Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2016

Muharram Bukan Bulan yang Sial



Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Saat ini kita berada di penghujung bulan Dzulhijjah, bulan terakhir di dalam urutan bulan kalender hijriyah atau kalender Islam. Sebentar lagi kita memasuki tahun 1437 H, yang dibuka dengan bulan Muharram. Bulan yang disebut juga dengan nama bulan Sura. Belum ada hasil penelitian yang final dan disepakati oleh para ahli sejarah Islam mengapa orang Islam di wilayah Nusantara (Asia Tenggara) terutama bangsa Jawa lebih suka menyebut nama bulan Muharram dengan nama bulan Sura. Salah satu teori yang agak masuk akal adalah karena pada bulan Muharram ini pernah terjadi peristiwa besar di dalam sejarah Islam. Yaitu peristiwa Asyura.

Ada dua peristiwa di hari Asyura (10 Muharram) di dalam Islam, pertama hari yang diyakini hari kebebasan Musa dari kejaran Fira’un, dan kita disunahkan berpuasa pada tanggal itu. Yang kedua adalah peristiwa gugurnya Husein bin Ali, cucu Rasulullah di tanah Karbala.

Asyura yang manakah yang dijadikan rujukan orang Jawa. Dari cara memperlakukan bulan muharram tampaknya peristiwa kedualah yang dijadikan rujukan. Mengapa demikian, karena orang Jawa cenderung menganggap bulan Sura sebagai bulan yang sial bukan bulan yang menggembirakan sebagaimana peristiwa pertama.

Yang jelas, di dalam mantra-mantra tradisional Jawa yang berbau Islam, banyak tersirat ritual yang memuliakan Fatimah (yang di Jawa disebut Dewi Pertimah yang disejajarkan dengan Dewi Pertiwi atau Dewi Bumi). Ali bin Thalib yang disebut Baginda Ngali, Hasan, Husein, maupun Muhammad Hanafiah. Mirip dengan kepercayaan kaum Syi’ah. Mereka juga sangat membenci Yazid yang disebut Raja Yazid Kang Duraka. Walau begitu mereka menghormati Abu Bakar, Umar, dan Usman juga Muawiyah.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.
Terkait atau tidaknya peristiwa Asyura dengan penamaan bulan Muharram dengan istilah bulan Sura oleh masyarakat Islam di wilayah Nusantara. Masyarakat di sini cenderung mengeramatkan bulan pertama di dalam kalender Islam ini. Bahkan ada pula yang menyatakan kalau bulan muharram sebagai bulan yang sial. Bulan yang tidak cocok untuk melakukan apa pun. Terutama untuk melakukan pernikahan, membangun rumah, pindah tempat tinggal, ataupun bepergian.

Menurut yang percaya pada mitos ini, bulan Muharram dianggap sebagai bulan yang dikhususkan untuk para makhluk halus menyelenggarakan perayaan pernikahan.
Terkait dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian menamakan ‘inab (anggur) sebagai karam (kemuliaan), dan janganlah kalian mengatakan alangkah sialnya masa (waktu) karena sesungguhnya Allah adalah (pencipta) masa.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dalam Hadits lain juga dijelaskan:
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Anak Adam telah menyakiti-Ku dia suka mencela masa. Padahal Aku adalah (pencipta) masa. Akulah yang menggilir siang dan malam.” (HR Muslim)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.
Kalau kita mau membuka sejarah, maka kita akan tahu kalau banyak peristiwa penting yang menggembirakan juga pernah terjadi di bulan Muharram. Di antaranya terbelahnya laut merah saat Nabi Musa mau menyeberang sehingga Musa dan kaumnya yang setia selamat dari kejaran Raja Fir’aun.

Peristiwa ini terjadi di bulan Muharram. Ini berarti menunjukkan kalau rahmat Allah sangat besar bagi hamba-Nya, khususnya bagi mereka yang tertindas justru terlimpah di bulan Muharram.
Perang Khaibar juga terjadi di bulan Muharram. Perang yang terjadi di tahun ketujuh hijriyah ini menandai penumpasan total kaum Yahudi yang suka bikin kekacauan dan perpecahan di kota Madinah.

Maka sungguh tidak tepat menganggap Muharram sebagai bulan sial. Semua bulan dan hari adalah sama saja. Tidak ada yang boleh disebut hari baik baik atau hari sial. Bulan baik atau bulan sial. Termasuk bulan Zulhijjah, bulan terbunuhnya dua khalifah, Umar dan Usman. Apalagi bulan Muharram. Bulan pertama di kalender Islam.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Selasa, 20 September 2016

Tradisi Tajdid Dalam Muhammadiyah


Oleh: Dr H  Abdul Mu’ti, 
Sektretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Sesuai dengan identitasnya, Muhammadiyah  adalah Gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan as-sunnah (ad, pasal 4/1). Selain itu, tajdid adalah instrumen untuk mencapai tujuan dan diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan (ad, pasal 7/1).

Secara umum, tajdid di dalam Muhammadiyah  memiliki tiga aspek: pemikiran, praksis gerakan dan etos. Aspek pemikiran meliputi metode atau pendekatan dan hasil-hasilnya. Aspek praksis gerakan terkait dengan tata kelola organisasi dan inovasi teknologi. Aspek etos berhubungan dengan world-view (pandangan dunia), value (nilai-nilai) dan etik.


Menurut Muhammadiyah  pintu ijtihad masih terbuka. Hal ini mengandung pengertian bahwa tajdid harus terus-menerus dilakukan. Kedua, hasil ijtihad terdahulu merupakan ra’yu (pemikiran) yang mungkin dikaji ulang: diperkuat, disempurnakan, atau dirubah. Ketiga, tajdid merupakan proses heuristic, bahwa solusi atas suatu problem bukan final state (tahap akhir), tetapi bisa menjadi babak awal suatu masalah.

Bagi Muhammadiyah , tajdid merupakan proses aktif dan kreatif untuk menyelesaikan masalah konkret dan realistis. Tajdid merupakan wujud tanggung jawab kerisalahan dan kekhalifahan Muhammadiyah  atas kehidupan umat.

Tajdid tidak dilakukan untuk kegenitan intelektual, akrobat pemikiran atau sensasi pemberitaan. Tetapi untuk panduan, pencerahan, dan jalan keluar berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Oleh karena itu, tajdid Muhammadiyah  harus dilihat sebagai keseluruhan proses yang terkait dengan bidang pemikiran, keagamaan dan muamalah duniawiyah.
Tajdid dapat berupa kontekstualisasi pemikiran dalam bidang yang baru, bukan selalu pemikiran yang sama sekali baru.

Etos pembaruan meliputi lima prinsip. Pertama, prinsip tauhid yang murni. Prinsip ini melahirkan sikap terbuka dan jiwa merdeka. Tauhid menumbuhkan egalitarianisme kemanusiaan yang membangkitkan spirit level. Setiap manusia bisa meraih level tertinggi dengan kualitas ilmu dan iman.

Kedua, prinsip bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah tuntunan yang lengkap, sempurna dan relevan di setiap waktu dan tempat. Hal ini meniscayakan upaya terus-menerus untuk memperteguh keyakinan dan memperluas pemahaman. Teks wahyu bersifat static, tetapi permasalahan selalu berkembang.

Hal ini meniscayakan ijtihad dengan pemahaman atas wahyu yang progresif.
Ketiga, prinsip tanggung jawab. Bahwa sebagai hamba Allah, manusia bertanggung jawab untuk menyebarluaskan ajaran Islam dan menciptakan kemakmuran di muka bumi. Tajdid adalah usaha kreatif manusia dalam memecahkan masalah dengan menggunakan kekuatan ilmu dan akalnya berdasarkan wahyu.

Keempat, prinsip relativitas. Metode dan hasil ijtihad merupakan buah pemikiran manusia yang kebenarannya bersifat relatif dan subyektif karena kualitas ilmu, perbedaan konteks dan kecenderungan personal para mujtahid. Peradaban akan berkembang manakala manusia tidak mensakralkan dan memutlakkan kebenaran pendapatnya.

Kelima, prinsip kemajuan. Ijtihad dikembangkan dengan melihat realitas kekinian secara komprehensif dan berorientasi futuristis (mencandra jauh ke masa depan) bukan romantis (memuja masa lalu).

Di antara kunci keberhasilan Muhammadiyah  adalah konsistensinya memelihara tradisi tajdid. Salah satu contoh adalah bagaimana Muhammadiyah  secara sadar dan sistematis berusaha mengatasi masalah lingkungan.

Majelis lingkungan hidup telah menerbitkan buku teologi lingkungan yang memuat pandangan dan tuntunan untuk menyelamatkan lingkungan. Para ahli meramalkan di masa depan, krisis terbesar yang dihadapi manusia adalah air. Tanda-tandanya sudah terlihat jelas. Oleh karena itu, Munas Majelis Tarjih bulan ini akan membahas Fiqih Air.

SMK Muhammadiyah  Gondang Legi Malang, menciptakan mobil bertenaga surya sebagai solusi krisis energi dan mahalnya bahan bakar minyak.

SMK Muhammadiyah  Padang menciptakan motor pemadam kebakaran. Mobil pemadam kebakaran hanya bisa menjangkau kawasan dengan akses jalan luas. Motor pemadam kebakaran dapat menjangkau kampung di jalan sempit sehingga dapat menyelamatkan manusia dari korban kebakaran.

Majelis Pemberdayaan Masyarakat mengembangkan pertanian organik dengan pupuk, pestisida, dan pengairan organik untuk meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, menjawab trend kebutuhan pangan masyarakat kota dan melestarikan alam semesta.
Universitas Muhammadiyah  Malang mengembangkan pembangkit listrik tenaga air dengan memanfaatkan sungai yang mengalir di tengah kampus.

Tentu masih banyak lagi berbagai inovasi dan penemuan yang dikembangkan oleh warga Muhammadiyah .

Demikianlah tradisi tajdid di dalam Muhammadiyah . Dengan tajdid, Muhammadiyah senantiasa hadir. Tidak hanya untuk mempertahankan eksistensi dan memelihara identitasnya tetapi untuk memajukan umat dan bangsa•

suara muhammadiyah nomor 05 tahun 2014 (1-15 maret) halaman 27

Minggu, 11 September 2016

Perjuangan Cinta Soedirman: Di Muhammadiyah Sang Jenderal Menemukan Belahan Jiwanya



Panglima Besar Jenderal Soedirman terkenal sebagai sosok yang keras dan teguh memegang pendirian. Namun, Jenderal Besar itu juga manusia. Hatinya meleleh di kota terpencil tepi pantai Selatan, Cilacap.

Hatinya tertambat pada seorang gadis. Bukan gadis sembarangan. Siti Alfiah adalah primadona di kota kecil di Jawa Tengah itu. Keduanya bertemu di Perkumpulan Wiworotomo. Ini adalah organisasi intrasekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan sekolah menengah pertama Parama Wiworotomo, Cilacap.”Keduanya sama-sama aktivis di Pemuda Muhammadiyah Cilacap,” kata Sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta, Sardiman.

Alfiah adalah gadis cantik yang tengah beranjak dewasa. Saat itu, banyak laki-laki yang naksir padanya. Sementara Soedirman juga bukan pemuda sembarangan. Pria kelahiran 24 Januari 1916 itu sangat disegani di lingkungannya. Dia pandai berpidato, pemain sepak bola dan teater yang handal serta sangat alim. Bahkan teman-temannya menjuluki dia ‘Kaji’ atau Haji.

“Saat itu Soedirman seorang pemuda top. Banyak gadis tertarik padanya karena aktivitasnya itu. Banyak orangtua yang berebut ingin menjadikan dia sebagai menantunya,” kata Sardiman.

Berbagai cara Soedirman mendekati Alfiah. Soedirman memilih kembang desa itu sebagai bendahara saat menjadi panitia teater agar keduanya bisa lebih dekat. Saat itu Soedirman menjadi ketua panitia. Soedirman juga kerap berkunjung ke rumah Sastroatmodjo, orang tua Alfiah.

Silaturahmi itu berkedok koordinasi internal Muhammadiyah. Kala itu Soedirman termasuk pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Sementara orang tua Alfiah pengurus Muhammadiyah. Dari kebiasaan itulah, teman-temannya mulai menyadari jika Soedirman menaksir Alfiah. Sejak itu, tak ada laki-laki yang berani mendekati Alfiah.

Namun, kisah cinta Soedirman tak berjalan mulus. Cintanya kepada Alfiah tak direstui justru bukan oleh orangtua kembang desa itu. Melainkan oleh paman Alfiah bernama Haji Mukmin, saudagar pemilik hotel.

Mukmin ingin agar Alfiah mendapatkan suami dari kalangan orang kaya. Sementara Soedirman hanya anak ajudan wedana yang bergaji kecil. Akhirnya, semua ongkos pernikahan itu disiapkan oleh ibundanya, agar Soedirman tak disepelekan oleh keluarga Alfiah.

Tapi, sikap Haji Mukmin berubah setelah Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar oleh Presiden Sukarno.

Cinta Soedirman begitu besar pada Alfiah. Dia selalu menyiapkan baju sang istri. Soedirman ingin agar Alfiah selalu terlihat cantik.

Alfiah pun sangat mencintai Soedirman. Dia rela merokok demi sang suami yang tengah tergolek di rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta, bisa mencium aroma rokok. Saat itu, Soedirman meminta Alfiah merokok dan meniupkan asap rokok ke wajahnya. Sejak peristiwa itu, Alfiah menjadi seorang perokok.


Soedirman sudah lama menderita tuberkolosis. Dengan separuh paru-parunya, dia terus bergerilya. Saat itu dia meninggalkan sang istri dan bergerilya di Madiun, Jawa Timur untuk memimpin operasi penumpasan pemberontakan Partai Komunis.

Pada akhir September 1948, Soedirman kembali. Dia berjalan tertatih-tatih memasuki rumah dinasnya di Jalan Bintaran Wetan, Yogyakarta. Soedirman yang terlihat ringkih mengatakan kepada istrinya, dia tak bisa tidur selama di Madiun. Soedirman rupanya begitu terpukul menyaksikan pertumpahan darah yang terjadi antara rakyat Indonesia itu.
 
Malam itu, kendati kondisi kesehatannya menurun, Soedirman tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar mandi air hangat tak diindahkan. Dan inilah awal petaka bagi Soedirman. Esoknya, sang Jenderal terkapar di tempat tidur.

Kendati tengah terbaring sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa dihilangkan. Sesekali, sembari terbaring, dia menghisap rokok kretek. Alfiah tak berani melarang, karena tahu Soedirman memang perokok berat.

Sejumlah dokter tentara memeriksa kesehatannya. Tim dokter muda mendiagnosis ia menderita tuberkolosis, infeksi paru-paru. Keluarga Soedirman meminta dua dokter senior, Asikin Wijayakusuma dan Sim Ki Ay memeriksa Soedirman kembali. Hasilnya tak jauh berbeda. Atas saran Asikin, Soedirman dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Soegiri, bekas ajudan Soedirman, menulis bagaimana saat sang Jenderal dirawat di rumah sakit Katolik itu. Soedirman dirawat di kamar 8 Bangsal Maria, yang berada di bagian depan rumah sakit. Pria kelahiran Purbalingga itu terkena pulmonary tuberculosis. Penyakit itu diketahui Soegiri dari dokter yang merawat Soedirman.

Menurut Soegiri, obat yang dibutuhkan Soedirman hanya ada di Jakarta. Kalaupun sampai di Yogyakarta, obat itu harus melalui jalur penyelundupan. Karena Jakarta saat itu dikuasai tentara sekutu.

Karena Soedirman butuh pengamanan cepat, tim dokter memutuskan melakukan operasi untuk menyelamatkannya dengan cara membuat satu paru-parunya tak berfungsi.

Komplikasinya, kata Soegiri, memang sudah sedemikian rupa, sehingga membuat dokter menempuh cara tersebut. Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernafasan.

Sebulan menjalani perawatan di rumah sakit, Soedirman pulang ke rumahnya di Bintaran. Saat di rumah, Soedirman pernah beberapa kali tak bisa menahan hasrat ingin merokok. Perilaku ini, lagi-lagi justru memperburuk kesehatannya. Soedirman pernah muntah darah. Pada 17 Desember 1948, keajaiban datang. Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat tidur.

Hari itu, kepada istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang, firasat sang Jenderal terbukti: Belanda membombardir Yogyakarta, yang saat itu Ibu Kota Indonesia. Ia pun memilih mengakhiri cutinya.



Dengan diusung tandu, hampir delapan bulan Soedirman keluar masuk hutan memimpin gerilya dari luar Yogyakarta. Pernah ia tidak makan selama lima hari. Dengan perut kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di Pacitan, Jawa Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Rika, suster yang merawat Soedirman, kala itu menulis pengalamannya saat bersama Jenderal Besar ini.

Menurut dia, saat itu Soedirman dirawat dengan nama samaran: Abdullah Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat surat kabar yang naskahnya kini tersimpan di Museum Sasmitaloka. Soedirman memakai nama samaran supaya keberadaannya tidak diketahui Belanda. Beberapa minggu kemudian dia kembali ke rumah.


Firasat Kematian Soedirman
Seolah-olah mendapat firasat hari kematiannya segera tiba, pada 18 Januari 1950, Soedirman meminta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Esok harinya, ia memanggil istri dan tujuh anaknya.

Dia memberi wejangan kepada istri dan anak-anaknya. Tak sepenuhnya pertemuan dengan keluarga itu diisi dengan wejangan. Soedirman juga sempat bergurau. Kepada keluarganya, ia menyatakan sebenarnya ingin seperti Lurah Pakis, kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa meminang cucu.



Pada Senin, 29 Januari 1950, kondisi tubuh Jenderal Soedirman semakin lemah. Berlinang air mata, Siti Alfiah meminta suaminya tegar. Soedirman menatap istrinya dan meminta perempuan yang dicintainya itu menuntunnya membaca kalimat tauhid. Satu kalimat terucap, Soedirman kemudian mangkat.

Soedirman pergi dalam usia muda, 34 tahun. Esok harinya, ribuan orang ikut mengantarkan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Hari itu hujan turun lebat mengguyur Kota Yogyakarta. Tembakan salvo satu regu tentara di pemakaman Semaki mengantar Jenderal Besar itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada 1997, dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.

sumber : http://sangpencerah.id

Sabtu, 10 September 2016

Gerakan Pencerahan untuk Indonesia Berkemajuan dalam Perspektif Perkaderan


Asep Purnama Bahtiar, 
Ketua Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah; Dosen FA Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Menapaki abad kedua ini Muhammadiyah akan semakin dituntut konsistensi gerakan pencerahan dan komitmennya untuk merealisasikan  perkaderan yang sistemik dan berkesinambungan. Proposisinya, bila spektrum perubahan di luar organisasi yang luar biasa massif dan ekstensif, sementara di dalam organisasinya tidak terbangun konsolidasi yang strategis dan penguatan kapasitas yang efektif—dalam  matra perkaderan dan  kepemimpinan–maka organisasi tersebut akan mengalami stagnasi atau bahkan dekaden.

Dalam konteks organisasi yang berhubungan timbal-balik dengan kondisi zaman yang selalu berubah itu, proposisi perkaderan yang transformatif dan  kepemimpinan yang visioner menjadi pilihan strategis untuk direalisasikan untuk mendukung gerakan pencerahan Muhammadiyah. Bagi  organisasi sebesar Muhammadiyah, model kepemimpinan visioner ini akan bisa memberikan jaminan dalam implementasi nilai dan identitas  Persyarikatan  baik secara institusional maupun personal dalam penguatan kapasitas kader dan anggota.

Lebih jauh lagi di Muhammadiyah posisi kader tersebut juga selalu bergandengan dengan sistem perkaderan, nilai-nilai ideologis, dan subjek  gerakan.  Misalnya dalam renstra program nasional bidang kaderisasi—Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-46 (2010)—tertulis:   “Membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan serta peran dan ideologi gerakan Muhammadiyah dengan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan.”
Ada tiga kata kunci dalam rencana strategis tersebut: 1) pelaku gerakan; 2) ideologi gerakan Muhammadiyah; dan 3) sistem kaderisasi. Khusus yang diistilahkan dengan  ”pelaku gerakan”cakupan subjeknya terdiri dari: pemimpin, kader, dan anggota/warga Persyarikatan.

Posisi Strategis Kader
Dalam ruang lingkup dan dinamika gerakan Muhammadiyah, maka secara organisatoris ketiga subjek tersebut saling membutuhkan dan pengaruh-mempengaruhi. Misalnya, seorang pemimpin pasti membutuhkan anggota/warga, baik sebagai  basis legitimasi kepemimpinan maupun  untuk kepentingan pelibatan mereka dalam berbagai program dan agenda kegiatan yang sudah dirancang. Terlebih lagi posisi kader juga lebih strategis dan menentukan bagi kemajuan organisasi. Nilai lebih ini karena kader menempati posisi signifikan di antara pemimpin dan anggota: sebagai tenaga pendukung tugas pemimpin serta menjadi penggerak dan pendinamis aktivitas partisipatif anggota/warga.

Untuk menjadi kader seperti dalam posisi strategisnya tadi tentu tidak bisa terwujud secara instant dan begitu saja. Sosok kader seperti itu terbentuk melalui penempaan dalam proses pelatihan  dan  didik diri yang berkelanjutan di fora perkaderan, baik yang dikategorikan sebagai perkaderan utama maupun fungsional.

Kader yang berkualitas dan proses kaderisasi yang mapan menjadi qonditio sine qua-non bagi terlaksananya regenerasi dan alih estafeta kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Sekaligus dengan upaya itu pula regenerasi yang bertumpu pada kaderisasi dapat menjamin suksesi kepemimpinan dan kesinambungan pengembangan organisasi di masa depan secara dinamis, sesuai dengan ideologi dan identitasnya yang dikontekstualisasikan untuk menjawab tuntutan dan perubahan zaman. Inilah yang dimaksud dengan siklus yang sehat dalam Persyarikatan: kaderisasi-regenerasi-suksesi kepemimpinan.

Komitmen  dan kompetensi pemimpin serta kader merupakan  komponen organisasi yang  tidak boleh tidak mesti dirawat dan dikembangkan. Upaya ini menjadi tanggung jawab yang besar dan sekaligus berat terutama bagi pemimpin Persyarikatan, sementara pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri merupakan bagian dari anasir yang terpenting dan fundamental dalam mengintensifkan gerakan pencerahan dan mengembangkan dinamika Muhammadiyah untuk Indonesia berkemajuan.
Dengan kata lain, aktiva dan pasiva gerakan Muhammadiyah untuk merealisasikan gerakan pencerahan tersebut akan ikut ditentukan oleh kualitas kader dan kinerja kepemimpinan yang dijalankan oleh seluruh jajaran dan fungsionarisnya di semua lini.  Artinya, neraca gerakan Muhammadiyah dewasa ini dan kelanjutannya ke depan dengan gerakan pencerahannya itu tidak bisa dimungkiri lagi bakal ikut diwarnai dan ditentukan oleh kompetensi kader dan para elite yang diamanahi dalam struktur kepemimpinan Persyarikatan.

Dengan demikian, para kader dan orang-orang yang dipercaya menjadi pemimpin di Muhammadiyah, sesuai dengan levelnya masing-masing, memiliki amanah yang berat dan tanggung jawab yang besar untuk memajukan Persyarikatan serta mengembangkan sumberdaya kader dan anggotanya. Dalam konteks ini, selain memiliki integritas dan kredibilitas, kader dan pemimpin juga harus mempunyai kapabilitas, visi kepemimpinan yang jelas, dan kemauan untuk selalu meningkatkan kualitas dengan perkaderan atau memiliki tekad kuat untuk mau belajar dan berlatih guna memperbarui diri.

Revitalisasi Kader
Kebutuhan akan sosok kader dan pemimpin yang amanah dan cakap serta model kepemimpinan yang responsif dan partisipatoris, bukan saja karena kebutuhan intern Muhammadiyah yang urgen, tetapi juga mengingat tantangan dan problem eksternal Persyarikatan dewasa ini yang semakin tidak ringan. Tantangan ini juga tidak lepas dari konstelasi dinamis dalam skup nasional dan global, baik dalam dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun keagamaan.

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, maka kebutuhan standar kompetensi kader untuk saat ini dan masa yang akan datang akan berbeda dengan masa yang lalu. Karena itu untuk selalu menampilkan sosok kader yang siap kiprah sesuai dengan zamannya perlu diadakan “revitalisasi kader”. Langkah ini merupakan bagian terpenting dalam membangun format pengembangan sumberdaya kader.

Revitalisasi kader merupakan sebuah proses yang berkelanjutan untuk meningkatkan vitalitas, daya juang, dan kualitas kader melalui berbagai macam pelatihan, pendidikan, dan perkaderan yang terarah dan terencana. Melalui revitalisasi kader ini, suplai kader tidak hanya berfungsi bagi pemenuhan kebutuhan internal Persyarikatan saja seperti untuk mendukung gerakan pencerahan, tetapi juga peran strategisnya akan terlihat dari kemampuannya dalam merespons dan menyikapi dinamika perkembangan zaman bagi kemajuan negara-bangsa.

Pada sisi lain revitalisasi kader tersebut merupakan unsur terpenting dari upaya manajemen pengembangan sumberdaya kader dan anggota. Dalam sebuah organisasi, manajemen pengembangan sumberdaya kader ini merupakan program pokok yang strategis guna menghasilkan kader-kader yang berkualitas dan siap kiprah untuk mendinamiskan gerakan pencerahan Muhammadiyah.

Dalam praktiknya, manajemen pengembangan sumberdaya kader dan anggota ini tidak akan cukup diwujudkan dalam bentuk-bentuk training perkaderan dan pelatihan yang baku saja. Penatalaksanaan manajemen ini harus sudah dimulai sejak perekrutan anggota dan selama aktif berkecimpung di Persyarikatan atau di  organisasi otonom.

Mutatis mutandis, revitalisasi kader juga harus diterapkan dalam pelbagai bentuk kegiatan, pelatihan, dan institusi-institusi perkaderan baik yang termasuk jenis perkaderan utama maupun fungsional. Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa upaya revitalisasi kader dengan mengintensifkan berbagai macam perkaderan tadi jangan sampai hanya bersifat ideology oriented tetapi juga mesti memperhatikan aspek-aspek lainnya yang dinamis di luar Persyarikatan.

Harus dipahami bahwa arti penting lain dari revitalisasi kader ini adalah agar supaya kader memiliki link and match, baik ke dalam maupun ke luar. Maksudnya, ada keterkaitan dan keselarasan dengan tuntutan kebutuhan internal Persyarikatan, maupun kemestian bagi kader untuk menguasai ilmu pengetahuan dan kecakapan agar mampu merespons perubahan sosial yang menyertai dinamika umat dan bangsa dalam percaturan global. Kompetensi kader plus integritas inilah yang diperlukan Muhammadiyah dalam melajukan gerakan pencerahan untuk Indonesia berkemajuan.

Menjaga Muhammadiyah


Oleh: Dra Hj Shoimah Kastolani

Setiap tanggal 8 Dzulhijjah jadi tergerak untuk sedikit mengungkap pola pikirnya Sang Pencerah 107 tahun lalu. Beliau berfikir merasa perlu membangkitkan umat Islam untuk melakukan pengentasan dari kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan. Meski melalui liku perjuangan yang tidak ringan toh akhirnya membuahkan hasil legalitas formal memenuhi staatblad 1870 nomor 64 tentang Perkoempoelan Berbadan Hukum.

Melalui Gouvernment Besluit 22 Agustus 1914 No 81 diubah dengan Gouvernment Besluit 16 Agustus 1920 No 40. Dan kini di era global mendapat lagi penegasan dari Kementerian Hukum dan HAM tertenggal 1 Juli 2016 yang mempertegas surat pengakuan yang amat sangat tegas dari Kemendagri tanggal 30 Juni 2016.

Betapa jasa Kyai dalam memajukan agama Islam, mencerahkan bangsa melalui rintisan pendidikan yang integratif antara agama dan iptek. Berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan balai pengobatan sampai akhirnya mendirikan hospital. Peduli kepada kaum dhu’afa sebagai implementasi surat Al-ma’un yang mengajarkan semangat suka berbagi, dengan merintis armeen huis dan wees huis.

Mengingat itu semua aku rasanya bangga merupakan bagian dari gerakan yang didirikan Sang Pencerah MUHAMMADIYAH. Ataukah kebanggaanku ini tumbuh sejak aku merasakan pendidikan SR dan Mu’allimaat Muhammdiyah yang menggemblengku sebagai sosok yang diberi sibghah sebagai zu’ama ‘ulama dan mu’alim.

Kalau orang besar seperti Presiden Pertama Indonesia saja bangga kepada Sang Pencerah, masa aku yg menjadi penikmat amal usaha Muhammdiyah tidak lebih bangga?. Coba saja kita baca kembali pernyataan Ir Soekarno pada pidatonya didepan Muktamirin Muktamirat tahun 1962 “…….ada hubungan erat antara pembangunan agama dengan pembangunan Tanah-Air, Bangsa, Negara dan Masyarakat. Maka oleh karena itu saudara-saudara saja kok makin lama makin tjinta kepada Muhammadijah. Tatkala saya berusia 15 tahun saya simpati kepada Kijai Ahmad Dahlan sehingga saya mengintil kepadanya.

Tahun 1946 saya minta jangan tjoret nama saya dari Moehammadijah; di tahun 1962 saya berkata semoga dikaruniai usia pandjang oleh Allah, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Moehammadijah atas kain kafan saya”. Kok rasanya semua orang merasa tersemangati oleh nilai-nilai keikhlasan Sang Pencerah. Wujud mencintai Sang Pencerah dengan Mahakaryanya Harakah Attanwir Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan, kita semua harus Menjaga Muhammadiyah dengan meneruskan cita perjuangannya menuju Indonesia Berkemajuan: Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan berkeadilan dalam menuju ke Baldah thayyibah wa Rabbun ghafur sehingga mampu menghantarkan umat Islam ke pintu Jannatun Na’im. Amin.


sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Sabtu, 03 September 2016

Download, Buku Panduan Pintar Qurban dan Aqiqah dari Lazismu

Buku Panduan Pintar Qurban dan Aqiqah




Senin, 29 Agustus 2016

Majelis Berkemajuan


Oleh; Prof Dr H Dadang Kahmad

Wartamu.com Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang lalu, Muhammadiyah mengusung tema “Gerakan Pencerahan menuju Indonesia Berkemajuan”. Tema tersebut sangat relevan dengan situasi masa kini dan senapas dengan misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah di abad kedua. Melalui tema tersebut, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjadikan pandangan Islam berkemajuan sebagai sumber inspirasi dalam mencerahkan umat, bangsa, dan masyarakat manusia seluruhnya.

Dengan gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam gerakan dakwah dan tajdid untuk menghadirkan Islam jalan tengah (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat dan martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Komitmen Muhammadiyah tersebut menunjukkan karakter gerakan Islam yang dinamis dan progresif dalam menjawab tantangan zaman, tanpa harus kehilangan identitas dan karakter Islam sebagai agama ilahi.

Oleh karena itu, semua Majelis  dan Lembaga pasca Muktamar ke-47 itu, harus menjadi Majelis berkemajuan, yaitu Majelis yang dinamis, mandiri, produktif, dan proaktif sesuai prinsip dan kepribadiannya sebagai bagian dari Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam bermisi dakwah dan tajdid.

Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah ke depan sangatlah kompleks dan berat. Dunia semakin tidak menentu, sebagaimana yang digambarkan Anthony Gidden, dunia yang lari tanpa kendali, atau seperti yang disebutkan oleh Friedman sudah datar, panas dan krodid. Yang merupakan efek dari globalisasi. Penggunaan alat komunikasi yang luar biasa. Kemajuan dalam teknologi informasi yang sangat pesat itu menyebabkan dunia ini seolah datar, karena tidak ada lagi jarak maupun ruang waktu yang menyebabkan suatu tempat terisolir maupun tertutup dari informasi.

Karenanya, Majelis di lingkungan Muhammadiyah sudah saatnya bangkit dengan melakukan langkah-langkah praksis dan strategis yang membawa pengaruh signifikan bagi kemajuan Muhammadiyah khususnya dan umat Islam secara keseluruhan. Bagi kita pengurus Majelis, berbagai masalah yang dihadapi akan diolah menjadi tantangan dan peluang untuk dimanfaatkan dalam berdakwah amar makruf nahi munkar melalui media Pustaka dan Informasi.

Dalam menjalankan langkah strategis ke depan yang berat dan penuh tantangan itu, saya ingin Majelis menghadapainya dengan penuh tanggungjawab. Semua Pimpinan Majelis  dari Pusat, Wilayah sampai ke Daerah harus bergerak secara optimal, sehingga menjadi kekuatan gerakan yang maju dan unggul dan hasilnya dapat dilihat dan terukur.

Karenanya, marilah kita gelorakan semangat Majelis sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Minggu, 28 Agustus 2016

Din Syamsuddin: Muhammadiyah Bukan Paguyuban !


MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA- Muhammadiyah adalah suatu gerakan pencerahan bagi umat maupun bangsa. Muhammadiyah bukan hanya suatu persyarikatan, melainkan suatu gerakan.
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah periode 2005-2015, Din Syamsuddin pada Sabtu (27/8) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta saat menjadi pembicara dalam Muktamar Nasyiatul Aisyiyah (NA) ke-XIII mengatakan. “Muhammadiyah menempatkan dirinya sebagai gerakan, dengan tujuan utama lebih dari sekedar organisasi,” tuturnya.
“Organisasi itu sebuah perkumpulan yang berbasis sistem, dan jika tidak memiliki sistem itu namanya adalah paguyuban. Muhammadiyah saat ini posisinya di atas paguyuban dan organisasi, akan tetapi Muhammadiyah ingin lebih tinggi lagi yakni sebuah gerakan,” jelas Din.
Din mengungkapkan bahwa ada dua faktor kekuatan pada gerakan Muhammadiyah, yakni proses yang dinamis dan sistematis untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam konsep Indonesia berkemajuan, Din kembali memaparkan selama 71 tahun Indonesia merdeka, seyogyanya sudah cukup membawa kita pada perwujudan cita-cita nasional terhadap Indonesia berkemajuan.
“Cita-cita nasional terhadap Indonesia berkemajuan itu adalah Indonesia yang maju, adil, makmur, berdaulat dan bermartabat,” kata Din.
Kembali dilanjutkan Din, apa yang kita saksikan saat ini sebenarnya menjauh. Karena ada gejala defiasi dan distorsi dari makna cita-cita tersebut.
Oleh sebab itu ini yang harus disadari oleh pemimpin dan tokoh bangsa kita bahwa sesungguhnya saat ini tidak pada jalan yang benar dalam meraih cita-cita nasional itu. Baik dalam hal politik maupun ekonomi.
Din berharap bahwa segala persoalan tersebut dapat dikoreksi dengan baik, sehingga nantinya konsep Indonesia berkemajuan tersebut akan benar-benar terwujud dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, serta dapat mengamalkan konsep tersebut kedalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Dan itulah yang ingin diwujudkan oleh Muhammadiyah sebagai suatu gerakan yang lebih dari sekedar suatu organisasi,” ucap Din.
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu tersebut menyampaikan bahwa kita harus menghargai perjuangan tokoh Muhammadiyah terdahulu dalam membantu mendirikan bangsa ini, karena lewat beberapa pemikiran merekalah dan juga tokoh dari ormas lainnya yang menjadi akar penentu berdirinya bangsa Indonesia

Minggu, 31 Juli 2016

Sejarah Muhammadiyah

PROLOG
 
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .

Masjid Gede Yogyakarta
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
 
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
 
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.