Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Kisah KH. Ahmad Dahlan Memukul Kentongan


Bagi kader Muhammadiyah atau yang pernah bersekolah di Muhammadiyah, nama KH. Ahmad Dahlan tentu bukanlah sosok yang asing. Pendiri Muhammadiyah yang mendapat gelar pahlawan nasional tersebut adalah sosok yang luar biasa, kontribusinya bagi modernisasi pendidikan dan Islam di Indonesia kala itu masih bisa kita rasakan hingga detik ini, terbukti dengan banyaknya amal usaha Muhammadiyah di berbagai bidang dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Saya pribadi baru “mengenal” beliau secara bertahap saat mulai ber-IPM di SMK. Pelan tapi pasti sosok tersebut menjadi dekat, seiring dengan kedekatan saya dengan organisasi pelajar yang pada akhirnya membawa saya sampai sejauh ini. Maka, kesyukuran saya kepada IPM sebagai organisasi paling dasar yang membentuk saya – adalah sama besarnya dengan rasa terima kasih saya kepada beliau, KH. Ahmad Dahlan yang telah melakukan perubahan luar biasa bagi Indonesia, bahkan dunia lewat didirikannya persyarikatan Muhammadiyah.

Sebuah kisah singkat berikut ini barangkali bisa menjadi penyegar, penegur dan penegar bagi setiap kader Muda yang tengah lengah dan lesu memajukan Persyarikatan. Kita saat ini sudah jauh lebih mudah – dibandingkan beliau saat itu. Kita ini tinggal menjadi melangsungkan, menyempurnakan – dibandingkan beliau yang harus dikucilkan dan dianggap aneh bagi orang kebanyakan saat itu. Kita harus semangat, kalau bukan kita yang menjadi penjaga “rumah” ini, siapa lagi? Jangan sampai kita baru berisik dan berkoar saat “rumah” kita diserobot oleh “oknum” partai nganu, dan lain-lain.

Kejadiannya di sekitar tahun 1921
Suatu siang KHA Dahlan memukul kentongan mengundang penduduk Kauman ke rumahnya. Penduduk Kauman berduyun-duyun ke rumahnya. Setelah banyak orang berkumpul di rumahnya, KHA Dahlan pidato yang isinya menyatakan bahwa kas Muhammadiyah kosong. Sementara guru-guru Muhammadiyah belum digaji. Muhammadiyah memerlukan uang kira-kira 500 gulden untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolah Muhammadiyah.

Karena itu KHA Dahlan menyatakan melelang seluruh barang-barang yang ada di rumahnya. Pakaian, almari, meja kursi, tempat-tempat tidur, jam dinding, jam berdiri, lampu-lampu dan lain-lain. Ringkasnya KHA Dahlan melelang semua barang-barang miliknya itu dan uang hasil lelang itu seluruhnya akan dipakai untuk membiayai sekolah Muhammadiyah, khususnya untuk menggaji guru dan karyawan.

Para penduduk Kauman itu terbengong-bengong setelah mendengar penjelasan KHA Dahlan. Murid-murid KHA Dahlan yang ikut pada pengajian Thaharatul Qulub sama terharu melihat semangat pengorbanan KHA Dahlan, dan mereka saling berpandangan satu sama lain, berbisik-bisik satu sama lain. Singkat cerita, penduduk Kauman itu khususnya para juragan yang menjadi anggota kelompok pengajian Tharatul Qulub itu, kemudian berebut membeli barang-barang KHA Dahlan.

Ada yang membeli jasnya, ada yang membeli sarungnya, ada yang membeli jamnya, almari, meja kursi dsb. Dalam waktu singkat semua barang milik KHA Dahlan itu habis terlelang dan terkumpul uang lebih dari 4.000 gulden. Anehnya setelah selesai lelangan itu tidak ada seorang pun yang membawa arang-barang KHA Dahlan. Mereka lalu sama pamit mau pulang.

Tentu saja KHA Dahlan heran, mengapa mereka tidak mau membawa barang-barang yang sudah dilelang. KHA Dahlan berseru, ”Saudara-saudara, silahkan barang-barang yang sudah sampeyan lelang itu saudara bawa pulang. Atau nanti saya antar?”
Jawab mereka, “Tidak usah Kiai. Barang-barang itu biar di sini saja, semua kami kembalikan pada Kiai.”
“Lalu uang yang terkumpul ini bagaimana?“ tanya KHA Dahlan.
Kata salah seorang dari mereka, “Ya untuk Muhammadiyah. Kan Kiai tadi mengatakan Muhammadiyah perlu dana untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolahnya?”
“Ya, tapi kebutuhan Muhammadiyah hanya sekitar 500 gulden, ini dana yang terkumpul lebih dari 4000 gulden. Lalu sisanya bagaimana?” tanya KHA Dahlan.
Jawab orang itu, “Ya biar dimasukkan saja ke kas Muhammadiyah.

Drs. Sukriyanto AR. M.Hum. (Suara Muhammadiyah No. 13/98/1-15 Juni 2013)

Minggu, 11 September 2016

Perjuangan Cinta Soedirman: Di Muhammadiyah Sang Jenderal Menemukan Belahan Jiwanya



Panglima Besar Jenderal Soedirman terkenal sebagai sosok yang keras dan teguh memegang pendirian. Namun, Jenderal Besar itu juga manusia. Hatinya meleleh di kota terpencil tepi pantai Selatan, Cilacap.

Hatinya tertambat pada seorang gadis. Bukan gadis sembarangan. Siti Alfiah adalah primadona di kota kecil di Jawa Tengah itu. Keduanya bertemu di Perkumpulan Wiworotomo. Ini adalah organisasi intrasekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan sekolah menengah pertama Parama Wiworotomo, Cilacap.”Keduanya sama-sama aktivis di Pemuda Muhammadiyah Cilacap,” kata Sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta, Sardiman.

Alfiah adalah gadis cantik yang tengah beranjak dewasa. Saat itu, banyak laki-laki yang naksir padanya. Sementara Soedirman juga bukan pemuda sembarangan. Pria kelahiran 24 Januari 1916 itu sangat disegani di lingkungannya. Dia pandai berpidato, pemain sepak bola dan teater yang handal serta sangat alim. Bahkan teman-temannya menjuluki dia ‘Kaji’ atau Haji.

“Saat itu Soedirman seorang pemuda top. Banyak gadis tertarik padanya karena aktivitasnya itu. Banyak orangtua yang berebut ingin menjadikan dia sebagai menantunya,” kata Sardiman.

Berbagai cara Soedirman mendekati Alfiah. Soedirman memilih kembang desa itu sebagai bendahara saat menjadi panitia teater agar keduanya bisa lebih dekat. Saat itu Soedirman menjadi ketua panitia. Soedirman juga kerap berkunjung ke rumah Sastroatmodjo, orang tua Alfiah.

Silaturahmi itu berkedok koordinasi internal Muhammadiyah. Kala itu Soedirman termasuk pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Sementara orang tua Alfiah pengurus Muhammadiyah. Dari kebiasaan itulah, teman-temannya mulai menyadari jika Soedirman menaksir Alfiah. Sejak itu, tak ada laki-laki yang berani mendekati Alfiah.

Namun, kisah cinta Soedirman tak berjalan mulus. Cintanya kepada Alfiah tak direstui justru bukan oleh orangtua kembang desa itu. Melainkan oleh paman Alfiah bernama Haji Mukmin, saudagar pemilik hotel.

Mukmin ingin agar Alfiah mendapatkan suami dari kalangan orang kaya. Sementara Soedirman hanya anak ajudan wedana yang bergaji kecil. Akhirnya, semua ongkos pernikahan itu disiapkan oleh ibundanya, agar Soedirman tak disepelekan oleh keluarga Alfiah.

Tapi, sikap Haji Mukmin berubah setelah Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar oleh Presiden Sukarno.

Cinta Soedirman begitu besar pada Alfiah. Dia selalu menyiapkan baju sang istri. Soedirman ingin agar Alfiah selalu terlihat cantik.

Alfiah pun sangat mencintai Soedirman. Dia rela merokok demi sang suami yang tengah tergolek di rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta, bisa mencium aroma rokok. Saat itu, Soedirman meminta Alfiah merokok dan meniupkan asap rokok ke wajahnya. Sejak peristiwa itu, Alfiah menjadi seorang perokok.


Soedirman sudah lama menderita tuberkolosis. Dengan separuh paru-parunya, dia terus bergerilya. Saat itu dia meninggalkan sang istri dan bergerilya di Madiun, Jawa Timur untuk memimpin operasi penumpasan pemberontakan Partai Komunis.

Pada akhir September 1948, Soedirman kembali. Dia berjalan tertatih-tatih memasuki rumah dinasnya di Jalan Bintaran Wetan, Yogyakarta. Soedirman yang terlihat ringkih mengatakan kepada istrinya, dia tak bisa tidur selama di Madiun. Soedirman rupanya begitu terpukul menyaksikan pertumpahan darah yang terjadi antara rakyat Indonesia itu.
 
Malam itu, kendati kondisi kesehatannya menurun, Soedirman tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar mandi air hangat tak diindahkan. Dan inilah awal petaka bagi Soedirman. Esoknya, sang Jenderal terkapar di tempat tidur.

Kendati tengah terbaring sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa dihilangkan. Sesekali, sembari terbaring, dia menghisap rokok kretek. Alfiah tak berani melarang, karena tahu Soedirman memang perokok berat.

Sejumlah dokter tentara memeriksa kesehatannya. Tim dokter muda mendiagnosis ia menderita tuberkolosis, infeksi paru-paru. Keluarga Soedirman meminta dua dokter senior, Asikin Wijayakusuma dan Sim Ki Ay memeriksa Soedirman kembali. Hasilnya tak jauh berbeda. Atas saran Asikin, Soedirman dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Soegiri, bekas ajudan Soedirman, menulis bagaimana saat sang Jenderal dirawat di rumah sakit Katolik itu. Soedirman dirawat di kamar 8 Bangsal Maria, yang berada di bagian depan rumah sakit. Pria kelahiran Purbalingga itu terkena pulmonary tuberculosis. Penyakit itu diketahui Soegiri dari dokter yang merawat Soedirman.

Menurut Soegiri, obat yang dibutuhkan Soedirman hanya ada di Jakarta. Kalaupun sampai di Yogyakarta, obat itu harus melalui jalur penyelundupan. Karena Jakarta saat itu dikuasai tentara sekutu.

Karena Soedirman butuh pengamanan cepat, tim dokter memutuskan melakukan operasi untuk menyelamatkannya dengan cara membuat satu paru-parunya tak berfungsi.

Komplikasinya, kata Soegiri, memang sudah sedemikian rupa, sehingga membuat dokter menempuh cara tersebut. Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernafasan.

Sebulan menjalani perawatan di rumah sakit, Soedirman pulang ke rumahnya di Bintaran. Saat di rumah, Soedirman pernah beberapa kali tak bisa menahan hasrat ingin merokok. Perilaku ini, lagi-lagi justru memperburuk kesehatannya. Soedirman pernah muntah darah. Pada 17 Desember 1948, keajaiban datang. Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat tidur.

Hari itu, kepada istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang, firasat sang Jenderal terbukti: Belanda membombardir Yogyakarta, yang saat itu Ibu Kota Indonesia. Ia pun memilih mengakhiri cutinya.



Dengan diusung tandu, hampir delapan bulan Soedirman keluar masuk hutan memimpin gerilya dari luar Yogyakarta. Pernah ia tidak makan selama lima hari. Dengan perut kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di Pacitan, Jawa Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Rika, suster yang merawat Soedirman, kala itu menulis pengalamannya saat bersama Jenderal Besar ini.

Menurut dia, saat itu Soedirman dirawat dengan nama samaran: Abdullah Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat surat kabar yang naskahnya kini tersimpan di Museum Sasmitaloka. Soedirman memakai nama samaran supaya keberadaannya tidak diketahui Belanda. Beberapa minggu kemudian dia kembali ke rumah.


Firasat Kematian Soedirman
Seolah-olah mendapat firasat hari kematiannya segera tiba, pada 18 Januari 1950, Soedirman meminta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Esok harinya, ia memanggil istri dan tujuh anaknya.

Dia memberi wejangan kepada istri dan anak-anaknya. Tak sepenuhnya pertemuan dengan keluarga itu diisi dengan wejangan. Soedirman juga sempat bergurau. Kepada keluarganya, ia menyatakan sebenarnya ingin seperti Lurah Pakis, kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa meminang cucu.



Pada Senin, 29 Januari 1950, kondisi tubuh Jenderal Soedirman semakin lemah. Berlinang air mata, Siti Alfiah meminta suaminya tegar. Soedirman menatap istrinya dan meminta perempuan yang dicintainya itu menuntunnya membaca kalimat tauhid. Satu kalimat terucap, Soedirman kemudian mangkat.

Soedirman pergi dalam usia muda, 34 tahun. Esok harinya, ribuan orang ikut mengantarkan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Hari itu hujan turun lebat mengguyur Kota Yogyakarta. Tembakan salvo satu regu tentara di pemakaman Semaki mengantar Jenderal Besar itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada 1997, dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.

sumber : http://sangpencerah.id

Senin, 29 Agustus 2016

Revitalisasi Karakter Bangsa


Oleh; Siti Noordjannah Djohantini

Rumusan revitalisasi karakter bangsa sudah dibukukan Muhammadiyah. Satu buku Revitalisasi dan Karakter Bangsa, yaitu hasil dari Tanwir Muhammadiyah di Lampung. Berikutnya dilanjutkan dan lahir buku Indonesia Berkemajuan hasil Muktamar Yogyakarta. Karena itu penting menengok kembali putusan-putusan konsep Muhammadiyah terkait budaya tersebut.

Kaitanya dengan peran ‘Aisyiyah dalam membangun karakter dan budaya bangsa, sebenarnya sumbangsih terbesarnya melalui lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK). Hal ini pernah dijelaskan oleh Prof Muhadjir beberapa waktu lalu. Karena memang salah satu kekuatan terbesar persyarikatan Muhammadiyah adalah pendidikan, dan PAUD bersama TK ‘Aisyiyah dirasa lebih berperan dalam membangun karakter bangsa di banding lembaga pendidikan lainya.

Salah satu karakter yang ingin dibangun Muhammadiyah adalah karakter Indonesia berkemajuan yang merupakan aktualisasi dari Islam berkemajuan. Islam berkemajuan menjadi pandangan, paradigma Muhammadiyah dalam tiap langkah geraknya. Maka tidak perlu pandangan itu dibenturkan dengan pandangan lain yang berbeda. Cukuplah nilai dan karakter yang bersumber dari Islam itu benar-benar bisa diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai itu beragam bentuknya ada keadilan, kebaikan, kedamaian, kemakmuran, dan kemaslahatan. Namun lebih prioritas dari itu semua adalah karakter keutamaan hidup secara dinamis. Yaitu berusaha menampilkan spiritualitas yang dimiliki, yang diyakini menjadi spiritualitas yang dinamis tidak ajeg. Dari keshalihan individu menjadi keshalihan sosial. Artinya tidak sebatas menjadi orang baik yang taat pada nilai spiritual itu, namun lebih dari itu perbuatan baik itu bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi ideologi Muhammadiyah selama ini.

Islam juga yang menggerakkan misi anti peperangan, anti terorisme, dan anti kekerasan dalam bentuk apaun. Entah itu dalam keluarga, kehidupan sosial bermasyarakat, antar agama dalam bentuk penistaan. Pada saat bersamaan nilai itu menjunjung tinggi kemuliaan laki-laki dan perempuan. Karena kesetaraan laki-laki dan perempuan harus menjadi pandangan dan selama ini Muhammadiyah sudah melakukan itu. Karakter ini penting agar ke depan tidak ada lagi kasus diskriminasi perempuan dalam kehidupan bernegara. Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan media yang menayangkan berbagai kasus kejahatan yang korbannya adalah perempuan. Kasus ini bagai gunung es, yang mencuat ke permukaan adalah sebagian kecil saja. Padahal Al-Qur’an sendiri memberikan tempat yang sama antara perempuan dan laki-laki. Semua manusia di hadapan Allah sama, yang membedakan hanya ketakwaannya.

Dengan semangat mengangkat derajat wanita sama dengan derajat laki-laki inilah pula yang menjadi salah satu alasan dinobatkannya KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah sebagai pahlawan nasional.

Agar lebih menguatkan dan memudahkan implementasi nilai-nilai itu, lebih utama kita sebagai orang Indonesia merubah sifat-sifat buruk seperti suka mencela dan korupsi yang dampaknya luar biasa terhadap maju tidaknya bangsa. Bahkan sifat-sifat dan karakter seperti itu cenderung melemahkan diri sendiri maupun melemahkan secara kolektif dalam kehidupan berbangsa. Bukan berarti tidak mencela dan tidak mencemooh itu artinya pasif, sikap kritis tetap harus dipertahankan, yang dihilangkan adalah kebiasaan mengolok-olok orang lain.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Minggu, 28 Agustus 2016

Din Syamsuddin: Muhammadiyah Bukan Paguyuban !


MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA- Muhammadiyah adalah suatu gerakan pencerahan bagi umat maupun bangsa. Muhammadiyah bukan hanya suatu persyarikatan, melainkan suatu gerakan.
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah periode 2005-2015, Din Syamsuddin pada Sabtu (27/8) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta saat menjadi pembicara dalam Muktamar Nasyiatul Aisyiyah (NA) ke-XIII mengatakan. “Muhammadiyah menempatkan dirinya sebagai gerakan, dengan tujuan utama lebih dari sekedar organisasi,” tuturnya.
“Organisasi itu sebuah perkumpulan yang berbasis sistem, dan jika tidak memiliki sistem itu namanya adalah paguyuban. Muhammadiyah saat ini posisinya di atas paguyuban dan organisasi, akan tetapi Muhammadiyah ingin lebih tinggi lagi yakni sebuah gerakan,” jelas Din.
Din mengungkapkan bahwa ada dua faktor kekuatan pada gerakan Muhammadiyah, yakni proses yang dinamis dan sistematis untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam konsep Indonesia berkemajuan, Din kembali memaparkan selama 71 tahun Indonesia merdeka, seyogyanya sudah cukup membawa kita pada perwujudan cita-cita nasional terhadap Indonesia berkemajuan.
“Cita-cita nasional terhadap Indonesia berkemajuan itu adalah Indonesia yang maju, adil, makmur, berdaulat dan bermartabat,” kata Din.
Kembali dilanjutkan Din, apa yang kita saksikan saat ini sebenarnya menjauh. Karena ada gejala defiasi dan distorsi dari makna cita-cita tersebut.
Oleh sebab itu ini yang harus disadari oleh pemimpin dan tokoh bangsa kita bahwa sesungguhnya saat ini tidak pada jalan yang benar dalam meraih cita-cita nasional itu. Baik dalam hal politik maupun ekonomi.
Din berharap bahwa segala persoalan tersebut dapat dikoreksi dengan baik, sehingga nantinya konsep Indonesia berkemajuan tersebut akan benar-benar terwujud dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, serta dapat mengamalkan konsep tersebut kedalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Dan itulah yang ingin diwujudkan oleh Muhammadiyah sebagai suatu gerakan yang lebih dari sekedar suatu organisasi,” ucap Din.
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu tersebut menyampaikan bahwa kita harus menghargai perjuangan tokoh Muhammadiyah terdahulu dalam membantu mendirikan bangsa ini, karena lewat beberapa pemikiran merekalah dan juga tokoh dari ormas lainnya yang menjadi akar penentu berdirinya bangsa Indonesia

Minggu, 31 Juli 2016

Ini Pesan Penting untuk Kepala Sekolah Muhammadiyah



MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -- Kepala sekolah Muhammadiyah se-Indonesia diminta untuk bekerja lebih kreatif dan produktif dalam memajukan amal usaha pendidikan Persyarikatan. Ini agar sekolah Muhammadiyah memiliki keunggulan daya saing dalam hal kualitas dan kwantitas.

"Kepala sekolah itu pada dasarnya dia bukan guru ya! Kepala sekolah itu manager!" tegas Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy kepada Muhammadiyah.or.id, di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pekan kemarin.

Ia mengatakan, kepala sekolah Muhammadiyah diharapkan tidak hanya sekedar mengajar seperti guru biasa, namun juga harus memikirkan pembangunan fisik dan non fisik sekolah. "Kepala sekolah itu jangan terus mengajar," tuturnya.

Kepala sekolah Muhammadiyah, menurut Muhadjir, harus kreatif dalam hal fundraising. Yakni kepala sekolah diharapkan bisa mencari dana-dana dari luar lingkungan sekolah. Sebab, kata dia, pencarian dana ini sangat penting bagi pembangunan sekolah. Ia menilai, dana pembangunan tidak juga harus membebankan kepada orang tua siswa.

"Itu harus selalu di dalam pikiran seorang manager. Karena tidak mungkin, mengembangkan sekolah dari segi finansial itu, mengandalkan semuanya dari sumbangan orang tua," katanya.

Karena itu, tambah Muhadjir, kepala sekolah Muhammadiyah harus punya upaya untuk mencari alternatif fundraising. Jika fundraising berjalan dengan baik, hal itu akan berpengaruh pada kemajuan pembangunan sekolah.

Dalam kesempatan ini, Muhadjir pun menjelaskan, kepala sekolah Muhammadiyah harus selalu mendorong gurunya meningkatkan kapasitas diri. Guru, terang dia, tidak sekedar mengalihkan atau menyalurkan pengetahuan saja (transfer knowledge), tapi dia juga harus memiliki keteladanan sebagai sosok yang diteladani oleh siswa.

Dan hal yang terpenting, menurut Muhadjir, kepala sekolah harus mampu menanamkan rasa kebanggaan kepada siswanya menjadi siswa Muhammadiyah. "Itu yang harus dipompakan betul," katanya.

Dikatakan Muhadjir, jangan sampai para siswa kehilangan gairah dan kepercayaan diri sebagai siswa di sekolah Muhammadiyah. "Apalagi kalau sekolah Muhammadiyah itu bukan sekolah favorit," ujarnya.

Soal ini pun, untuk memperkuat kepercayaan diri dari siswa yang telah ditolak dari beberapa sekolah dan mendaftar ke sekolah Muhammadiyah.

"Itu penting sekali untuk membangkitkan kepercayaan diri. Jangan sampai dia merasa masuk sekolah buangan," katanya.

Sekolah Muhammadiyah, menurut Muhadjir, adalah sekolah yang lebih mengedepankan pada pembinaan moral dan pembinaan akhlak.  Konsep inilah yang harus dipahami kepala sekolah Muhammadiyah.

"Moral itu sumber utamanya dari keteladanan. Berarti ada orang yang memiliki nilai signifikan bagi murid-muridnya, guru!"

Kepala sekolah Muhammadiyah, kata mantan rektor UMM ini, harus memiliki perhitungan yang baik juga terkait calon-calon siswanya. Sebab, menurutnya, calon siswa yang akan sekolah di sekolah Muhammadiyah itu akan mempengaruhi terhadap nilai sekolah itu sendiri.

Yakni, terang Muhadjir, kepala sekolah, idealnya sudah mengetahui berasal dari mana saja calon siswa-siswanya itu, terutama calon siswa sekolah menengah pertama atau atas. Kepala sekolah, katanya, jangan sampai pasif menunggu calon siswanya mendaftar ke sekolah. "Jadi tidak bisa hanya menunggu," ucapnya.

Sekolah Muhammadiyah, dalam hal ini, kata dia, harus memiliki standar nilai beda untuk calon siswanya. Namun, untuk mengundang calon siswa yang berkualitas, sekolah Muhammadiyah pun harus punya nilai beda, baik dari segi akademik ataupun non akademik.

Minimal, menurut Muhadjir, sekolah Muhammadiyah ada satu keunggulan yang selalu ditunjukkan kepada masyarakat. Jika satu keunggulan ini dimiliki, maka, hal itulah yang menjadi nilai lebih bagi sekolah Muhammadiyah untuk terus mencerdaskan bangsa.

Ketua PP Muhammadiyah Resmi Jadi Mendikbud Gantikan Anies Baswedan


SangPencerah.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengumumkan susunan baru kabinet kerja hasil reshuffle jilid II di halaman Istana Negara, Jakarta, tepat pukul 11.00 WIB. Ada sembilan wajah baru di Kabinet Kerja. Presiden Jokowi mengatakan, ke-12 menteri baru dan Kepala BKPM akan dilantik pada pukul 13.30 WIB.
Presiden Jokowi mengatakan bahwa perombakan kabinet dilakukan salah satunya dengan pertimbangan agar kabinet yang dia pimpin bisa bekerja lebih cepat, efektif, solid dan saling mendukung.
Diantara Menteri terpilih muncul nama baru Prof.Dr Muhadjir Effendy. Beliau saat ini menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dipercaya Presiden Jokowi untuk menggantikan Anies Bawesdan. (sp/mch)