaturahim yang dijalin antara Muhammadiyah, Asyiyah dan Kementerian Kesehatan ini, sambung Haedar, sangat bermanfaat. Apalagi Muhammadiyah dan Aisyiyah memang begitu konsen pada gerakan kesehatan.

"Secara keseluruhan, Muhammadiyah relatif memiliki amal usaha di bidang kesehatan," katanya.

Kepada Nila Moeloek, Haedar juga memberitahukan bahwa di Muhammadiyah, bidang kesehatan ini digerakkan  oleh Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU). MPKU, terang dia, dulunya berasal dari Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), cikal bakal institusi kesehatan di Muhammadiyah. Yang kini, MPKU juga terus mengawal perkembangan dan kemajuan rumah sakit Muhammadiyah.

Dalam kesempatannya, Haedar pun menyebutkan, ada 10 perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) yang memiliki fakultas kedokteran dari total 176 PTM. Dari 10 PTM itulah, lulusan-lulusannya juga terjun ke bidang kesehatan untuk mengabdi.

Minggu, 21 Agustus 2016

Muhammadiyah Observatorium Network Resmi Diluncurkan


YOGYAKARTA. suaramuhammadiyah.id-Hari ini, Sabtu (20/8), Muhammadiyah Observatorium Network (MuON) resmi diluncurkan oleh ketua umum PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir.
Menurut Haedar,  adanya Observatorium Network ini merupakan penanda strategis kemajuan Muhammadiyah abad kedua.
Saat ini Muhammadiyah sudah mempunyai tiga observatorium yang ada di UHAMKA Jakarta, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di Medan dan  Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Saat meresmikan MuON ini, Haedar berpesan agar tiga observatorium yang sudah ada, harus terus dikembangkan sebagai pusat keunggulan Muhammadiyah.
Peluncuran MuON ini sendiri ditandai dengan pengoperasian remote observasi yang dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah. Teleskop observasi matahari yang ada di UMSU digerakkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah dari Pusat Tarjih Muhammadiyah di kampus 4 UAD (is).

Minggu, 31 Juli 2016

Ini Pesan Penting untuk Kepala Sekolah Muhammadiyah



MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Kepala sekolah Muhammadiyah se-Indonesia diminta untuk bekerja lebih kreatif dan produktif dalam memajukan amal usaha pendidikan Persyarikatan. Ini agar sekolah Muhammadiyah memiliki keunggulan daya saing dalam hal kualitas dan kwantitas.

"Kepala sekolah itu pada dasarnya dia bukan guru ya! Kepala sekolah itu manager!" tegas Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy kepada Muhammadiyah.or.id, di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pekan kemarin.

Ia mengatakan, kepala sekolah Muhammadiyah diharapkan tidak hanya sekedar mengajar seperti guru biasa, namun juga harus memikirkan pembangunan fisik dan non fisik sekolah. "Kepala sekolah itu jangan terus mengajar," tuturnya.

Kepala sekolah Muhammadiyah, menurut Muhadjir, harus kreatif dalam hal fundraising. Yakni kepala sekolah diharapkan bisa mencari dana-dana dari luar lingkungan sekolah. Sebab, kata dia, pencarian dana ini sangat penting bagi pembangunan sekolah. Ia menilai, dana pembangunan tidak juga harus membebankan kepada orang tua siswa.

"Itu harus selalu di dalam pikiran seorang manager. Karena tidak mungkin, mengembangkan sekolah dari segi finansial itu, mengandalkan semuanya dari sumbangan orang tua," katanya.

Karena itu, tambah Muhadjir, kepala sekolah Muhammadiyah harus punya upaya untuk mencari alternatif fundraising. Jika fundraising berjalan dengan baik, hal itu akan berpengaruh pada kemajuan pembangunan sekolah.

Dalam kesempatan ini, Muhadjir pun menjelaskan, kepala sekolah Muhammadiyah harus selalu mendorong gurunya meningkatkan kapasitas diri. Guru, terang dia, tidak sekedar mengalihkan atau menyalurkan pengetahuan saja (transfer knowledge), tapi dia juga harus memiliki keteladanan sebagai sosok yang diteladani oleh siswa.

Dan hal yang terpenting, menurut Muhadjir, kepala sekolah harus mampu menanamkan rasa kebanggaan kepada siswanya menjadi siswa Muhammadiyah. "Itu yang harus dipompakan betul," katanya.

Dikatakan Muhadjir, jangan sampai para siswa kehilangan gairah dan kepercayaan diri sebagai siswa di sekolah Muhammadiyah. "Apalagi kalau sekolah Muhammadiyah itu bukan sekolah favorit," ujarnya.

Soal ini pun, untuk memperkuat kepercayaan diri dari siswa yang telah ditolak dari beberapa sekolah dan mendaftar ke sekolah Muhammadiyah.

"Itu penting sekali untuk membangkitkan kepercayaan diri. Jangan sampai dia merasa masuk sekolah buangan," katanya.

Sekolah Muhammadiyah, menurut Muhadjir, adalah sekolah yang lebih mengedepankan pada pembinaan moral dan pembinaan akhlak.  Konsep inilah yang harus dipahami kepala sekolah Muhammadiyah.

"Moral itu sumber utamanya dari keteladanan. Berarti ada orang yang memiliki nilai signifikan bagi murid-muridnya, guru!"

Kepala sekolah Muhammadiyah, kata mantan rektor UMM ini, harus memiliki perhitungan yang baik juga terkait calon-calon siswanya. Sebab, menurutnya, calon siswa yang akan sekolah di sekolah Muhammadiyah itu akan mempengaruhi terhadap nilai sekolah itu sendiri.

Yakni, terang Muhadjir, kepala sekolah, idealnya sudah mengetahui berasal dari mana saja calon siswa-siswanya itu, terutama calon siswa sekolah menengah pertama atau atas. Kepala sekolah, katanya, jangan sampai pasif menunggu calon siswanya mendaftar ke sekolah. "Jadi tidak bisa hanya menunggu," ucapnya.

Sekolah Muhammadiyah, dalam hal ini, kata dia, harus memiliki standar nilai beda untuk calon siswanya. Namun, untuk mengundang calon siswa yang berkualitas, sekolah Muhammadiyah pun harus punya nilai beda, baik dari segi akademik ataupun non akademik.

Minimal, menurut Muhadjir, sekolah Muhammadiyah ada satu keunggulan yang selalu ditunjukkan kepada masyarakat. Jika satu keunggulan ini dimiliki, maka, hal itulah yang menjadi nilai lebih bagi sekolah Muhammadiyah untuk terus mencerdaskan bangsa.

Sejarah Muhammadiyah

PROLOG
 
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .

Masjid Gede Yogyakarta
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
 
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
 
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.

Ketua PP Muhammadiyah Resmi Jadi Mendikbud Gantikan Anies Baswedan


SangPencerah.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengumumkan susunan baru kabinet kerja hasil reshuffle jilid II di halaman Istana Negara, Jakarta, tepat pukul 11.00 WIB. Ada sembilan wajah baru di Kabinet Kerja. Presiden Jokowi mengatakan, ke-12 menteri baru dan Kepala BKPM akan dilantik pada pukul 13.30 WIB.
Presiden Jokowi mengatakan bahwa perombakan kabinet dilakukan salah satunya dengan pertimbangan agar kabinet yang dia pimpin bisa bekerja lebih cepat, efektif, solid dan saling mendukung.
Diantara Menteri terpilih muncul nama baru Prof.Dr Muhadjir Effendy. Beliau saat ini menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dipercaya Presiden Jokowi untuk menggantikan Anies Bawesdan. (sp/mch)

Jumat, 21 November 2014

Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah


Ada yang belum tahu Sejarah Muhammadiyah. Jika ada belum tahu sejarah berdirnya Muhammadiyah mungkin anda perlu membaca artikel ini sampai selesai. Meskipun artikel ini hanya menyajikan Sejarah singkat Muhammadiyah semoga bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bagaimana sejarah berdirinya Muhammadiyah dan perjuangan Muhammadiyah.

***


Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.

Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”

Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Ssudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif.

Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.

Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” (Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam ”Statuten Muhammadiyah” yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, ”Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya ”Muhammadiyah” dan tempatnya di Yogyakarta”. Sedangkan maksudnya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Igama kepada anggauta-anggautanya.”
Terdapat hal menarik, bahwa kata ”memajukan” (dan sejak tahun 1914 ditambah dengan kata ”menggembirakan”) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan kata-kunci yang selalu dicantumkan dalam ”Statuten Muhammadiyah” pada periode Kyai Dahlan hingga tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun 1921, Tahun 1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914: Maksud Persyarikatan ini yaitu:
Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia Nederland,
dan Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya.
Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan.

Pada AD Tahun 1946 itulah pencantuman tanggal Hijriyah (8 Dzulhijjah 1330) mulai diperkenalkan. Perubahan penting juga terdapat pada AD Muhammadiyah tahun 1959, yakni dengan untuk pertama kalinya Muhammadiyah mencantumkan ”Asas Islam” dalam pasal 2 Bab II., dengan kalimat, ”Persyarikatan berasaskan Islam”. Jika didaftar, maka hingga tahun 2005 setelah Muktamar ke-45 di Malang, telah tersusun 15 kali Statuten/Anggaran Dasar Muhammadiyah, yakni berturut-turut tahun 1912, 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950 (dua kali pengesahan), 1959, 1966, 1968, 1985, 2000, dan 2005. Asas Islam pernah dihilangkan dan formulasi tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan pada tahun 1985 karena paksaan dari Pemerintah Orde Baru dengan keluarnya UU Keormasan tahun 1985. Asas Islam diganti dengan asas Pancasila, dan tujuan Muhammadiyah berubah menjadi ”Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala”. Asas Islam dan tujuan dikembalikan lagi ke ”masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” dalam AD Muhammadiyah hasil Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta.

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. Kyai Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (‘aqidah), ibadah, mu’amalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad.
Mengenai langkah pembaruan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut:”Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah, dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.”.

Adapun langkah pembaruan yang bersifat ”reformasi” ialah dalam merintis pendidikan ”modern” yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek ”iman” dan ”kemajuan”, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36). Lembaga pendidikan Islam ”modern” bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu. Pendidikan Islam “modern” itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga pendidikan umat Islam secara umum.
Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda.

Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Ma’un. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan ”teologi transformatif”, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan ”hablu min Allah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah ”teologi amal” yang tipikal (khas) dari Kyai Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.

Kyai Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kutab Suci umat Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Dahlan menganjurkan atau mendorong ”umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang inheren dalam ajaran-ajarannya”, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya beranggapan bahwadiskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002: 78) .

Kepeloporan pembaruan Kyai Dahlan yang menjadi tonggak berdirinya Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan ‘Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan. Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan, dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak bersentuhan dengan ide atau gerakan ”feminisme” seperti berkembang sekarang ini. Artinya, betapa majunya pemikiran Kyai Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni yang berkemajuan.

Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi Hadikusuma (t.t: 69) telah menampilkan Islam sebagai ”sistem kehidupan mansia dalam segala seginya”. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan mu’amalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam akhlak dan mu’amalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.

Kyai Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan cerdas. Menurut Kyai Dahlan, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005). Kyai Dahlan tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan mengerahkan seluruh kekuatan akal piran dan ijtihad.

Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Ma’un, Kyai Dahlan mendidik untuk mempelajari ayat Al-Qur’an satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): ”bagaimanakah artinya? bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana maksudnya? apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? sudahkah kita menjalankannya?” (Ibid: 65). Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo, cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan.

Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:
Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
dan Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat
(Junus Salam, 1968: 33).

Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir, 1990: 332).

Kendati menurut sementara pihak Kyai Dahlan tidak melahirkan gagasan-gagasan pembaruan yang tertulis lengkap dan tajdid Muhammadiyah bersifat ”ad-hoc”, namun penilaian yang terlampau akademik tersebut tidak harus mengabaikan gagasan-gagasan cerdas dan kepeloporan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, yang untuk ukuran kala itu dalam konteks amannya sungguh merupakan suatu pembaruan yang momunemntal. Ukuran saat ini tentu tidak dapat dijadikan standar dengan gerak kepeloporan masa lalu dan hal yang mahal dalam gerakan pembaruan justru pada inisiatif kepeloporannya.

Kyai Dahlan dengn Muhammadiyah yang didirikannya terpanggil untuk mengubah keadaan dengan melakukan gerakan pembaruan. Untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia, berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa: ”Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”
Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan. Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli yakni Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan.

Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhammadiyah ialah, bahwa gerakan Islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur perorangan, tetapi melalui sebuah sistem organisasi. Menghadirkan gerakan Islam melalui organisasi merupakan terobosan waktu itu, ketika umat Islam masih dibingkai oleh kultur tradisional yang lebih mengandalkan kelompok-kelompok lokal seperti lembaga pesantren dengan peran kyai yang sangat dominan selaku pemimpin informal. Organisasi jelas merupakan fenomena modern abad ke-20, yang secara cerdas dan adaptif telah diambil oleh Kyai Dahlan sebagai “washilah” (alat, instrumen) untuk mewujudkan cita-cita Islam.

Mem-format gerakan Islam melalui organisasi dalam konteks kelahiran Muhammadiyah, juga bukan semata-mata teknis tetapi juga didasarkan pada rujukan keagmaan yang selama ini melekat dalam alam pikiran para ulama mengenai qaidah “mâ lâ yatimm al-wâjib illâ bihi fa huwâ wâjib”, bahwa jika suatu urusan tidak akan sempurna manakala tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya. Lebih mendasar lagi, kelahiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi, juga memperoleh rujukan teologis sebagaimana tercermin dalam pemaknaan/penafsiran Surat Ali Imran ayat ke-104, yang memerintahkan adanya “sekelompok orang untuk mengajak kepada Islam, menyuruh pada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar”. Ayat Al-Qur‘an tersebut di kemudian hari bahkan dikenal sebagai ”ayat” Muhammadiyah.

Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Qur‘an Surat Ali Imran 104 tersebut ingin menghadirkan Islam yang mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid 

Demikian sejarah singkat Muhammadiyah yang dapat kami paparkan kepada anda yang belum begitu paham dengan sejarah berdirinya Muhammadiyah. Semoga memberikan kita wawasan dan semangat dalam berdakwah Islam Amar Ma'ruf Nahi Munkar memberantas Takhayul Bid'ah dan Churafat di tengah-tengah masyarakat Islam

Rabu, 08 Oktober 2014

Apa Kabar Muhammadiyah Ngawi?

Sebuah perenungan yang baik apabila kita selalu sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Suatu hal yang tidak buruk pula apabila kita juga tahu potensi kita. hal itu bisa menjadi evaluasi diri untuk melangkah dalam dakwah yang memang tak mudah.

Muhammadiyah sekarang bukanlah organisasi kemarin sore, namun pergantian personil pergantian zaman pergantian generasi tentu bisa menjadikan Muhammadiyah stagnan atau mengalami kemunduran jika kita tidak melakukan evaluasi dan muhasabah. Sebuah tulisan apik, dari warga Muhammadiyah Ngawi mari kita renungi sebagai berikut :

Suatu ketika, saya membayangkan bertemu dengan Kyai Dahlan, pendiri persyarikatan tercinta ini. Setelah saya mengucap salam dan dijawabnya, seraya beliau bertanya: Sebagai pimpinan Muhammadiyah, sudahkan anda menghidup-hidupi Muhammadiyah? Berapa banyak hartamu yang telah engkau infaqkan? Berapa lama waktumu untuk mengurus persyarikatan ini?, Berapa banyak sekolah yang anda dirikan? Berapa banyak rumah sakit anda bangun? Sudahkan anda mencerahkan umat? Bagaimana anda menggerakkan jama’ah untuk menegakkan Al-Islam, menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, demi terwujudnya masyarakat muslim yang sebenar-benarnya?. Sederetan pertanyaan itu baru sebagian dari banyak pertanyaan lain dari beliau, yang ternyata semuanya tidak mampu saya jawab. Saya merasa malu dengan diri sendiri, karena merasa belum berbuat apa-apa terhadap keberhasilan cita-citanya, yang tidak lain adalah cita-cita Muhammadiyah. Barangkali diantara kita malah sudah mampu menjawab jauh sebelum ditanyakan, karena sudah merasa berbuat banyak untuk membesarkan persyarikatan ini. Wallahu a’lam.

Dari rasa malu tersebut, kemudian saya coba untuk berfikir secara jernih penuh kejujuran pada diri sendiri. Jika PDM periode 2010-2015 ini adalah hasil musyda ke-9, itu berarti bahwa Muhammadiyah di Ngawi secara de facto maupun de yure sudah didirikan dan dibangun selama 45 tahun yang lalu. PDM peride pertama barangkali baru mampu mengenalkan soal nama Muhammadiyah, atau bahkan mengenalkan dengan rasa malu-malu ataupun sembunyi-sembunyi, karena situasi sosial politik saat itu yang sama sekali belum memberikan ruang untuk Muhammadiyah. Peride ke-dua mungkin sudah meningkat ada amal usaha kajian islam, meskipun terbatas pada internal pimpinan. Demikian seterusnya, hingga PDM pada periode selanjutnya. Pada zamannya masing-masing kita semua meyakini bahwa mereka telah berupaya keras dengan sekuat tenaga membesarkan Muhammadiyah. Dan hasilnya sebagaimana yang kita lihat dan rasakan hingga sekarang ini.

Usia 45 tahun adalah usia produktif paling akhir menjelang usia tua, dan sebentar lagi memasuki usia senja serta manula, untuk ukuran manusia. Demikian pula usia Muhammadiyah di Ngawi. Kemudian, hal-hal produktif apakah yang telah kita hasilkan selama ini? Mengatakan keberhasilan akan memacu motivasi diri untuk berbuat lebih produktif lagi, dengan catatan tidak diniatkan untuk takabur. Sedangkan meratapi kegagalan biasanya menjadikan diri kita pesimistis atau bahkan menjadi patah arang. Berikut akan saya sampaikan beberapa hal produktif yang telah mampu kita bangun bersama. Selain dimaksudkan untuk mawas diri, barangkali dapat dipakai sebagai jawaban atas pertanyaan Kyai Dahlan di depan, dalam persepektif intuitif guna memacu motivasi semata.

Terbukanya hubungan antar struktural-ortom-AUM yang lebih familiar dan harmonis dalam semangat ke-Muhammadiyahan. Sebagai contoh, dahulu, untuk pergantian kepala sekolah hampir semua proses diwarnai dengan “pertengkaran” antar personal yang masing-masing merasa memiliki hak untuk menjadi kepala sekolah. Bahkan, kepala sekolah yang lama seakan berupaya mempertahankan jabatannya selama-lamanya, hingga proses pergantian tersebut tidak perlu ada. Pada era sekarang, semua proses sangat terbuka, tidak tabu, calon pengganti berani menyatakan siap, dan yang diganti legowo dengan berhias senyum penuh keikhlasan. Suatu ketika, saya datang silaturrahim ke TK ABA bertemu dengan ibu guru. Yang terjadi adalah, kedatangan saya disambut dengan perasaan aneh seperti saya telah melakukan hal yang tidak wajar. Ibu guru seraya bertanya, ketua PDM kok ngurus TK ABA, apa kaitannya? Memang sama sekali tidak ada yang salah dalam permasalahan ini, tetapi semua diantara kita meski harus terpelajarkan. Ketika itu saya upayakan untuk mencerahkan tanpa harus marah. Kira-kira, memakai pendekatan Al-hanafiatush shamkhah, berprinsip tetapi bisa kompromi. Ibu guru TK tersebut adalah warga Muhammadiyah, dan saya merasa wajib untuk silaturrahim dengan warga Muhammadiyah siapapun, kapanpun dan dimanapun, bukan mengurus TK-nya. Alhamdulillah, sekarang semuanya biasa-biasa saja, dan perasaan tabu yang dahulu kini telah berubah, subkhanallah.

Kelahiran pontren ULIL ALBAB-2 di Desa Pakah. Kita sama-sama ingat saat itu bahwa sebagian warga kita teraniaya oleh orang lain, yang tidak perlu diketahui apa sebab musababnya.  Yang pasti kemudian adalah bahwa Muhammadiyah menerima ananah lahan dakwah baru penuh tantangan. Puluhan kali pimpinan dan semua unsur rapat dan diskusi ternyata lahirlah suatu ide cemerlang dari pimpinan-pimpinan, tokoh-tokoh dan kalangan muda Muhammadiyah yang semuanya cerdas penuh semangat,  yaitu ide perlunya didirikan pondhok pesantren di desa itu. Semua unur PDM bergerilya bahu membahu dengan PCM serta unsur lain untuk mencari calon santri dari seluruh pelosok desa di Ngawi. Begitu cemerlangnya gagasan itu, dan Alhamdulillah seperti yang kita saksikan sekarang ini bahwa calon pengganti pimpinan Muhammadiyah di Ngawi sedang dipersiapkan dan digodhok di pontren itu. Kembali kepada pertanyaan Kyai Dahlan di depan, mari masing-masing kita mencoba menjawab, seberapa besar andil anda dalam keberhasilan ini? Jika merasa sudah maka mari kita tingkatkan, namun jika merasa belum berbuat apa-apa sesungguhnya masih terbentang luas kesempatan.

Kelahiran BTM Bagaskara dan SULI 5. Tatkala Muhammadiyah daerah lain sedang sibuk menghitung harta kekayaan persyarikatan sebagai sarana dakwah pencerahan, kita justru belum berfikir akan pentingnya dakwah ekonomi, bahkan mimpipun tidak. Menyadari hal demikian, semua unsur pimpinan dan tokoh-tokoh pemikir Muhammadiyah di Ngawi mencoba merintisnya dengan dua amal usaha sekaligus, yaitu BTM Bagaskara dan AMDK SULI 5. Hingga saat ini, kedua AUM tersebut berkembang cukup bagus, tentu saja atas dukungan kita semua. Jika AUM ekonomi ini kita pandang sebagai suatu keberhasilan, mari kita coba jawab kembali pertnayaan Kyai Dahlan di depan. Biarkan saja orang bicara dan berpendapat, yang pasti masing-masing dari kita hendaknya bertanya pada diri sendiri seberapa besar telah ikut berperan, terutama yang mengaku sebagai pimpinan. Setiap diri kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.   

Gedung Dakwah Muhammadiyah. Pimpinan pendahulu kita di masa lampau sangat merindukan tempat ini, gedung ini, sebagai sarana dakwah. Mereka semua telah memulai merintis pada zamannya, telah memulai, telah mengupayakan, dan kebetulan era kita sekarang ini mampu mewujudkan secara nyata. Maka dari itu, gedung ini adalah monumental karena telah dicita-citakan cukup lama. Kita semua berharap bahwa dengan berdirinya bangunan bergengsi ini, semangat dakwah amar ma’ruf nahi mungkar kita semakin meningkat. Jika kita mau jujur, sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi organisasi besar seperti Muhammadiyah. Dana milyaran rupiah untuk membangun gedung ini, siapapun tidak pernah mimpi akan mampu memiliki duit sejumlah itu. Nyatanya, kita bisa ujudkan. Sebab, kita ini besar, kita ini jama’ah,  kita ini ikhlas beramal. Masalahnya sekarang adalah, mampukah kita terus membesarkan Muhammadiyah dengan adanya tambahan fasilitas ini? Insya Allah. Keberhasilan ini hendaknya juga harus kita jadikan moment untuk menjawab pertanyaan Kyai Dahlan.  Sudahkan masing-masing kalian berbuat untuk keberhasilan ini? Jika belum, mulailah! Dan jika sudah, teruslah berbuat dan berilah manfaat, karena sesungguhnya  khairunnaas anfauhum li naas.

Sekali lagi, apapun keberhasilan yang mampu kita raih, mari kita syukuri sebagai keberhasilan bersama. Contoh tersebut di atas barulah sebagian dari semua yang telah kita perjuangkan di medan dakwah. Masih banyak hal lain yang menunggu buah pikiran kita, menunggu uluran tangan kita, dan menunggu amaliah kita. Berbuatlah seperti matahari-lambang milik Muhammadiyah itu kata Kyai Dahlan. Matahari itu ikhlas memberi dan tidak harap kembali, memberi manfaat bagi siapapun tanpa pernah diminta, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga orang lain mau berbuat apa saja yang seharusnya dibuat dengan kesadarannya sendiri. Syangnya, masih cukup banyak diantara kita yang baru bisa ngomong namun belum mampu mengamalkan, hebat dikala berpendapat dalam forum rapat, namun belum mampu berbuat. Kita belum bisa seperti matahari, dan Kyai Dahlan pun pasti akan tersenyum meskipun disertai istighfar.

Semoga bermanfaat.

Demikian tulisan motivasi dan berbagi rasa dari saudara kita yang berjuang melalui jalan dakwah muhammadiyah di kabupaten Ngawi. Tulisan ini disadur dari tulisan asli yang berjudul oleh Berbagi Rasa MEMBESARKAN MUHAMMADIYAH di Ngawi Oleh: Gunadi Ash Cidiq dalam portal Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi http://ngawi.muhammadiyah.or.id/