Rabu, 08 Oktober 2014

Apa Kabar Muhammadiyah Ngawi?

Sebuah perenungan yang baik apabila kita selalu sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Suatu hal yang tidak buruk pula apabila kita juga tahu potensi kita. hal itu bisa menjadi evaluasi diri untuk melangkah dalam dakwah yang memang tak mudah.

Muhammadiyah sekarang bukanlah organisasi kemarin sore, namun pergantian personil pergantian zaman pergantian generasi tentu bisa menjadikan Muhammadiyah stagnan atau mengalami kemunduran jika kita tidak melakukan evaluasi dan muhasabah. Sebuah tulisan apik, dari warga Muhammadiyah Ngawi mari kita renungi sebagai berikut :

Suatu ketika, saya membayangkan bertemu dengan Kyai Dahlan, pendiri persyarikatan tercinta ini. Setelah saya mengucap salam dan dijawabnya, seraya beliau bertanya: Sebagai pimpinan Muhammadiyah, sudahkan anda menghidup-hidupi Muhammadiyah? Berapa banyak hartamu yang telah engkau infaqkan? Berapa lama waktumu untuk mengurus persyarikatan ini?, Berapa banyak sekolah yang anda dirikan? Berapa banyak rumah sakit anda bangun? Sudahkan anda mencerahkan umat? Bagaimana anda menggerakkan jama’ah untuk menegakkan Al-Islam, menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, demi terwujudnya masyarakat muslim yang sebenar-benarnya?. Sederetan pertanyaan itu baru sebagian dari banyak pertanyaan lain dari beliau, yang ternyata semuanya tidak mampu saya jawab. Saya merasa malu dengan diri sendiri, karena merasa belum berbuat apa-apa terhadap keberhasilan cita-citanya, yang tidak lain adalah cita-cita Muhammadiyah. Barangkali diantara kita malah sudah mampu menjawab jauh sebelum ditanyakan, karena sudah merasa berbuat banyak untuk membesarkan persyarikatan ini. Wallahu a’lam.

Dari rasa malu tersebut, kemudian saya coba untuk berfikir secara jernih penuh kejujuran pada diri sendiri. Jika PDM periode 2010-2015 ini adalah hasil musyda ke-9, itu berarti bahwa Muhammadiyah di Ngawi secara de facto maupun de yure sudah didirikan dan dibangun selama 45 tahun yang lalu. PDM peride pertama barangkali baru mampu mengenalkan soal nama Muhammadiyah, atau bahkan mengenalkan dengan rasa malu-malu ataupun sembunyi-sembunyi, karena situasi sosial politik saat itu yang sama sekali belum memberikan ruang untuk Muhammadiyah. Peride ke-dua mungkin sudah meningkat ada amal usaha kajian islam, meskipun terbatas pada internal pimpinan. Demikian seterusnya, hingga PDM pada periode selanjutnya. Pada zamannya masing-masing kita semua meyakini bahwa mereka telah berupaya keras dengan sekuat tenaga membesarkan Muhammadiyah. Dan hasilnya sebagaimana yang kita lihat dan rasakan hingga sekarang ini.

Usia 45 tahun adalah usia produktif paling akhir menjelang usia tua, dan sebentar lagi memasuki usia senja serta manula, untuk ukuran manusia. Demikian pula usia Muhammadiyah di Ngawi. Kemudian, hal-hal produktif apakah yang telah kita hasilkan selama ini? Mengatakan keberhasilan akan memacu motivasi diri untuk berbuat lebih produktif lagi, dengan catatan tidak diniatkan untuk takabur. Sedangkan meratapi kegagalan biasanya menjadikan diri kita pesimistis atau bahkan menjadi patah arang. Berikut akan saya sampaikan beberapa hal produktif yang telah mampu kita bangun bersama. Selain dimaksudkan untuk mawas diri, barangkali dapat dipakai sebagai jawaban atas pertanyaan Kyai Dahlan di depan, dalam persepektif intuitif guna memacu motivasi semata.

Terbukanya hubungan antar struktural-ortom-AUM yang lebih familiar dan harmonis dalam semangat ke-Muhammadiyahan. Sebagai contoh, dahulu, untuk pergantian kepala sekolah hampir semua proses diwarnai dengan “pertengkaran” antar personal yang masing-masing merasa memiliki hak untuk menjadi kepala sekolah. Bahkan, kepala sekolah yang lama seakan berupaya mempertahankan jabatannya selama-lamanya, hingga proses pergantian tersebut tidak perlu ada. Pada era sekarang, semua proses sangat terbuka, tidak tabu, calon pengganti berani menyatakan siap, dan yang diganti legowo dengan berhias senyum penuh keikhlasan. Suatu ketika, saya datang silaturrahim ke TK ABA bertemu dengan ibu guru. Yang terjadi adalah, kedatangan saya disambut dengan perasaan aneh seperti saya telah melakukan hal yang tidak wajar. Ibu guru seraya bertanya, ketua PDM kok ngurus TK ABA, apa kaitannya? Memang sama sekali tidak ada yang salah dalam permasalahan ini, tetapi semua diantara kita meski harus terpelajarkan. Ketika itu saya upayakan untuk mencerahkan tanpa harus marah. Kira-kira, memakai pendekatan Al-hanafiatush shamkhah, berprinsip tetapi bisa kompromi. Ibu guru TK tersebut adalah warga Muhammadiyah, dan saya merasa wajib untuk silaturrahim dengan warga Muhammadiyah siapapun, kapanpun dan dimanapun, bukan mengurus TK-nya. Alhamdulillah, sekarang semuanya biasa-biasa saja, dan perasaan tabu yang dahulu kini telah berubah, subkhanallah.

Kelahiran pontren ULIL ALBAB-2 di Desa Pakah. Kita sama-sama ingat saat itu bahwa sebagian warga kita teraniaya oleh orang lain, yang tidak perlu diketahui apa sebab musababnya.  Yang pasti kemudian adalah bahwa Muhammadiyah menerima ananah lahan dakwah baru penuh tantangan. Puluhan kali pimpinan dan semua unsur rapat dan diskusi ternyata lahirlah suatu ide cemerlang dari pimpinan-pimpinan, tokoh-tokoh dan kalangan muda Muhammadiyah yang semuanya cerdas penuh semangat,  yaitu ide perlunya didirikan pondhok pesantren di desa itu. Semua unur PDM bergerilya bahu membahu dengan PCM serta unsur lain untuk mencari calon santri dari seluruh pelosok desa di Ngawi. Begitu cemerlangnya gagasan itu, dan Alhamdulillah seperti yang kita saksikan sekarang ini bahwa calon pengganti pimpinan Muhammadiyah di Ngawi sedang dipersiapkan dan digodhok di pontren itu. Kembali kepada pertanyaan Kyai Dahlan di depan, mari masing-masing kita mencoba menjawab, seberapa besar andil anda dalam keberhasilan ini? Jika merasa sudah maka mari kita tingkatkan, namun jika merasa belum berbuat apa-apa sesungguhnya masih terbentang luas kesempatan.

Kelahiran BTM Bagaskara dan SULI 5. Tatkala Muhammadiyah daerah lain sedang sibuk menghitung harta kekayaan persyarikatan sebagai sarana dakwah pencerahan, kita justru belum berfikir akan pentingnya dakwah ekonomi, bahkan mimpipun tidak. Menyadari hal demikian, semua unsur pimpinan dan tokoh-tokoh pemikir Muhammadiyah di Ngawi mencoba merintisnya dengan dua amal usaha sekaligus, yaitu BTM Bagaskara dan AMDK SULI 5. Hingga saat ini, kedua AUM tersebut berkembang cukup bagus, tentu saja atas dukungan kita semua. Jika AUM ekonomi ini kita pandang sebagai suatu keberhasilan, mari kita coba jawab kembali pertnayaan Kyai Dahlan di depan. Biarkan saja orang bicara dan berpendapat, yang pasti masing-masing dari kita hendaknya bertanya pada diri sendiri seberapa besar telah ikut berperan, terutama yang mengaku sebagai pimpinan. Setiap diri kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.   

Gedung Dakwah Muhammadiyah. Pimpinan pendahulu kita di masa lampau sangat merindukan tempat ini, gedung ini, sebagai sarana dakwah. Mereka semua telah memulai merintis pada zamannya, telah memulai, telah mengupayakan, dan kebetulan era kita sekarang ini mampu mewujudkan secara nyata. Maka dari itu, gedung ini adalah monumental karena telah dicita-citakan cukup lama. Kita semua berharap bahwa dengan berdirinya bangunan bergengsi ini, semangat dakwah amar ma’ruf nahi mungkar kita semakin meningkat. Jika kita mau jujur, sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi organisasi besar seperti Muhammadiyah. Dana milyaran rupiah untuk membangun gedung ini, siapapun tidak pernah mimpi akan mampu memiliki duit sejumlah itu. Nyatanya, kita bisa ujudkan. Sebab, kita ini besar, kita ini jama’ah,  kita ini ikhlas beramal. Masalahnya sekarang adalah, mampukah kita terus membesarkan Muhammadiyah dengan adanya tambahan fasilitas ini? Insya Allah. Keberhasilan ini hendaknya juga harus kita jadikan moment untuk menjawab pertanyaan Kyai Dahlan.  Sudahkan masing-masing kalian berbuat untuk keberhasilan ini? Jika belum, mulailah! Dan jika sudah, teruslah berbuat dan berilah manfaat, karena sesungguhnya  khairunnaas anfauhum li naas.

Sekali lagi, apapun keberhasilan yang mampu kita raih, mari kita syukuri sebagai keberhasilan bersama. Contoh tersebut di atas barulah sebagian dari semua yang telah kita perjuangkan di medan dakwah. Masih banyak hal lain yang menunggu buah pikiran kita, menunggu uluran tangan kita, dan menunggu amaliah kita. Berbuatlah seperti matahari-lambang milik Muhammadiyah itu kata Kyai Dahlan. Matahari itu ikhlas memberi dan tidak harap kembali, memberi manfaat bagi siapapun tanpa pernah diminta, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga orang lain mau berbuat apa saja yang seharusnya dibuat dengan kesadarannya sendiri. Syangnya, masih cukup banyak diantara kita yang baru bisa ngomong namun belum mampu mengamalkan, hebat dikala berpendapat dalam forum rapat, namun belum mampu berbuat. Kita belum bisa seperti matahari, dan Kyai Dahlan pun pasti akan tersenyum meskipun disertai istighfar.

Semoga bermanfaat.

Demikian tulisan motivasi dan berbagi rasa dari saudara kita yang berjuang melalui jalan dakwah muhammadiyah di kabupaten Ngawi. Tulisan ini disadur dari tulisan asli yang berjudul oleh Berbagi Rasa MEMBESARKAN MUHAMMADIYAH di Ngawi Oleh: Gunadi Ash Cidiq dalam portal Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi http://ngawi.muhammadiyah.or.id/

Bermuhammadiyah Menurut K.H. Suprapto Ibnu Juraemi (Alm)


Banyak diantara kita bertanya apa itu bermuhammadiyah atau apa itu sebenarnya muhammadiyah. perdebatan ataupun adu argumentasi mewarnai forum-forum diskusi maupun jejaring sosial guna berpendapat mengenai hakikat bermuhammadiyah.

Untuk bisa merenungi hakikat bermuhammadiyah mari kita baca dan hayati apa yang disampaikan oleh K.H. Suprapto Ibnu Juraemi (Alm) tentang makna bermuhammadiyah

Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H.Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw. Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin. Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi, dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin, pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin. Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan ibadah. Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku, lillahi rabbil alamin”.

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.” Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”. Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu. Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan. Hidupku tidak untuk itu. Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua, tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata “wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”. Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin. Oo.., ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yangnamanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun. Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain. Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah. Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup menjawab. Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye, jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir, yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput mobil.

Pertama, Bermuhammadiyah adalah berislam.
Ungkapan ini memang cukup tandas.Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalna haadzal qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar, simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending, kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal. Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat gado-gado. Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif, membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu, diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam. Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam. Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji, itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah, bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya, pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap masalah ini. Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan Islam”.

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja. Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma. Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi, tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua, warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah
Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?” “Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu “Assalamu’alaikum”. Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan “kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab, padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu. Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut. Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab, “Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah. Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal diJogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa. Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman. Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya, dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil, mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka, yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti. Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah. Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi. Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah melangkah lebih lanjut. Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini, selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu. Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa menjawab. Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo, Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain, adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat. Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden, terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta. Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah. Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang senang terhadap duit. Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya, belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi
Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran, sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu, organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya. Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu. Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700 ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu. Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan, ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu. Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti. Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh, orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan, yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya, Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang lalu. Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit, sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi. Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80 ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat. Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut, kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu, maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya, dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30 juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ, yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY, UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada sedikit yang berasal dari IPM/IRM. Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah, koq setelah sholat malah yasinan. Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius. Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan? Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan, tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis dhoif. Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor, sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana, misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami Muhammadiyah tersebut. Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja. Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu, panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan, dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau tidak kita jadikan kader kita.

Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta Berkorban. Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad. Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban. Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.
*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian
di PDM Temanggung Jawa Tengah.
Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.

Demikian apa yang dapat kami sarikan dari web Majelis Tabligh Muhammadiyah mengenai makna bermuhammadiyah semoga bisa menjadikan kita tambah iklas dalam berdakwah sesuai sunnah Nabi Muhammad, tetap tekun dalam berdakwah dibawah ikatan ukhuwah Islamiyah tidak berlebihan dalam berorganisasi.

Dr. IRWAN AKIB : KURBAN ADALAH

Sabtu 4/10/2014 takbir menggeama dalam perayaan hari besar Isalam Idul Adha di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang terletak di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar. Tepatnya di depan kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Ribuan Ummat Islam emadati area itu untuk melaksanakan Salat Idul Adha dengan khotib Dr. IRWAN AKIB

Dalam khutbah tersebut beliau menyampaikan "Ibadah haji dipenuhi oleh manasik-manasik (tatacara dan upacara) yang jika disadari dan dihayati akan menimbulkan rasa kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT, serta rasa persatuan dan persaudaraan di kalangan sesama manusia. Para jemaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka`bah, meniru gerakan elektron-elektron yang bertawaf mengelilingi inti atom serta meniru gerakan planet-planet yang bertawaf mengelilingi matahari. Seluruh isi jagad raya, dari partikel-partikel penyusun materi sampai benda-benda langit, senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah yang mengatur mereka. Dengan melakukan ibadah tawaf yang melambangkan ketaatan alam semesta, diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi." jelas Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., ketika menyampaikan Khutbah Idul Adha 1435 H di Lapangan Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Sabtu (4/10/2014). Beliau adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan PWM Sulsel sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. 

Lebih lanjut ia menguraikan bahwa dalam menunaikan Ibadah Haji beraneka ragam umat manusia yang berbeda-beda warna kulit, bahasa dan adat-istiadat, semuanya memakai pakaian ihram yang sama, melakukan tatacara dan upacara yang sama. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat jelata kecuali ketaqwaan mereka. 

Lebih lengkapnya, berikut kami sampaikan petikan khutbah Idul Adha 1435 H oleh Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.

QORBAN : JALAN KESUKSESAN DAN KEMENANGAN

As-salaamu `alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

Al-hamdu li l-Laahi l-ladzii arsala rasuulahuu bi l-hudaa wa diini l-haqq, li yuzh-hirahuu `ala d-diini kullih, wakafaa bi l-Laahi syahiidaa.Asyhadu an laa ilaaha illa l-Laah, wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan `abduhuu wa rasuuluh, al-ladzii laa nabiyya ba`dah. Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa muhammad, wa `alaa aalihii wa shahbihii wa man waalah.

`Ibaada l-Laah, ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Yaa Rahman, inilah kami para hamba-Mu. Kami datang bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu. Inilah kami, yaa ‘Aziiz, makhluk-makhluk-Mu yang lemah dan tak berdaya, kini duduk di hadapan altar kemuliaan dan keagungan-Mu. Ya Rahiim, inilah kami hamba-Mu yang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa, sering lalai dan alpa, yang acapkali bertengkar untuk memperebutkan bangkai-bangkai dunia; kini kami hadir menyerahkan segenap jiwa dan raga di depan pintu kekuasaan-Mu.  Yaa Rahman, kami hadir berkumpul ditempat ini hanya untuk menggapai ridla dan janji-Mu. Engkaulah Dzat yang maha mengetahui apa yang telah kami lakukan.

Bagi-Mu, segala puji wahai Dzat yang telah menunjuki kami dengan agama-Mu. Kami bersaksi, bahwa tiada Rabb yang patut disembah selain Engkau, wahai Dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia, yang keagungan dan ke-muliaan-Mu tidak akan sirna, meskipun seluruh manusia Kafir dan durhaka kepada-Mu. Yaa Rahman, kami bersaksi, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah utusan-Mu, suri teladan bagi seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga Engkau limpahkan kepada beliau saw, keluarga, kerabat dan shahabat beliau, serta kaum Muslim yang secara konsisten dan konsekuen menjalankan dan mendakwahkan Islam hingga Hari Kiamat.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.Laa ilaaha illa l-Laahu wa l-Laahu Akbar. Allaahu Akbar wa li l-Laahi l-hamd.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Pada hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh penjuru bumi, yang jumlahnya   miliaran  jiwa dan merupakan seperlima penduduk dunia, tersebar dari Maroko sampai Merauke, kini sedang merayakan Idul Adha. Kita sambut hari raya yang mulia ini dengan takbir dan tahmid. Kita agungkan kebesaran Allah, dan kita syukuri nikmat Ilahi. Umat Islam di seluruh penjuru dunia melantunkan Kalimah takbir dan tahmid menggema memenuhi angkasa, menyentuh rasa, menggugah jiwa, dan membangkitkan semangat pada lubuk hati setiap insan yang beriman kepada Allah SWT.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Maha Besar Allah! Selain dari Dia, kecil semuanya!

Pada pagi yang cerah ini, kaum Muslimin dan Muslimat berbondong-bondong memenuhi lapangan, berbaris dalam susunan saf yang teratur rapi, menyatakan ruku’ dan sujud kepada Ilahi.

Pada hari yang mulia ini, di tengah gurun pasir Arabia, di suatu lembah bernama Mina, kini tengah berkumpul jemaah haji dari berbagai bangsa dan negara, dalam rangka menunaikan rukun Islam yang kelima. Kemarin, tanggal 9 Dzulhijjah, mereka telah melaksanakan puncak acara ibadah haji, yaitu wuquf di Padang Arafah.  Jutaan saudara-saudara kita berdatangan dari segenap penjuru bumi, menempuh perjalanan darat yang melelahkan, mengarungi samudera luas bergelombang besar, dan menembus lapisan atmosfer berawan tebal, berdatangan ke tanah suci memenuhi panggilan Ilahi. LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. Inilah saya ya Allah, inilah saya, datang memenuhi panggilan-Mu.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Perintah mengerjakan haji tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 97 yang berbunyi:

Wa li l-Laahi `alaa n-naasi hijju l-baiti man istathaa`a ilaihi sabiilaa. Wa man kafara fa inna l-Laaha ghaniyyun `ani l-`aalamiin

 (“Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam.”)

Panggilan Ilahi kepada manusia untuk berhaji sudah berlangsung ribuan tahun sebelumnya, sejak perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. sekitar 4000 tahun yang silam, sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-Hajj ayat 27 dan 28:

Wa adzdzin fi n-naasi bi l-hajj. Ya’tuuka rijaalan wa `alaa kulli dhaamir. Ya’tiina min kulli fajjin `amiiq, li yasyhaduu manaafi`a lahum

 (“Panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki dan dengan berkendaraan. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.”)

Ibadah haji dipenuhi oleh manasik-manasik (tatacara dan upacara) yang jika disadari dan dihayati akan menimbulkan rasa kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT, serta rasa persatuan dan persaudaraan di kalangan sesama manusia. Para jemaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka`bah, meniru gerakan elektron-elektron yang bertawaf mengelilingi inti atom serta meniru gerakan planet-planet yang bertawaf mengelilingi matahari. Seluruh isi jagad raya, dari partikel-partikel penyusun materi sampai benda-benda langit, senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah yang mengatur mereka. Dengan melakukan ibadah tawaf yang melambangkan ketaatan alam semesta, diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi.

Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 83:

Afa ghaira diini l-Laahi yabghuun, wa lahuu aslama man fi s-samaawaati wa l-ardhi thau`an wa karhan wa ilaihi yurja`uun.

(“Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepadaNya telah tunduk-patuh segala yang di langit dan di bumi dengan rela atau terpaksa, dan kepadaNya mereka akan dikembalikan.”)

Dalam menunaikan ibadah haji, beraneka ragam umat manusia yang berbeda-beda warna kulit, bahasa dan adat-istiadat, semuanya memakai pakaian ihram yang sama, melakukan tatacara dan upacara yang sama. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat jelata kecuali ketaqwaan mereka. Para jemaah haji melakukan wuquf di Padang Arafah, melakukan upacara gladi resik Padang Mahsyar di hari akhirat nanti, sekaligus melakukan reuni di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (Jannatun `Adn). Itulah sebabnya tempat itu dinamai Padang Arafah, artinya “Padang Pengenalan”, agar manusia menghayati persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:

Yaa ayyuhaa n-naas, innaa khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa, wa ja`alnaakum syu`uuban wa qabaa’ila li ta`aarafuu. Inna akramakum `inda l-Laahi atqaakum. Inna l-Laaha `aliimun khabiir

(“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.”)

Dengan penegasan Allah SWT ini maka segala bentuk diskriminasi tidak mendapat tempat dalam masyarakat Islam.  Ajaran Islam sejak semula meniadakan dinding rasial dan jenis manusia lalu mengembalikan manusia itu kepada asal yang satu. Semua manusia berhak untuk berhimpun di bawah perlindungan ajaran Islam tanpa memandang warna kulit dan asal-usul keturunan, bahkan juga tanpa memandang agama dan keyakinan. Islam tidak mengenal batas teritorial, sebab bumi seluruhnya kepunyaan Allah dan segala isinya disediakan Allah untuk manusia. Namun hal ini tidaklah berarti Islam menghapuskan idea nasionalisme. Menurut Surat Al-Hujurat ayat 13 tadi, adanya manusia berbangsa-bangsa adalah kehendak Allah.  Dalam ajaran Islam faham nasionalisme dipelihara dengan makna yang baik, yaitu bersatu untuk mencapai tujuan bersama dari seluruh anggota bangsa itu, serta menjalin hubungan baik dan saling membantu dengan bangsa-bangsa lain.

Allahu Akbar, wa lillahil-hamd.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Pada hari raya Idul Adha yang bersejarah ini, kita juga mengenang Peristiwa Qurban yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim a.s. dan putra beliau, Nabi Isma`il a.s. Kita mengenang peristiwa itu sebagai lambang puncak ketaqwaan dan kesabaran.

Perintah Allah kepada hambaNya, Ibrahim, bukanlah perintah untuk menyembelih hewan sembelihan, melainkan perintah untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, yaitu pemuda Isma`il yang baru berusia 13 tahun dan sangat dikasihi oleh sang ayahanda. Di samping sebagai anak kesayangan, Isma`il merupakan anak satu-satunya bagi Ibrahim saat itu (sebab Ishaq belumlah lahir pada saat perintah Allah itu datang). Isma`il merupakan anak yang diperoleh Ibrahim pada hari tuanya, melalui doa demi doa yang dipanjatkan Ibrahim dalam jangka waktu yang lama, dengan maksud agar memperoleh keturunan yang akan melanjutkan penyebaran ajaran Allah. Isma`il, seorang anak yang dibesarkan dan dididik secara sempurna sehingga tumbuh menjadi pemuda yang hampir tiada cacat dari segala aspeknya, kini diperintahkan untuk disembelih oleh tangan ayahnya sendiri.

Sungguh suatu cobaan yang amat sangat berat bagi seorang ayah, kita dapat merasakan dan membayangkannya. Namun karena yang memerintahkan itu adalah Allah, maka perintah penyembelihan itu disanggupi Ibrahim tanpa ragu-ragu. Ketika perintah Allah itu disampaikan oleh Ibrahim kepada sang anak, dan ketika Isma`il ditanyai pendapatnya oleh sang ayah, maka Isma`il yang masih dalam usia remaja itu menjawab:

(“Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah. Insya Allah, ayah akan mendapatiku sebagai anak yang shabar.”) (QS. As-Shaffat 102)

Maka Ibrahim membawa Isma`il ke daerah Mina, ke suatu bukit yang kini disebut Jabal Qurban. Tiga kali Iblis menggoda Ibrahim untuk membatalkan niatnya, dan tiga kali pula Ibrahim menolak rayuan Iblis dengan lontaran kerikil. Penolakan terhadap godaan syaithan ini diabadikan Allah berupa syari`at melontar tiga jumrah di Mina bagi para jemaah haji. Setelah Isma`il direbahkan pada batu landasan penyembelihan, dan pedang ayahnya telah siap hendak menyentuh lehernya, maka ketika itu Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana berfirman agar Ibrahim mengganti sembelihannya dengan seekor domba yang besar. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya ini benar-benar hanya ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor domba yang besar.”) (As-Shaffat 106 – 107)

Peristiwa Qurban ini melukiskan perpaduan keinginan yang teguh dari ayah dan anak, generasi pendahulu dan generasi penerus, yang sama-sama menempatkan pengabdian dan ketaatan kepada Allah di atas segala-galanya. Peristiwa Qurban ini menggambarkan sifat keteguhan iman, ketabahan hati serta kerelaan berkorban, yang dilandasi sikap menumpahkan kecintaan hanya kepada Allah semata-mata. Istilah ‘qurban’ berasal dari kata sifat qarib (dekat) dan kata kerja qaraba (mendekat). Pengertian ini erat hubungannya dengan proses taqarub, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Mendekat” artinya “memperkecil jarak”, dan hal ini akan terlaksana jika seseorang memiliki kecintaan apa yang akan dia dekati. Tanpa adanya rasa cinta, tidak mungkin kita tergerak untuk mendekati sesuatu. Oleh karena itu ibadah qurban merupakan manifestasi kecintaan yang luhur kepada Sang Maha Kekasih, yaitu Allah SWT.

Semangat dan kerelaan berqurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma`il a.s. hendaklah menjiwai sikap hidup kita, sehingga kita dapat menunaikan perintah Allah untuk berjuang dijalanNya dengan amwal wa anfus (harta dan potensi diri). Marilah kita jadikan Idul Adha sekarang ini sebagai momen penggugah kesadaran kita untuk secara bersama-sama mencurahkan pikiran, tenaga dan dana untuk membantu saudara-saudara kita yang saat ini tengah dilanda berbagai kesulitan hidup, misalnya tertimpa bencana alam atau pun yang putra-putrinya tidak dapat bersekolah karena kekurangan biaya.

Mudah-mudahan rasa persaudaraan di antara seluruh anggota masyarakat senantiasa terealisasi dengan perbuatan nyata, sehingga kita menjadi pribadi-pribadi taqwa, yaitu orang-orang yang “memberikan apa yang dia miliki untuk mensucikan diri, meski tidak seorang pun menganugerahinya balas jasa, melainkan semata-mata mencari Wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan pasti dia akan memperoleh ridha”

Allahu Akbar wa Lillahil-hamd.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia.

Allah SWT telah menakdirkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang umat Islamnya paling banyak di muka bumi. Suatu hal yang sering dilupakan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah adalah kenyataan dan fakta-fakta tak terbantah bahwa agama Islam telah menanamkan benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya. Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.

Betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.

Ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surat Alu Imran ayat 102: “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan selalu ingatlah nikmat Allah atas kamu sekalian, ketika dahulunya kamu bermusuhan  maka Dia mempersatukan di antara hati kamu sekalian, sehingga jadilah kamu dengan nikmat-Nya satu bangsa yang bersaudara.”

Hadirin dan hadirat yang berbahagia.

Akhirnya, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah `Azza wa Jalla. Semoga Dia berkenan mengabulkan segala permohonan kita.

Allahumma Ya Rabbana, telah banyak Engkau berkahi kami dengan rahmat karunia-Mu, namun kami sering menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, sehingga kami malu berdoa kepada-Mu. Namun, kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampun Ya Allah, kecuali hanya kepada-Mu. Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap pada-Mu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunan-Mu meliputi segala sesuatu.

Karena itu
·         Ya Allah, terangilah hati dan otak kami sehingga kami faham yang benar itu benar untuk kami ikuti dan yang salah itu salah untuk kami hindari.
·         Ya Allah, Yang Maha Pengampun, maafkan dosa-dosa dan dusta kami, dan beri kami kekuatan untuk tidak larut di dalamnya. Tanpa maaf dan ampunanMu ya Allah, akan sangat sukar bagi kami untuk bergerak menuju cahayaMu, cahaya yang menerangi langit dan bumi.
·         Ya Allah, tetapkan kami istiqamah di atas jalan-Mu, hidup beriman dan bertaqwa.
·         Ya Allah, hindarkan kami dari kehidupan hawa nafsu, boros, mubazzir dan bermewah-mewah.
·         Ya Allah, suburkan rasa kasih sayang di antara kami sebagai mana Engkau menyayangi hamba-hamba-Mu
·         Ya Allah, ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami dan dosa semua orang muslim dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah mati.
·         Ya Allah, masukkanlah kami dalam golongan hamba-hamba-Mu yang taat,  bersama nabi-nabi shiddiqian, syuhada dan orang-orangyang shalih.
·         Ya Allah, jadikanlah kami, keluarga kami dan keturunan kami  muslim yang taat.

Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Kabulkanlah doa permohonan kami.

Rabbanaa aatinaa fi d-dunyaa hasanah, wa fi l-aakhirati hasanah, wa qinaa `adzaaba n-naar, wa hamdulillahi rabbil `aalamiin

Wa s-salaamu `alaikum wa rahmatu l-Laahi wa barakaatuh

Demikian naskah khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Dr. IRWAN AKIB di Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar. Tepatnya di depan kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Semoga setelah perayaan hari besar ini iman dan takwa kita senantiasa bertambah

IMM Launching Saung Pencerah


Jakarta (27/09/14).  Kabar Persyarikatan datang dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. IMM baru-baru ini mengadakan terobosan kreatif yakni membuat sebuah saung, Yakni Saung Pencerah. Saung Pencerah bukanlah plesetan sari film Sang Pencerah, namun benar-benar merupakan saung yang kemudian dinamai Pencerah.

Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) pada Sabtu, 27 September 2014 kemarin telah melounchingkan Saung Pencerah yang bertempat di Jl. Dakota Raya V Kompleks Angkasa Pura Blok Q 26 RT 014/06 Kel. Kebon Kosong  Kec. Kemayoran Jakarta Pusat. Saung pencerah adalah rumah kader sekaligus pusat pembinaan dan pendidikan, kajian/riset, advokasi, dan konseling yang didirikan oleh DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah periode 2014-2016. Saung pencerah merupakan laboratorium keilmuan. Ditempat ini akan dilaksanakan pendidikan gratis bagi anak yatim piatu dan masyarakat kurang mampu sebagai bentuk dan upaya IMM untuk mencerahkan dan mencerdaskan generasi muda yang berakhlakul karimah. Kegiatan Lonching Saung pencerah dihadiri oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sekjed Kornas FOKAL IMM, Direktur LAZISMU, Kader IMM, Pemerintah DKI Jakarta dan warga setempat. 

Hazwarly selaku Sekretaris Jendral Koordinator Nasional Forum Komunikasi Alumni IMM (FOKAL IMM), dalam arahannya menyatakan IMM harus mampu membuat gerakan dan terobosan baru untuk pencerdasan bangsa. Dalam sambutannnya Beni Pramula selaku Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mengatakan bahwa “Saung Pencerah ini adalah bentuk aksi nyata DPP IMM dalam membumikan gerakan IMM, kepedulian terhadap masyarakat dan pembinaan generasi bangsa, sebagai upaya menduniakan gerkan dakwah Muhammadiyah untuk indonesia berkemajuan dan dari saung ini bisa melahirkan kader-kader yang bisa berkompetensi di dunia global nantinya”

Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dihadiri oleh Prof. DR. H. Dadang Kahmad, MA berpesan jadilah Saung Pencerah ini seperti lebah ia akan hinggap di tempat yang bersih dan akan menghasilkan madu (bermanfaat) bagi masyarakat sekitar. Muhammadiyah akan selalu memperhatikan IMM dalam melakukan gerakan yang positif bagi masyarakat. Khoirul Muttaqin selaku Direktur LazisMu mengharapkan agar kader-kader IMM menjadi kader kreatif seperti orang-orang sukses di dunia sebut saja pendiri Microsoft, facebook, Samsung, dan lain-lain. Dalam kesempat itu LazisMu akan memberikan support kepada Saung Pencerah dan akan memberikan beasiswa kepada anak-anak didikan Saung Pencerah yang berprestasi nantinya.

Demikian laporan mengenai Saung Pencerah seperti dilansir muhammadiyah.or.id terobosan oleh IMM Pusat, semoga mengispirasi lahirnya terobosan-terobosan dakwah sehingga menjadikan dakwah Muhammadiyah menjadi lebih segar dan menarik sesuai dengan zamannya.

Jamaah Idul Adha 1435 H Sulawesi Selatan Membludak

Makassar - Jamaah salat Idul Adha di komplek Pusat dakwah Muhammadiyah Sulawesi selatan membludak. Ribuan ummat Islam memadati halam Pusat dakwah Muhammadiyah tersebut pagi-pagi sekali guna mengikuti jamaah salat Idul Adha tahun 2014 ini.

Seperti dilansir muhammadiyah.or.id Takbir berkumandang memecah sunyi dipagi hari. Dinginnya pagi tak menghalangi mereka untuk melangkahkan kaki. Pagi itu, Sabtu 4/10/2014 takbir itu berkumandang diseantero negeri tak terkecuali Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang terletak di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar. Tepatnya di depan kampus Universitas Hasanuddin Makassar.

Ribuan jamaah memadati halaman PUSDAM Sulsel, singkatan dari Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Jamaah mulai berdatangan sejak pukul 06.00 pagi bahkan ada yang datang sebelumnya agar mendapatkan posisi terdepan. Tak pelak, kemacetan pun tak dapat dielakkan. Polisi Lalu Lintas yang mengatur jalan pun kewalahan. Apalagi setelah ied berlangsung, kemacetan panjang pun terjadi.

Tampil sebagai khatib yakni Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dan imam shalat ied yakni ustad Lukman, mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Universitas Muhammadiyah Makassar. (ardi)

Suasana Idul Adha 1435 H di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, 4 Oktober 2014







Demikian yang dapat Muhammadiyah Post Laporkan kepada seluruh warga Muhammadiyah di selruh penjuru tanah air, apabila di sekitar anda ada kegiatan yang layak untuk disebar luaskan agar menambah manfaat bagi yang lain terutama bagi dakwah Islamiyah, kami akan dengan sangat senang memuat dan menyebarkannya. Sekian laporan dari tanah Sulawesi selatan mengenai pelaksanaan salat Idul Adha

Lazis Muhammadiyah Bagikan Daging Kepada 500 KK di Desa Jrakah


Boyolali- Lazismu atau Lembaga Zakat Infaq dan Sodaqoh Muhammadiyah bekerja sama dengan Extrajos telah mengadakan kegiatan yang merupakan wujud berkasih sayang sesama muslim di daerah Selo kabupaten Boyolali. Dalam kegiatan ini berhasil membagikan 500 paket daging.

Lembaga Zakat Infaq dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) bekerjasama Extrajoss dari PT Bintang Toedjoe melaksanakan penyembelihan hewan Qurban dalam rangka Idul Adha yang dilakukan pada Ahad (5/10) atau 11 Dzulhijjah 1435 H di desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

Menurut Area Manager Yogyakarta-Jawa Tengah Lazismu Sigit Nugroho, pemilihan desa Jrakah di Kabupaten Boyolali adalah karena minimnya hewan Qurban yang dapat dibagikan pada warga kurang mampu di sekitar wilayah tersebut. “Area (desa) Jrakah ini dipilih karena masih kurangnya hewan Qurban yang dapat dibagi pada warga, pada sisi lain kami juga ingin menumbuhkan semangat berkurban pada masyarakat mampu di sekitar sini,” jelasnya. Sigit menambahkan, selain banyaknya masyarakat tidak mampu, rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan qurban dan berbagi pada sesama di wilayah tersebut juga turut memberikan faktor minimnya hewan Qurban yang disembelih.

Sementara itu Cosmas Era Hernadi Area Manager Extrajoss wilayah Yogyakarta mengungkapkan, Extrajoss telah berkomitmen untuk terus memberikan manfaat pada masyarakat yang salah satunya dengan program Qurban 1 Miliar yang terbagi di empat puluh titik se Indonesia. Untuk Desa Jrakah, Extrajoss menurut Cosmas memberikan satu sapi berjenis limosin yang diserahkan secara langsung pada Lazismu sebagai mitra distribusi dan juga Takmir Masjid Jami’ Al Makmur sebagai tempat penyembelihan. Jumlah hewan qurban yang disembelih pada kesempatan tersebut berjumlah dua sapi dan lima belas kambing yang berasal dari Extrajoss, Lazismu, dan juga masyarakat. Hewan qurban tersebut nantinya akan dibagikan pada limaratus kepala keluarga yang terbagi di dua pedukuhan.

Demikian laporan yang dapat Muhammadiyah Post laporkan pada kesempatan kali ini semoga bermanfaat dan mengispirasi kita dalam berkegiatan sebegai perwujudan takwa kepada Allah Swt dalam event perayaan Idul Adha tahun 2014 ini.

Apel Milad untuk Tingkatkan Semangat Ber-Muhammadiyah


Jakarta - Tepat pada tanggal 8 Dzulhijah 1435 H usia muhammadiyah menginjak 105 tahun. Semarak milad membahana di pelosok negeri memperingati perjuangan dakwah Muhammadiyah. Salah satu kegiatan yang diselengkaran oleh salah satu cabang adalah apel milad, hal ini dimaksudkan untuk menngkatkan semangat ber-Muhammadiyah.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Matraman, Jakarta Timur menggelar Upacara Apel Milad Persyarikatan pada Kamis (2/10/2014). Menurut penanggalan kalender Hijriah, milad kali ini adalah yang ke-105 pada 8 Dzulhijjah 1435 H. Bertindak langsung sebagai pembina upacara adalah Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Matraman, Nandi Rahman.  Adapun perangkat protokoler didominasi oleh guru dan kepala sekolah Amal Usaha Muhammadiyah yang ada di Komplek Perguruan Muhammadiyah Matraman.

Meskipun di usia yang tidak lagi muda, Kepala SD Muhammadiyah 3 Jakarta, Chudrie Sanier menjadi komandan Upacara. Di tengah lapangan komplek Perguruan Muhammadiyah Matraman, beliau memimpin dengan lantang. Sementara itu Kepala SMK Muhammadiyah 6, bapak Suwarto, bertugas membacakan Muqodimah AD/ART Muhammadiyah. Apel dihadiri perwakilan Siswa perguruan Muhammadiyah Matraman, Guru, Karyawan, Ortom, Majelis, dan PRM Se-Matraman. Selain melibatkan guru, yang tampil sebagai Paduan Suara adalah Tim Gabungan antara Siswa SMK Muhammadiyah 6 dan SMA Muhammadiyah 12.

Nandi Rahman sebagai pembina apel menyampaikan sambutan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangka Milad Muhammadiyah tahun ini. Selain itu beliau menyampaikan kepada peserta yang hadir tentang kiprah Muhammadiyah Matraman yang memiliki sejarah panjang. PCM Matraman berdiri sekitar tahun 1965 dan telah mengabdi kepada ummat dan masyarakat hingga kini.

PCM Matraman merupakan satu dari enam PCM yang ada di Jakarta Timur. Di Kecamatan Matraman sendiri ada dua Cabang Muhammadiyah, disamping PCM Matraman ada juga PCM Utan Kayu. Kini PCM Matraman memiliki 4 Pimpinan Ranting Muhammadiyah di beberapa kelurahan yang terpusat di daerah Kayu Manis.

Ketua Majelis Pendidikan Kader PCM Matraman, Dwi Arbyantoro menyampaikan bahwa Apel Milad merupakan awal dari rangkaian acara yang akan dilaksanakan. Setelah itu akan ada kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat Donor darah, Sembako murah, Pengobatan gratis, Khitanan Massal, dan Kemah akbar Muhammadiyah Matraman.

“ Upacara Apel Milad dimaksudkan untuk memperingati hari lahir Muhammadiyah. Menghargai dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang di Muhammadiyah. Membangkitkan ghiroh semangat berjuang para kader Muhammadiyah” tutup Dwi. Apel ditutup oleh penampilan Drumb Band Siswa SD Muhammadiyah yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Demikian laporan tim Muhammadiyah Post mengenai kegiatan milad tersebut, semoga menambah semangat dan bermanfaat di cabang dan ranting lain pada khususnya dan ummat Muslim pada umumnya untuk lebih semangat dalam berdakwah amar ma'ruf nahi munkar.