Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

Gerakan Pencerahan untuk Indonesia Berkemajuan dalam Perspektif Perkaderan


Asep Purnama Bahtiar, 
Ketua Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah; Dosen FA Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Menapaki abad kedua ini Muhammadiyah akan semakin dituntut konsistensi gerakan pencerahan dan komitmennya untuk merealisasikan  perkaderan yang sistemik dan berkesinambungan. Proposisinya, bila spektrum perubahan di luar organisasi yang luar biasa massif dan ekstensif, sementara di dalam organisasinya tidak terbangun konsolidasi yang strategis dan penguatan kapasitas yang efektif—dalam  matra perkaderan dan  kepemimpinan–maka organisasi tersebut akan mengalami stagnasi atau bahkan dekaden.

Dalam konteks organisasi yang berhubungan timbal-balik dengan kondisi zaman yang selalu berubah itu, proposisi perkaderan yang transformatif dan  kepemimpinan yang visioner menjadi pilihan strategis untuk direalisasikan untuk mendukung gerakan pencerahan Muhammadiyah. Bagi  organisasi sebesar Muhammadiyah, model kepemimpinan visioner ini akan bisa memberikan jaminan dalam implementasi nilai dan identitas  Persyarikatan  baik secara institusional maupun personal dalam penguatan kapasitas kader dan anggota.

Lebih jauh lagi di Muhammadiyah posisi kader tersebut juga selalu bergandengan dengan sistem perkaderan, nilai-nilai ideologis, dan subjek  gerakan.  Misalnya dalam renstra program nasional bidang kaderisasi—Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-46 (2010)—tertulis:   “Membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan serta peran dan ideologi gerakan Muhammadiyah dengan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan.”
Ada tiga kata kunci dalam rencana strategis tersebut: 1) pelaku gerakan; 2) ideologi gerakan Muhammadiyah; dan 3) sistem kaderisasi. Khusus yang diistilahkan dengan  ”pelaku gerakan”cakupan subjeknya terdiri dari: pemimpin, kader, dan anggota/warga Persyarikatan.

Posisi Strategis Kader
Dalam ruang lingkup dan dinamika gerakan Muhammadiyah, maka secara organisatoris ketiga subjek tersebut saling membutuhkan dan pengaruh-mempengaruhi. Misalnya, seorang pemimpin pasti membutuhkan anggota/warga, baik sebagai  basis legitimasi kepemimpinan maupun  untuk kepentingan pelibatan mereka dalam berbagai program dan agenda kegiatan yang sudah dirancang. Terlebih lagi posisi kader juga lebih strategis dan menentukan bagi kemajuan organisasi. Nilai lebih ini karena kader menempati posisi signifikan di antara pemimpin dan anggota: sebagai tenaga pendukung tugas pemimpin serta menjadi penggerak dan pendinamis aktivitas partisipatif anggota/warga.

Untuk menjadi kader seperti dalam posisi strategisnya tadi tentu tidak bisa terwujud secara instant dan begitu saja. Sosok kader seperti itu terbentuk melalui penempaan dalam proses pelatihan  dan  didik diri yang berkelanjutan di fora perkaderan, baik yang dikategorikan sebagai perkaderan utama maupun fungsional.

Kader yang berkualitas dan proses kaderisasi yang mapan menjadi qonditio sine qua-non bagi terlaksananya regenerasi dan alih estafeta kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Sekaligus dengan upaya itu pula regenerasi yang bertumpu pada kaderisasi dapat menjamin suksesi kepemimpinan dan kesinambungan pengembangan organisasi di masa depan secara dinamis, sesuai dengan ideologi dan identitasnya yang dikontekstualisasikan untuk menjawab tuntutan dan perubahan zaman. Inilah yang dimaksud dengan siklus yang sehat dalam Persyarikatan: kaderisasi-regenerasi-suksesi kepemimpinan.

Komitmen  dan kompetensi pemimpin serta kader merupakan  komponen organisasi yang  tidak boleh tidak mesti dirawat dan dikembangkan. Upaya ini menjadi tanggung jawab yang besar dan sekaligus berat terutama bagi pemimpin Persyarikatan, sementara pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri merupakan bagian dari anasir yang terpenting dan fundamental dalam mengintensifkan gerakan pencerahan dan mengembangkan dinamika Muhammadiyah untuk Indonesia berkemajuan.
Dengan kata lain, aktiva dan pasiva gerakan Muhammadiyah untuk merealisasikan gerakan pencerahan tersebut akan ikut ditentukan oleh kualitas kader dan kinerja kepemimpinan yang dijalankan oleh seluruh jajaran dan fungsionarisnya di semua lini.  Artinya, neraca gerakan Muhammadiyah dewasa ini dan kelanjutannya ke depan dengan gerakan pencerahannya itu tidak bisa dimungkiri lagi bakal ikut diwarnai dan ditentukan oleh kompetensi kader dan para elite yang diamanahi dalam struktur kepemimpinan Persyarikatan.

Dengan demikian, para kader dan orang-orang yang dipercaya menjadi pemimpin di Muhammadiyah, sesuai dengan levelnya masing-masing, memiliki amanah yang berat dan tanggung jawab yang besar untuk memajukan Persyarikatan serta mengembangkan sumberdaya kader dan anggotanya. Dalam konteks ini, selain memiliki integritas dan kredibilitas, kader dan pemimpin juga harus mempunyai kapabilitas, visi kepemimpinan yang jelas, dan kemauan untuk selalu meningkatkan kualitas dengan perkaderan atau memiliki tekad kuat untuk mau belajar dan berlatih guna memperbarui diri.

Revitalisasi Kader
Kebutuhan akan sosok kader dan pemimpin yang amanah dan cakap serta model kepemimpinan yang responsif dan partisipatoris, bukan saja karena kebutuhan intern Muhammadiyah yang urgen, tetapi juga mengingat tantangan dan problem eksternal Persyarikatan dewasa ini yang semakin tidak ringan. Tantangan ini juga tidak lepas dari konstelasi dinamis dalam skup nasional dan global, baik dalam dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun keagamaan.

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, maka kebutuhan standar kompetensi kader untuk saat ini dan masa yang akan datang akan berbeda dengan masa yang lalu. Karena itu untuk selalu menampilkan sosok kader yang siap kiprah sesuai dengan zamannya perlu diadakan “revitalisasi kader”. Langkah ini merupakan bagian terpenting dalam membangun format pengembangan sumberdaya kader.

Revitalisasi kader merupakan sebuah proses yang berkelanjutan untuk meningkatkan vitalitas, daya juang, dan kualitas kader melalui berbagai macam pelatihan, pendidikan, dan perkaderan yang terarah dan terencana. Melalui revitalisasi kader ini, suplai kader tidak hanya berfungsi bagi pemenuhan kebutuhan internal Persyarikatan saja seperti untuk mendukung gerakan pencerahan, tetapi juga peran strategisnya akan terlihat dari kemampuannya dalam merespons dan menyikapi dinamika perkembangan zaman bagi kemajuan negara-bangsa.

Pada sisi lain revitalisasi kader tersebut merupakan unsur terpenting dari upaya manajemen pengembangan sumberdaya kader dan anggota. Dalam sebuah organisasi, manajemen pengembangan sumberdaya kader ini merupakan program pokok yang strategis guna menghasilkan kader-kader yang berkualitas dan siap kiprah untuk mendinamiskan gerakan pencerahan Muhammadiyah.

Dalam praktiknya, manajemen pengembangan sumberdaya kader dan anggota ini tidak akan cukup diwujudkan dalam bentuk-bentuk training perkaderan dan pelatihan yang baku saja. Penatalaksanaan manajemen ini harus sudah dimulai sejak perekrutan anggota dan selama aktif berkecimpung di Persyarikatan atau di  organisasi otonom.

Mutatis mutandis, revitalisasi kader juga harus diterapkan dalam pelbagai bentuk kegiatan, pelatihan, dan institusi-institusi perkaderan baik yang termasuk jenis perkaderan utama maupun fungsional. Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa upaya revitalisasi kader dengan mengintensifkan berbagai macam perkaderan tadi jangan sampai hanya bersifat ideology oriented tetapi juga mesti memperhatikan aspek-aspek lainnya yang dinamis di luar Persyarikatan.

Harus dipahami bahwa arti penting lain dari revitalisasi kader ini adalah agar supaya kader memiliki link and match, baik ke dalam maupun ke luar. Maksudnya, ada keterkaitan dan keselarasan dengan tuntutan kebutuhan internal Persyarikatan, maupun kemestian bagi kader untuk menguasai ilmu pengetahuan dan kecakapan agar mampu merespons perubahan sosial yang menyertai dinamika umat dan bangsa dalam percaturan global. Kompetensi kader plus integritas inilah yang diperlukan Muhammadiyah dalam melajukan gerakan pencerahan untuk Indonesia berkemajuan.

Menjaga Muhammadiyah


Oleh: Dra Hj Shoimah Kastolani

Setiap tanggal 8 Dzulhijjah jadi tergerak untuk sedikit mengungkap pola pikirnya Sang Pencerah 107 tahun lalu. Beliau berfikir merasa perlu membangkitkan umat Islam untuk melakukan pengentasan dari kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan. Meski melalui liku perjuangan yang tidak ringan toh akhirnya membuahkan hasil legalitas formal memenuhi staatblad 1870 nomor 64 tentang Perkoempoelan Berbadan Hukum.

Melalui Gouvernment Besluit 22 Agustus 1914 No 81 diubah dengan Gouvernment Besluit 16 Agustus 1920 No 40. Dan kini di era global mendapat lagi penegasan dari Kementerian Hukum dan HAM tertenggal 1 Juli 2016 yang mempertegas surat pengakuan yang amat sangat tegas dari Kemendagri tanggal 30 Juni 2016.

Betapa jasa Kyai dalam memajukan agama Islam, mencerahkan bangsa melalui rintisan pendidikan yang integratif antara agama dan iptek. Berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan balai pengobatan sampai akhirnya mendirikan hospital. Peduli kepada kaum dhu’afa sebagai implementasi surat Al-ma’un yang mengajarkan semangat suka berbagi, dengan merintis armeen huis dan wees huis.

Mengingat itu semua aku rasanya bangga merupakan bagian dari gerakan yang didirikan Sang Pencerah MUHAMMADIYAH. Ataukah kebanggaanku ini tumbuh sejak aku merasakan pendidikan SR dan Mu’allimaat Muhammdiyah yang menggemblengku sebagai sosok yang diberi sibghah sebagai zu’ama ‘ulama dan mu’alim.

Kalau orang besar seperti Presiden Pertama Indonesia saja bangga kepada Sang Pencerah, masa aku yg menjadi penikmat amal usaha Muhammdiyah tidak lebih bangga?. Coba saja kita baca kembali pernyataan Ir Soekarno pada pidatonya didepan Muktamirin Muktamirat tahun 1962 “…….ada hubungan erat antara pembangunan agama dengan pembangunan Tanah-Air, Bangsa, Negara dan Masyarakat. Maka oleh karena itu saudara-saudara saja kok makin lama makin tjinta kepada Muhammadijah. Tatkala saya berusia 15 tahun saya simpati kepada Kijai Ahmad Dahlan sehingga saya mengintil kepadanya.

Tahun 1946 saya minta jangan tjoret nama saya dari Moehammadijah; di tahun 1962 saya berkata semoga dikaruniai usia pandjang oleh Allah, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Moehammadijah atas kain kafan saya”. Kok rasanya semua orang merasa tersemangati oleh nilai-nilai keikhlasan Sang Pencerah. Wujud mencintai Sang Pencerah dengan Mahakaryanya Harakah Attanwir Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan, kita semua harus Menjaga Muhammadiyah dengan meneruskan cita perjuangannya menuju Indonesia Berkemajuan: Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan berkeadilan dalam menuju ke Baldah thayyibah wa Rabbun ghafur sehingga mampu menghantarkan umat Islam ke pintu Jannatun Na’im. Amin.


sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Selasa, 30 Agustus 2016

Pemuda Muhammadiyah: Pengebom Gereja Medan Jangan Sampai Mati


WARTAMU, JAKARTA - Ivan Armadi Hasugihan, pelaku pengeboman di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansur, Kota Medan, Sumatra Utara mengaku disuruh melakukan bom bunuh diri oleh orang tak dikenal.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, sebaiknya pelaku bom bunuh diri dijaga jangan sampai mati. "Pengakuannya yang menyatakan disuruh melakukan bom bunuh diri oleh orang tak dikenal itu tak masuk akal," katanya, Ahad, (28/8).

Polisi harus menjaga pelaku bom bunuh diri jangan sampai mati. Sebab perlu penyelidikan yang intensif dan penuh keterbukaan untuk mengungkap apa motinya melakukan kejahatan tersebut. "Selama ini penyelidikan kepolisian sering kurang terbuka. Masalah penyelidikan terorisme seringkali tak tuntas dan tertutup," terang Dahnil.

Tersangka pengeboman kali ini, ujar dia, harus tetap hidup. Sebab ia harus menjadi pintu masuk mengungkap siapa dalang yang  bermain dibelakang terorisme ini.(*)


sumber : http://republika.co.id

Senin, 29 Agustus 2016

Majelis Berkemajuan


Oleh; Prof Dr H Dadang Kahmad

Wartamu.com Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang lalu, Muhammadiyah mengusung tema “Gerakan Pencerahan menuju Indonesia Berkemajuan”. Tema tersebut sangat relevan dengan situasi masa kini dan senapas dengan misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah di abad kedua. Melalui tema tersebut, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjadikan pandangan Islam berkemajuan sebagai sumber inspirasi dalam mencerahkan umat, bangsa, dan masyarakat manusia seluruhnya.

Dengan gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam gerakan dakwah dan tajdid untuk menghadirkan Islam jalan tengah (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat dan martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Komitmen Muhammadiyah tersebut menunjukkan karakter gerakan Islam yang dinamis dan progresif dalam menjawab tantangan zaman, tanpa harus kehilangan identitas dan karakter Islam sebagai agama ilahi.

Oleh karena itu, semua Majelis  dan Lembaga pasca Muktamar ke-47 itu, harus menjadi Majelis berkemajuan, yaitu Majelis yang dinamis, mandiri, produktif, dan proaktif sesuai prinsip dan kepribadiannya sebagai bagian dari Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam bermisi dakwah dan tajdid.

Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah ke depan sangatlah kompleks dan berat. Dunia semakin tidak menentu, sebagaimana yang digambarkan Anthony Gidden, dunia yang lari tanpa kendali, atau seperti yang disebutkan oleh Friedman sudah datar, panas dan krodid. Yang merupakan efek dari globalisasi. Penggunaan alat komunikasi yang luar biasa. Kemajuan dalam teknologi informasi yang sangat pesat itu menyebabkan dunia ini seolah datar, karena tidak ada lagi jarak maupun ruang waktu yang menyebabkan suatu tempat terisolir maupun tertutup dari informasi.

Karenanya, Majelis di lingkungan Muhammadiyah sudah saatnya bangkit dengan melakukan langkah-langkah praksis dan strategis yang membawa pengaruh signifikan bagi kemajuan Muhammadiyah khususnya dan umat Islam secara keseluruhan. Bagi kita pengurus Majelis, berbagai masalah yang dihadapi akan diolah menjadi tantangan dan peluang untuk dimanfaatkan dalam berdakwah amar makruf nahi munkar melalui media Pustaka dan Informasi.

Dalam menjalankan langkah strategis ke depan yang berat dan penuh tantangan itu, saya ingin Majelis menghadapainya dengan penuh tanggungjawab. Semua Pimpinan Majelis  dari Pusat, Wilayah sampai ke Daerah harus bergerak secara optimal, sehingga menjadi kekuatan gerakan yang maju dan unggul dan hasilnya dapat dilihat dan terukur.

Karenanya, marilah kita gelorakan semangat Majelis sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Idul Adha Tahun ini Jatuh Pada Hari Apa?