Jumat, 21 November 2014

Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah


Ada yang belum tahu Sejarah Muhammadiyah. Jika ada belum tahu sejarah berdirnya Muhammadiyah mungkin anda perlu membaca artikel ini sampai selesai. Meskipun artikel ini hanya menyajikan Sejarah singkat Muhammadiyah semoga bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bagaimana sejarah berdirinya Muhammadiyah dan perjuangan Muhammadiyah.

***


Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.

Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”

Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Ssudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif.

Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.

Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” (Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam ”Statuten Muhammadiyah” yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, ”Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya ”Muhammadiyah” dan tempatnya di Yogyakarta”. Sedangkan maksudnya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Igama kepada anggauta-anggautanya.”
Terdapat hal menarik, bahwa kata ”memajukan” (dan sejak tahun 1914 ditambah dengan kata ”menggembirakan”) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan kata-kunci yang selalu dicantumkan dalam ”Statuten Muhammadiyah” pada periode Kyai Dahlan hingga tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun 1921, Tahun 1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914: Maksud Persyarikatan ini yaitu:
Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia Nederland,
dan Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya.
Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan.

Pada AD Tahun 1946 itulah pencantuman tanggal Hijriyah (8 Dzulhijjah 1330) mulai diperkenalkan. Perubahan penting juga terdapat pada AD Muhammadiyah tahun 1959, yakni dengan untuk pertama kalinya Muhammadiyah mencantumkan ”Asas Islam” dalam pasal 2 Bab II., dengan kalimat, ”Persyarikatan berasaskan Islam”. Jika didaftar, maka hingga tahun 2005 setelah Muktamar ke-45 di Malang, telah tersusun 15 kali Statuten/Anggaran Dasar Muhammadiyah, yakni berturut-turut tahun 1912, 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950 (dua kali pengesahan), 1959, 1966, 1968, 1985, 2000, dan 2005. Asas Islam pernah dihilangkan dan formulasi tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan pada tahun 1985 karena paksaan dari Pemerintah Orde Baru dengan keluarnya UU Keormasan tahun 1985. Asas Islam diganti dengan asas Pancasila, dan tujuan Muhammadiyah berubah menjadi ”Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala”. Asas Islam dan tujuan dikembalikan lagi ke ”masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” dalam AD Muhammadiyah hasil Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta.

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. Kyai Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (‘aqidah), ibadah, mu’amalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad.
Mengenai langkah pembaruan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut:”Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah, dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.”.

Adapun langkah pembaruan yang bersifat ”reformasi” ialah dalam merintis pendidikan ”modern” yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek ”iman” dan ”kemajuan”, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36). Lembaga pendidikan Islam ”modern” bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu. Pendidikan Islam “modern” itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga pendidikan umat Islam secara umum.
Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda.

Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Ma’un. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan ”teologi transformatif”, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan ”hablu min Allah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah ”teologi amal” yang tipikal (khas) dari Kyai Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.

Kyai Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kutab Suci umat Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Dahlan menganjurkan atau mendorong ”umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang inheren dalam ajaran-ajarannya”, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya beranggapan bahwadiskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002: 78) .

Kepeloporan pembaruan Kyai Dahlan yang menjadi tonggak berdirinya Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan ‘Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan. Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan, dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak bersentuhan dengan ide atau gerakan ”feminisme” seperti berkembang sekarang ini. Artinya, betapa majunya pemikiran Kyai Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni yang berkemajuan.

Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi Hadikusuma (t.t: 69) telah menampilkan Islam sebagai ”sistem kehidupan mansia dalam segala seginya”. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan mu’amalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam akhlak dan mu’amalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.

Kyai Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan cerdas. Menurut Kyai Dahlan, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005). Kyai Dahlan tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan mengerahkan seluruh kekuatan akal piran dan ijtihad.

Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Ma’un, Kyai Dahlan mendidik untuk mempelajari ayat Al-Qur’an satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): ”bagaimanakah artinya? bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana maksudnya? apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? sudahkah kita menjalankannya?” (Ibid: 65). Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo, cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan.

Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:
Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
dan Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat
(Junus Salam, 1968: 33).

Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir, 1990: 332).

Kendati menurut sementara pihak Kyai Dahlan tidak melahirkan gagasan-gagasan pembaruan yang tertulis lengkap dan tajdid Muhammadiyah bersifat ”ad-hoc”, namun penilaian yang terlampau akademik tersebut tidak harus mengabaikan gagasan-gagasan cerdas dan kepeloporan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, yang untuk ukuran kala itu dalam konteks amannya sungguh merupakan suatu pembaruan yang momunemntal. Ukuran saat ini tentu tidak dapat dijadikan standar dengan gerak kepeloporan masa lalu dan hal yang mahal dalam gerakan pembaruan justru pada inisiatif kepeloporannya.

Kyai Dahlan dengn Muhammadiyah yang didirikannya terpanggil untuk mengubah keadaan dengan melakukan gerakan pembaruan. Untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia, berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa: ”Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”
Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan. Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli yakni Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan.

Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhammadiyah ialah, bahwa gerakan Islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur perorangan, tetapi melalui sebuah sistem organisasi. Menghadirkan gerakan Islam melalui organisasi merupakan terobosan waktu itu, ketika umat Islam masih dibingkai oleh kultur tradisional yang lebih mengandalkan kelompok-kelompok lokal seperti lembaga pesantren dengan peran kyai yang sangat dominan selaku pemimpin informal. Organisasi jelas merupakan fenomena modern abad ke-20, yang secara cerdas dan adaptif telah diambil oleh Kyai Dahlan sebagai “washilah” (alat, instrumen) untuk mewujudkan cita-cita Islam.

Mem-format gerakan Islam melalui organisasi dalam konteks kelahiran Muhammadiyah, juga bukan semata-mata teknis tetapi juga didasarkan pada rujukan keagmaan yang selama ini melekat dalam alam pikiran para ulama mengenai qaidah “mâ lâ yatimm al-wâjib illâ bihi fa huwâ wâjib”, bahwa jika suatu urusan tidak akan sempurna manakala tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya. Lebih mendasar lagi, kelahiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi, juga memperoleh rujukan teologis sebagaimana tercermin dalam pemaknaan/penafsiran Surat Ali Imran ayat ke-104, yang memerintahkan adanya “sekelompok orang untuk mengajak kepada Islam, menyuruh pada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar”. Ayat Al-Qur‘an tersebut di kemudian hari bahkan dikenal sebagai ”ayat” Muhammadiyah.

Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Qur‘an Surat Ali Imran 104 tersebut ingin menghadirkan Islam yang mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid 

Demikian sejarah singkat Muhammadiyah yang dapat kami paparkan kepada anda yang belum begitu paham dengan sejarah berdirinya Muhammadiyah. Semoga memberikan kita wawasan dan semangat dalam berdakwah Islam Amar Ma'ruf Nahi Munkar memberantas Takhayul Bid'ah dan Churafat di tengah-tengah masyarakat Islam

Sepotong Kado Milad Muhammadiyah IMM Sleman

Milad Muhammadiyah yang jatuh pada Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) selalu diperingati dengan semangat yang selalu bertambah dalam berdakwah. Ekspresi kegembiraan dan bertambahnya semangat dalam berdakwah Muhammadiyah digambarkan dalam berbagai maca kagiatan. Misalnya seperti berita berikut ini :

Sleman - Turnamen futsal antar Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) se Kabupaten Sleman telah diselenggarakan oleh DPD KNPI Sleman, di Planet Futsal, Ahad (16/11)Turnamen ini diikuti 15 tim dari setiap OKP yang bernanung di bawah KNPI Sleman. Dengan mengambil tema “Pemuda bersatu, Sleman maju”. Harapan dengan diselenggarakannya turnamen ini adalah agar pemuda yang menjadi harapan bangsa tetap terus menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan, karena dari padanya akan melahirkan integritas-sportifitas dalam hidupnya kapan pun dan dimana pun.

Ketua panitia Muhamamd Habibi Miftakhul Marwa menegaskan Hal itu juga bisa dimulai dari pertandingan futsal. Jadi turnamen kali ini bukan hanya untuk menentukan siapa yang menang dan kalah, tetapi bagaimana dalam setiap diri pemain dari OKP tersebut menanamkan jiwa-jiwa sportifitas-pejuang sejati untuk menjadi bagian dalam kemajuan bangsa Indonesia.

Selain itu, dalam sambutannya sebagai ketua umum DPD KNPI Sleman, Saudara Sukron Arif Muttaqin.SE, menyatakan bahwa turnamen yang baru pertama kali digelar oleh KNPI Sleman ini akan dijadikan ajang untuk mencari bibit-bibit atlet dari unsur pemuda Sleman yang kemudian akan diajukan kepada pemerintah agar mendapat pembinaan yang maksimal untuk dapat mengharumkan nama baik Kabupaten Sleman dengan segala prestasinya. DPD KNPI Sleman akan terus berkomitmen sekaligus berkontribusi demi memajukan Kabupaten Sleman lewat peran pemudanya.

Sedangkan, perwakilan dari KONI Kabupaten Sleman, dalam sambutanya menegaskan akan harapan besarnya terhadap peran pemuda tidak selalu ditunutut pemuda tersebut harus terjun di dunia politik atau wirausaha demi memajukan negaranya, tetapi dengan hoby yang senantiasa diasah dengan maksimal dan menghasilkan prestasi, baik tingkat lokal atau nasional, atau bahkan internasional, itu menjadi bagian kontribusi pemuda untuk negerinya.

Sujud syukur dilakukan oleh pemain dan suporter dari IMM Sleman ketika wasit di menit akhir membunyikan peluitnya dengan score 3-1 melawan Pemuda Demokrat. Piala Bupati Sleman sekaligus uang pembinaan tahun 2014 secara otomatid jatuh ditangan sang juara pertama dari turnamen ini yaitu OKP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Sleman. Sedangkan pemain terbaik jatuh ditangan IMMawan Muhammad Irfan (Ketua bidang seni budaya dan olah raga PC IMM Sleman 2013-2014). Juara kedua diraih oleh OKP Pemuda Demokrat dan juara ketiga dan keempat dari OKP Sapma Pemuda Pancasila. Top Score kali ini diraih oleh saudara Amar dari IPNU dan tim paling sportif diberikan kepada Pemuda Muhammadiyah.

Kemenangan IMM dalam turnamen ini bukan semata untuk IMM secara institusi, tetapi sebagai bentuk kontribusi IMM Kabupaten Sleman untuk Republik sebagaimana tema Milad Muhammadiyah ke 102 M/105 H untuk menjadi “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Kemenangan ini sekaligus sebagai kado Milad Muhammadiyah dari IMM Sleman, tegas IMMawan Muhammad Irfan dan IMMawan Khoirul Anwar seusai pertandingan.

Demikian berita mengenai kado Milad Muhammadiyah dari IMM Sleman semoga bisa menginspirasi daerah-daerah lain untuk menyemarakkan semangat juang dakwah Muhammadiyah dalam rangka meneruskan dakwah Nabi Muhammad menegakkan tauhid dan beramar ma'ruf nahi munkar.

Sumber : Muhammadiyah.or.id

Rabu, 08 Oktober 2014

Apa Kabar Muhammadiyah Ngawi?

Sebuah perenungan yang baik apabila kita selalu sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Suatu hal yang tidak buruk pula apabila kita juga tahu potensi kita. hal itu bisa menjadi evaluasi diri untuk melangkah dalam dakwah yang memang tak mudah.

Muhammadiyah sekarang bukanlah organisasi kemarin sore, namun pergantian personil pergantian zaman pergantian generasi tentu bisa menjadikan Muhammadiyah stagnan atau mengalami kemunduran jika kita tidak melakukan evaluasi dan muhasabah. Sebuah tulisan apik, dari warga Muhammadiyah Ngawi mari kita renungi sebagai berikut :

Suatu ketika, saya membayangkan bertemu dengan Kyai Dahlan, pendiri persyarikatan tercinta ini. Setelah saya mengucap salam dan dijawabnya, seraya beliau bertanya: Sebagai pimpinan Muhammadiyah, sudahkan anda menghidup-hidupi Muhammadiyah? Berapa banyak hartamu yang telah engkau infaqkan? Berapa lama waktumu untuk mengurus persyarikatan ini?, Berapa banyak sekolah yang anda dirikan? Berapa banyak rumah sakit anda bangun? Sudahkan anda mencerahkan umat? Bagaimana anda menggerakkan jama’ah untuk menegakkan Al-Islam, menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, demi terwujudnya masyarakat muslim yang sebenar-benarnya?. Sederetan pertanyaan itu baru sebagian dari banyak pertanyaan lain dari beliau, yang ternyata semuanya tidak mampu saya jawab. Saya merasa malu dengan diri sendiri, karena merasa belum berbuat apa-apa terhadap keberhasilan cita-citanya, yang tidak lain adalah cita-cita Muhammadiyah. Barangkali diantara kita malah sudah mampu menjawab jauh sebelum ditanyakan, karena sudah merasa berbuat banyak untuk membesarkan persyarikatan ini. Wallahu a’lam.

Dari rasa malu tersebut, kemudian saya coba untuk berfikir secara jernih penuh kejujuran pada diri sendiri. Jika PDM periode 2010-2015 ini adalah hasil musyda ke-9, itu berarti bahwa Muhammadiyah di Ngawi secara de facto maupun de yure sudah didirikan dan dibangun selama 45 tahun yang lalu. PDM peride pertama barangkali baru mampu mengenalkan soal nama Muhammadiyah, atau bahkan mengenalkan dengan rasa malu-malu ataupun sembunyi-sembunyi, karena situasi sosial politik saat itu yang sama sekali belum memberikan ruang untuk Muhammadiyah. Peride ke-dua mungkin sudah meningkat ada amal usaha kajian islam, meskipun terbatas pada internal pimpinan. Demikian seterusnya, hingga PDM pada periode selanjutnya. Pada zamannya masing-masing kita semua meyakini bahwa mereka telah berupaya keras dengan sekuat tenaga membesarkan Muhammadiyah. Dan hasilnya sebagaimana yang kita lihat dan rasakan hingga sekarang ini.

Usia 45 tahun adalah usia produktif paling akhir menjelang usia tua, dan sebentar lagi memasuki usia senja serta manula, untuk ukuran manusia. Demikian pula usia Muhammadiyah di Ngawi. Kemudian, hal-hal produktif apakah yang telah kita hasilkan selama ini? Mengatakan keberhasilan akan memacu motivasi diri untuk berbuat lebih produktif lagi, dengan catatan tidak diniatkan untuk takabur. Sedangkan meratapi kegagalan biasanya menjadikan diri kita pesimistis atau bahkan menjadi patah arang. Berikut akan saya sampaikan beberapa hal produktif yang telah mampu kita bangun bersama. Selain dimaksudkan untuk mawas diri, barangkali dapat dipakai sebagai jawaban atas pertanyaan Kyai Dahlan di depan, dalam persepektif intuitif guna memacu motivasi semata.

Terbukanya hubungan antar struktural-ortom-AUM yang lebih familiar dan harmonis dalam semangat ke-Muhammadiyahan. Sebagai contoh, dahulu, untuk pergantian kepala sekolah hampir semua proses diwarnai dengan “pertengkaran” antar personal yang masing-masing merasa memiliki hak untuk menjadi kepala sekolah. Bahkan, kepala sekolah yang lama seakan berupaya mempertahankan jabatannya selama-lamanya, hingga proses pergantian tersebut tidak perlu ada. Pada era sekarang, semua proses sangat terbuka, tidak tabu, calon pengganti berani menyatakan siap, dan yang diganti legowo dengan berhias senyum penuh keikhlasan. Suatu ketika, saya datang silaturrahim ke TK ABA bertemu dengan ibu guru. Yang terjadi adalah, kedatangan saya disambut dengan perasaan aneh seperti saya telah melakukan hal yang tidak wajar. Ibu guru seraya bertanya, ketua PDM kok ngurus TK ABA, apa kaitannya? Memang sama sekali tidak ada yang salah dalam permasalahan ini, tetapi semua diantara kita meski harus terpelajarkan. Ketika itu saya upayakan untuk mencerahkan tanpa harus marah. Kira-kira, memakai pendekatan Al-hanafiatush shamkhah, berprinsip tetapi bisa kompromi. Ibu guru TK tersebut adalah warga Muhammadiyah, dan saya merasa wajib untuk silaturrahim dengan warga Muhammadiyah siapapun, kapanpun dan dimanapun, bukan mengurus TK-nya. Alhamdulillah, sekarang semuanya biasa-biasa saja, dan perasaan tabu yang dahulu kini telah berubah, subkhanallah.

Kelahiran pontren ULIL ALBAB-2 di Desa Pakah. Kita sama-sama ingat saat itu bahwa sebagian warga kita teraniaya oleh orang lain, yang tidak perlu diketahui apa sebab musababnya.  Yang pasti kemudian adalah bahwa Muhammadiyah menerima ananah lahan dakwah baru penuh tantangan. Puluhan kali pimpinan dan semua unsur rapat dan diskusi ternyata lahirlah suatu ide cemerlang dari pimpinan-pimpinan, tokoh-tokoh dan kalangan muda Muhammadiyah yang semuanya cerdas penuh semangat,  yaitu ide perlunya didirikan pondhok pesantren di desa itu. Semua unur PDM bergerilya bahu membahu dengan PCM serta unsur lain untuk mencari calon santri dari seluruh pelosok desa di Ngawi. Begitu cemerlangnya gagasan itu, dan Alhamdulillah seperti yang kita saksikan sekarang ini bahwa calon pengganti pimpinan Muhammadiyah di Ngawi sedang dipersiapkan dan digodhok di pontren itu. Kembali kepada pertanyaan Kyai Dahlan di depan, mari masing-masing kita mencoba menjawab, seberapa besar andil anda dalam keberhasilan ini? Jika merasa sudah maka mari kita tingkatkan, namun jika merasa belum berbuat apa-apa sesungguhnya masih terbentang luas kesempatan.

Kelahiran BTM Bagaskara dan SULI 5. Tatkala Muhammadiyah daerah lain sedang sibuk menghitung harta kekayaan persyarikatan sebagai sarana dakwah pencerahan, kita justru belum berfikir akan pentingnya dakwah ekonomi, bahkan mimpipun tidak. Menyadari hal demikian, semua unsur pimpinan dan tokoh-tokoh pemikir Muhammadiyah di Ngawi mencoba merintisnya dengan dua amal usaha sekaligus, yaitu BTM Bagaskara dan AMDK SULI 5. Hingga saat ini, kedua AUM tersebut berkembang cukup bagus, tentu saja atas dukungan kita semua. Jika AUM ekonomi ini kita pandang sebagai suatu keberhasilan, mari kita coba jawab kembali pertnayaan Kyai Dahlan di depan. Biarkan saja orang bicara dan berpendapat, yang pasti masing-masing dari kita hendaknya bertanya pada diri sendiri seberapa besar telah ikut berperan, terutama yang mengaku sebagai pimpinan. Setiap diri kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.   

Gedung Dakwah Muhammadiyah. Pimpinan pendahulu kita di masa lampau sangat merindukan tempat ini, gedung ini, sebagai sarana dakwah. Mereka semua telah memulai merintis pada zamannya, telah memulai, telah mengupayakan, dan kebetulan era kita sekarang ini mampu mewujudkan secara nyata. Maka dari itu, gedung ini adalah monumental karena telah dicita-citakan cukup lama. Kita semua berharap bahwa dengan berdirinya bangunan bergengsi ini, semangat dakwah amar ma’ruf nahi mungkar kita semakin meningkat. Jika kita mau jujur, sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi organisasi besar seperti Muhammadiyah. Dana milyaran rupiah untuk membangun gedung ini, siapapun tidak pernah mimpi akan mampu memiliki duit sejumlah itu. Nyatanya, kita bisa ujudkan. Sebab, kita ini besar, kita ini jama’ah,  kita ini ikhlas beramal. Masalahnya sekarang adalah, mampukah kita terus membesarkan Muhammadiyah dengan adanya tambahan fasilitas ini? Insya Allah. Keberhasilan ini hendaknya juga harus kita jadikan moment untuk menjawab pertanyaan Kyai Dahlan.  Sudahkan masing-masing kalian berbuat untuk keberhasilan ini? Jika belum, mulailah! Dan jika sudah, teruslah berbuat dan berilah manfaat, karena sesungguhnya  khairunnaas anfauhum li naas.

Sekali lagi, apapun keberhasilan yang mampu kita raih, mari kita syukuri sebagai keberhasilan bersama. Contoh tersebut di atas barulah sebagian dari semua yang telah kita perjuangkan di medan dakwah. Masih banyak hal lain yang menunggu buah pikiran kita, menunggu uluran tangan kita, dan menunggu amaliah kita. Berbuatlah seperti matahari-lambang milik Muhammadiyah itu kata Kyai Dahlan. Matahari itu ikhlas memberi dan tidak harap kembali, memberi manfaat bagi siapapun tanpa pernah diminta, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga orang lain mau berbuat apa saja yang seharusnya dibuat dengan kesadarannya sendiri. Syangnya, masih cukup banyak diantara kita yang baru bisa ngomong namun belum mampu mengamalkan, hebat dikala berpendapat dalam forum rapat, namun belum mampu berbuat. Kita belum bisa seperti matahari, dan Kyai Dahlan pun pasti akan tersenyum meskipun disertai istighfar.

Semoga bermanfaat.

Demikian tulisan motivasi dan berbagi rasa dari saudara kita yang berjuang melalui jalan dakwah muhammadiyah di kabupaten Ngawi. Tulisan ini disadur dari tulisan asli yang berjudul oleh Berbagi Rasa MEMBESARKAN MUHAMMADIYAH di Ngawi Oleh: Gunadi Ash Cidiq dalam portal Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi http://ngawi.muhammadiyah.or.id/

Bermuhammadiyah Menurut K.H. Suprapto Ibnu Juraemi (Alm)


Banyak diantara kita bertanya apa itu bermuhammadiyah atau apa itu sebenarnya muhammadiyah. perdebatan ataupun adu argumentasi mewarnai forum-forum diskusi maupun jejaring sosial guna berpendapat mengenai hakikat bermuhammadiyah.

Untuk bisa merenungi hakikat bermuhammadiyah mari kita baca dan hayati apa yang disampaikan oleh K.H. Suprapto Ibnu Juraemi (Alm) tentang makna bermuhammadiyah

Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H.Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw. Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin. Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi, dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin, pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin. Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan ibadah. Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku, lillahi rabbil alamin”.

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.” Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”. Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu. Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan. Hidupku tidak untuk itu. Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua, tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata “wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”. Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin. Oo.., ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yangnamanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun. Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain. Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah. Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup menjawab. Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye, jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir, yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput mobil.

Pertama, Bermuhammadiyah adalah berislam.
Ungkapan ini memang cukup tandas.Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalna haadzal qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar, simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending, kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal. Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat gado-gado. Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif, membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu, diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam. Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam. Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji, itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah, bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya, pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap masalah ini. Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan Islam”.

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja. Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma. Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi, tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua, warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah
Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?” “Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu “Assalamu’alaikum”. Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan “kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab, padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu. Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut. Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab, “Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah. Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal diJogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa. Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman. Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya, dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil, mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka, yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti. Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah. Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi. Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah melangkah lebih lanjut. Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini, selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu. Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa menjawab. Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo, Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain, adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat. Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden, terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta. Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah. Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang senang terhadap duit. Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya, belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi
Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran, sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu, organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya. Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu. Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700 ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu. Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan, ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu. Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti. Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh, orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan, yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya, Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang lalu. Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit, sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi. Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80 ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat. Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut, kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu, maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya, dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30 juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ, yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY, UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada sedikit yang berasal dari IPM/IRM. Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah, koq setelah sholat malah yasinan. Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius. Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan? Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan, tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis dhoif. Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor, sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana, misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami Muhammadiyah tersebut. Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja. Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu, panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan, dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau tidak kita jadikan kader kita.

Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta Berkorban. Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad. Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban. Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.
*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian
di PDM Temanggung Jawa Tengah.
Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.

Demikian apa yang dapat kami sarikan dari web Majelis Tabligh Muhammadiyah mengenai makna bermuhammadiyah semoga bisa menjadikan kita tambah iklas dalam berdakwah sesuai sunnah Nabi Muhammad, tetap tekun dalam berdakwah dibawah ikatan ukhuwah Islamiyah tidak berlebihan dalam berorganisasi.

Dr. IRWAN AKIB : KURBAN ADALAH

Sabtu 4/10/2014 takbir menggeama dalam perayaan hari besar Isalam Idul Adha di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang terletak di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar. Tepatnya di depan kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Ribuan Ummat Islam emadati area itu untuk melaksanakan Salat Idul Adha dengan khotib Dr. IRWAN AKIB

Dalam khutbah tersebut beliau menyampaikan "Ibadah haji dipenuhi oleh manasik-manasik (tatacara dan upacara) yang jika disadari dan dihayati akan menimbulkan rasa kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT, serta rasa persatuan dan persaudaraan di kalangan sesama manusia. Para jemaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka`bah, meniru gerakan elektron-elektron yang bertawaf mengelilingi inti atom serta meniru gerakan planet-planet yang bertawaf mengelilingi matahari. Seluruh isi jagad raya, dari partikel-partikel penyusun materi sampai benda-benda langit, senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah yang mengatur mereka. Dengan melakukan ibadah tawaf yang melambangkan ketaatan alam semesta, diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi." jelas Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., ketika menyampaikan Khutbah Idul Adha 1435 H di Lapangan Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Sabtu (4/10/2014). Beliau adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan PWM Sulsel sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. 

Lebih lanjut ia menguraikan bahwa dalam menunaikan Ibadah Haji beraneka ragam umat manusia yang berbeda-beda warna kulit, bahasa dan adat-istiadat, semuanya memakai pakaian ihram yang sama, melakukan tatacara dan upacara yang sama. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat jelata kecuali ketaqwaan mereka. 

Lebih lengkapnya, berikut kami sampaikan petikan khutbah Idul Adha 1435 H oleh Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.

QORBAN : JALAN KESUKSESAN DAN KEMENANGAN

As-salaamu `alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

Al-hamdu li l-Laahi l-ladzii arsala rasuulahuu bi l-hudaa wa diini l-haqq, li yuzh-hirahuu `ala d-diini kullih, wakafaa bi l-Laahi syahiidaa.Asyhadu an laa ilaaha illa l-Laah, wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan `abduhuu wa rasuuluh, al-ladzii laa nabiyya ba`dah. Allaahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa muhammad, wa `alaa aalihii wa shahbihii wa man waalah.

`Ibaada l-Laah, ittaqu l-Laaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.

Yaa Rahman, inilah kami para hamba-Mu. Kami datang bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu. Inilah kami, yaa ‘Aziiz, makhluk-makhluk-Mu yang lemah dan tak berdaya, kini duduk di hadapan altar kemuliaan dan keagungan-Mu. Ya Rahiim, inilah kami hamba-Mu yang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa, sering lalai dan alpa, yang acapkali bertengkar untuk memperebutkan bangkai-bangkai dunia; kini kami hadir menyerahkan segenap jiwa dan raga di depan pintu kekuasaan-Mu.  Yaa Rahman, kami hadir berkumpul ditempat ini hanya untuk menggapai ridla dan janji-Mu. Engkaulah Dzat yang maha mengetahui apa yang telah kami lakukan.

Bagi-Mu, segala puji wahai Dzat yang telah menunjuki kami dengan agama-Mu. Kami bersaksi, bahwa tiada Rabb yang patut disembah selain Engkau, wahai Dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia, yang keagungan dan ke-muliaan-Mu tidak akan sirna, meskipun seluruh manusia Kafir dan durhaka kepada-Mu. Yaa Rahman, kami bersaksi, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah utusan-Mu, suri teladan bagi seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga Engkau limpahkan kepada beliau saw, keluarga, kerabat dan shahabat beliau, serta kaum Muslim yang secara konsisten dan konsekuen menjalankan dan mendakwahkan Islam hingga Hari Kiamat.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.Laa ilaaha illa l-Laahu wa l-Laahu Akbar. Allaahu Akbar wa li l-Laahi l-hamd.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Pada hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh penjuru bumi, yang jumlahnya   miliaran  jiwa dan merupakan seperlima penduduk dunia, tersebar dari Maroko sampai Merauke, kini sedang merayakan Idul Adha. Kita sambut hari raya yang mulia ini dengan takbir dan tahmid. Kita agungkan kebesaran Allah, dan kita syukuri nikmat Ilahi. Umat Islam di seluruh penjuru dunia melantunkan Kalimah takbir dan tahmid menggema memenuhi angkasa, menyentuh rasa, menggugah jiwa, dan membangkitkan semangat pada lubuk hati setiap insan yang beriman kepada Allah SWT.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Maha Besar Allah! Selain dari Dia, kecil semuanya!

Pada pagi yang cerah ini, kaum Muslimin dan Muslimat berbondong-bondong memenuhi lapangan, berbaris dalam susunan saf yang teratur rapi, menyatakan ruku’ dan sujud kepada Ilahi.

Pada hari yang mulia ini, di tengah gurun pasir Arabia, di suatu lembah bernama Mina, kini tengah berkumpul jemaah haji dari berbagai bangsa dan negara, dalam rangka menunaikan rukun Islam yang kelima. Kemarin, tanggal 9 Dzulhijjah, mereka telah melaksanakan puncak acara ibadah haji, yaitu wuquf di Padang Arafah.  Jutaan saudara-saudara kita berdatangan dari segenap penjuru bumi, menempuh perjalanan darat yang melelahkan, mengarungi samudera luas bergelombang besar, dan menembus lapisan atmosfer berawan tebal, berdatangan ke tanah suci memenuhi panggilan Ilahi. LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. Inilah saya ya Allah, inilah saya, datang memenuhi panggilan-Mu.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Perintah mengerjakan haji tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 97 yang berbunyi:

Wa li l-Laahi `alaa n-naasi hijju l-baiti man istathaa`a ilaihi sabiilaa. Wa man kafara fa inna l-Laaha ghaniyyun `ani l-`aalamiin

 (“Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam.”)

Panggilan Ilahi kepada manusia untuk berhaji sudah berlangsung ribuan tahun sebelumnya, sejak perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. sekitar 4000 tahun yang silam, sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-Hajj ayat 27 dan 28:

Wa adzdzin fi n-naasi bi l-hajj. Ya’tuuka rijaalan wa `alaa kulli dhaamir. Ya’tiina min kulli fajjin `amiiq, li yasyhaduu manaafi`a lahum

 (“Panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki dan dengan berkendaraan. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.”)

Ibadah haji dipenuhi oleh manasik-manasik (tatacara dan upacara) yang jika disadari dan dihayati akan menimbulkan rasa kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT, serta rasa persatuan dan persaudaraan di kalangan sesama manusia. Para jemaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka`bah, meniru gerakan elektron-elektron yang bertawaf mengelilingi inti atom serta meniru gerakan planet-planet yang bertawaf mengelilingi matahari. Seluruh isi jagad raya, dari partikel-partikel penyusun materi sampai benda-benda langit, senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Allah yang mengatur mereka. Dengan melakukan ibadah tawaf yang melambangkan ketaatan alam semesta, diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi.

Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 83:

Afa ghaira diini l-Laahi yabghuun, wa lahuu aslama man fi s-samaawaati wa l-ardhi thau`an wa karhan wa ilaihi yurja`uun.

(“Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepadaNya telah tunduk-patuh segala yang di langit dan di bumi dengan rela atau terpaksa, dan kepadaNya mereka akan dikembalikan.”)

Dalam menunaikan ibadah haji, beraneka ragam umat manusia yang berbeda-beda warna kulit, bahasa dan adat-istiadat, semuanya memakai pakaian ihram yang sama, melakukan tatacara dan upacara yang sama. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat jelata kecuali ketaqwaan mereka. Para jemaah haji melakukan wuquf di Padang Arafah, melakukan upacara gladi resik Padang Mahsyar di hari akhirat nanti, sekaligus melakukan reuni di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (Jannatun `Adn). Itulah sebabnya tempat itu dinamai Padang Arafah, artinya “Padang Pengenalan”, agar manusia menghayati persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:

Yaa ayyuhaa n-naas, innaa khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa, wa ja`alnaakum syu`uuban wa qabaa’ila li ta`aarafuu. Inna akramakum `inda l-Laahi atqaakum. Inna l-Laaha `aliimun khabiir

(“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.”)

Dengan penegasan Allah SWT ini maka segala bentuk diskriminasi tidak mendapat tempat dalam masyarakat Islam.  Ajaran Islam sejak semula meniadakan dinding rasial dan jenis manusia lalu mengembalikan manusia itu kepada asal yang satu. Semua manusia berhak untuk berhimpun di bawah perlindungan ajaran Islam tanpa memandang warna kulit dan asal-usul keturunan, bahkan juga tanpa memandang agama dan keyakinan. Islam tidak mengenal batas teritorial, sebab bumi seluruhnya kepunyaan Allah dan segala isinya disediakan Allah untuk manusia. Namun hal ini tidaklah berarti Islam menghapuskan idea nasionalisme. Menurut Surat Al-Hujurat ayat 13 tadi, adanya manusia berbangsa-bangsa adalah kehendak Allah.  Dalam ajaran Islam faham nasionalisme dipelihara dengan makna yang baik, yaitu bersatu untuk mencapai tujuan bersama dari seluruh anggota bangsa itu, serta menjalin hubungan baik dan saling membantu dengan bangsa-bangsa lain.

Allahu Akbar, wa lillahil-hamd.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Pada hari raya Idul Adha yang bersejarah ini, kita juga mengenang Peristiwa Qurban yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim a.s. dan putra beliau, Nabi Isma`il a.s. Kita mengenang peristiwa itu sebagai lambang puncak ketaqwaan dan kesabaran.

Perintah Allah kepada hambaNya, Ibrahim, bukanlah perintah untuk menyembelih hewan sembelihan, melainkan perintah untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, yaitu pemuda Isma`il yang baru berusia 13 tahun dan sangat dikasihi oleh sang ayahanda. Di samping sebagai anak kesayangan, Isma`il merupakan anak satu-satunya bagi Ibrahim saat itu (sebab Ishaq belumlah lahir pada saat perintah Allah itu datang). Isma`il merupakan anak yang diperoleh Ibrahim pada hari tuanya, melalui doa demi doa yang dipanjatkan Ibrahim dalam jangka waktu yang lama, dengan maksud agar memperoleh keturunan yang akan melanjutkan penyebaran ajaran Allah. Isma`il, seorang anak yang dibesarkan dan dididik secara sempurna sehingga tumbuh menjadi pemuda yang hampir tiada cacat dari segala aspeknya, kini diperintahkan untuk disembelih oleh tangan ayahnya sendiri.

Sungguh suatu cobaan yang amat sangat berat bagi seorang ayah, kita dapat merasakan dan membayangkannya. Namun karena yang memerintahkan itu adalah Allah, maka perintah penyembelihan itu disanggupi Ibrahim tanpa ragu-ragu. Ketika perintah Allah itu disampaikan oleh Ibrahim kepada sang anak, dan ketika Isma`il ditanyai pendapatnya oleh sang ayah, maka Isma`il yang masih dalam usia remaja itu menjawab:

(“Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah. Insya Allah, ayah akan mendapatiku sebagai anak yang shabar.”) (QS. As-Shaffat 102)

Maka Ibrahim membawa Isma`il ke daerah Mina, ke suatu bukit yang kini disebut Jabal Qurban. Tiga kali Iblis menggoda Ibrahim untuk membatalkan niatnya, dan tiga kali pula Ibrahim menolak rayuan Iblis dengan lontaran kerikil. Penolakan terhadap godaan syaithan ini diabadikan Allah berupa syari`at melontar tiga jumrah di Mina bagi para jemaah haji. Setelah Isma`il direbahkan pada batu landasan penyembelihan, dan pedang ayahnya telah siap hendak menyentuh lehernya, maka ketika itu Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana berfirman agar Ibrahim mengganti sembelihannya dengan seekor domba yang besar. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya ini benar-benar hanya ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor domba yang besar.”) (As-Shaffat 106 – 107)

Peristiwa Qurban ini melukiskan perpaduan keinginan yang teguh dari ayah dan anak, generasi pendahulu dan generasi penerus, yang sama-sama menempatkan pengabdian dan ketaatan kepada Allah di atas segala-galanya. Peristiwa Qurban ini menggambarkan sifat keteguhan iman, ketabahan hati serta kerelaan berkorban, yang dilandasi sikap menumpahkan kecintaan hanya kepada Allah semata-mata. Istilah ‘qurban’ berasal dari kata sifat qarib (dekat) dan kata kerja qaraba (mendekat). Pengertian ini erat hubungannya dengan proses taqarub, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Mendekat” artinya “memperkecil jarak”, dan hal ini akan terlaksana jika seseorang memiliki kecintaan apa yang akan dia dekati. Tanpa adanya rasa cinta, tidak mungkin kita tergerak untuk mendekati sesuatu. Oleh karena itu ibadah qurban merupakan manifestasi kecintaan yang luhur kepada Sang Maha Kekasih, yaitu Allah SWT.

Semangat dan kerelaan berqurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma`il a.s. hendaklah menjiwai sikap hidup kita, sehingga kita dapat menunaikan perintah Allah untuk berjuang dijalanNya dengan amwal wa anfus (harta dan potensi diri). Marilah kita jadikan Idul Adha sekarang ini sebagai momen penggugah kesadaran kita untuk secara bersama-sama mencurahkan pikiran, tenaga dan dana untuk membantu saudara-saudara kita yang saat ini tengah dilanda berbagai kesulitan hidup, misalnya tertimpa bencana alam atau pun yang putra-putrinya tidak dapat bersekolah karena kekurangan biaya.

Mudah-mudahan rasa persaudaraan di antara seluruh anggota masyarakat senantiasa terealisasi dengan perbuatan nyata, sehingga kita menjadi pribadi-pribadi taqwa, yaitu orang-orang yang “memberikan apa yang dia miliki untuk mensucikan diri, meski tidak seorang pun menganugerahinya balas jasa, melainkan semata-mata mencari Wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan pasti dia akan memperoleh ridha”

Allahu Akbar wa Lillahil-hamd.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia.

Allah SWT telah menakdirkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang umat Islamnya paling banyak di muka bumi. Suatu hal yang sering dilupakan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah adalah kenyataan dan fakta-fakta tak terbantah bahwa agama Islam telah menanamkan benih-benih integrasi di kalangan suku-suku di Nusantara, yang buahnya kita nikmati hari ini berupa “Persatuan Indonesia” yang sering kita banggakan. Setelah Islam tersebar di Nusantara, mulailah berlangsung persaudaraan dan pembauran antar suku yang belum pernah ada sebelumnya. Baru pada zaman Islam, seseorang dari suatu daerah tertentu dapat menjadi tokoh penting di daerah yang lain, dengan tidak memandang dari suku apa dia berasal, karena telah diperekatkan oleh ajaran suci Al-Qur’an bahwa “sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”.

Betapa besar peranan Islam dalam melahirkan dan memupuk integrasi bangsa Indonesia. Ketika pada awal abad ke-20 muncul faham nasionalisme yang berkulminasi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan” itu segera memperoleh respons positif dari masyarakat di seluruh Nusantara. Hal itu disebabkan kenyataan bahwa benih-benih persatuan dan kesatuan nasional memang telah ditanam dan disemaikan oleh ajaran Islam berabad-abad sebelumnya di seantero penjuru kepulauan tanah air kita.

Ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surat Alu Imran ayat 102: “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan selalu ingatlah nikmat Allah atas kamu sekalian, ketika dahulunya kamu bermusuhan  maka Dia mempersatukan di antara hati kamu sekalian, sehingga jadilah kamu dengan nikmat-Nya satu bangsa yang bersaudara.”

Hadirin dan hadirat yang berbahagia.

Akhirnya, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah `Azza wa Jalla. Semoga Dia berkenan mengabulkan segala permohonan kita.

Allahumma Ya Rabbana, telah banyak Engkau berkahi kami dengan rahmat karunia-Mu, namun kami sering menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, sehingga kami malu berdoa kepada-Mu. Namun, kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampun Ya Allah, kecuali hanya kepada-Mu. Kami tidak putus harapan mengadu pada-Mu. Kami tidak letih meminta dan mengharap pada-Mu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunan-Mu meliputi segala sesuatu.

Karena itu
·         Ya Allah, terangilah hati dan otak kami sehingga kami faham yang benar itu benar untuk kami ikuti dan yang salah itu salah untuk kami hindari.
·         Ya Allah, Yang Maha Pengampun, maafkan dosa-dosa dan dusta kami, dan beri kami kekuatan untuk tidak larut di dalamnya. Tanpa maaf dan ampunanMu ya Allah, akan sangat sukar bagi kami untuk bergerak menuju cahayaMu, cahaya yang menerangi langit dan bumi.
·         Ya Allah, tetapkan kami istiqamah di atas jalan-Mu, hidup beriman dan bertaqwa.
·         Ya Allah, hindarkan kami dari kehidupan hawa nafsu, boros, mubazzir dan bermewah-mewah.
·         Ya Allah, suburkan rasa kasih sayang di antara kami sebagai mana Engkau menyayangi hamba-hamba-Mu
·         Ya Allah, ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami dan dosa semua orang muslim dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah mati.
·         Ya Allah, masukkanlah kami dalam golongan hamba-hamba-Mu yang taat,  bersama nabi-nabi shiddiqian, syuhada dan orang-orangyang shalih.
·         Ya Allah, jadikanlah kami, keluarga kami dan keturunan kami  muslim yang taat.

Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Kabulkanlah doa permohonan kami.

Rabbanaa aatinaa fi d-dunyaa hasanah, wa fi l-aakhirati hasanah, wa qinaa `adzaaba n-naar, wa hamdulillahi rabbil `aalamiin

Wa s-salaamu `alaikum wa rahmatu l-Laahi wa barakaatuh

Demikian naskah khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Dr. IRWAN AKIB di Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar. Tepatnya di depan kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Semoga setelah perayaan hari besar ini iman dan takwa kita senantiasa bertambah