Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Kisah KH. Ahmad Dahlan Memukul Kentongan


Bagi kader Muhammadiyah atau yang pernah bersekolah di Muhammadiyah, nama KH. Ahmad Dahlan tentu bukanlah sosok yang asing. Pendiri Muhammadiyah yang mendapat gelar pahlawan nasional tersebut adalah sosok yang luar biasa, kontribusinya bagi modernisasi pendidikan dan Islam di Indonesia kala itu masih bisa kita rasakan hingga detik ini, terbukti dengan banyaknya amal usaha Muhammadiyah di berbagai bidang dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Saya pribadi baru “mengenal” beliau secara bertahap saat mulai ber-IPM di SMK. Pelan tapi pasti sosok tersebut menjadi dekat, seiring dengan kedekatan saya dengan organisasi pelajar yang pada akhirnya membawa saya sampai sejauh ini. Maka, kesyukuran saya kepada IPM sebagai organisasi paling dasar yang membentuk saya – adalah sama besarnya dengan rasa terima kasih saya kepada beliau, KH. Ahmad Dahlan yang telah melakukan perubahan luar biasa bagi Indonesia, bahkan dunia lewat didirikannya persyarikatan Muhammadiyah.

Sebuah kisah singkat berikut ini barangkali bisa menjadi penyegar, penegur dan penegar bagi setiap kader Muda yang tengah lengah dan lesu memajukan Persyarikatan. Kita saat ini sudah jauh lebih mudah – dibandingkan beliau saat itu. Kita ini tinggal menjadi melangsungkan, menyempurnakan – dibandingkan beliau yang harus dikucilkan dan dianggap aneh bagi orang kebanyakan saat itu. Kita harus semangat, kalau bukan kita yang menjadi penjaga “rumah” ini, siapa lagi? Jangan sampai kita baru berisik dan berkoar saat “rumah” kita diserobot oleh “oknum” partai nganu, dan lain-lain.

Kejadiannya di sekitar tahun 1921
Suatu siang KHA Dahlan memukul kentongan mengundang penduduk Kauman ke rumahnya. Penduduk Kauman berduyun-duyun ke rumahnya. Setelah banyak orang berkumpul di rumahnya, KHA Dahlan pidato yang isinya menyatakan bahwa kas Muhammadiyah kosong. Sementara guru-guru Muhammadiyah belum digaji. Muhammadiyah memerlukan uang kira-kira 500 gulden untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolah Muhammadiyah.

Karena itu KHA Dahlan menyatakan melelang seluruh barang-barang yang ada di rumahnya. Pakaian, almari, meja kursi, tempat-tempat tidur, jam dinding, jam berdiri, lampu-lampu dan lain-lain. Ringkasnya KHA Dahlan melelang semua barang-barang miliknya itu dan uang hasil lelang itu seluruhnya akan dipakai untuk membiayai sekolah Muhammadiyah, khususnya untuk menggaji guru dan karyawan.

Para penduduk Kauman itu terbengong-bengong setelah mendengar penjelasan KHA Dahlan. Murid-murid KHA Dahlan yang ikut pada pengajian Thaharatul Qulub sama terharu melihat semangat pengorbanan KHA Dahlan, dan mereka saling berpandangan satu sama lain, berbisik-bisik satu sama lain. Singkat cerita, penduduk Kauman itu khususnya para juragan yang menjadi anggota kelompok pengajian Tharatul Qulub itu, kemudian berebut membeli barang-barang KHA Dahlan.

Ada yang membeli jasnya, ada yang membeli sarungnya, ada yang membeli jamnya, almari, meja kursi dsb. Dalam waktu singkat semua barang milik KHA Dahlan itu habis terlelang dan terkumpul uang lebih dari 4.000 gulden. Anehnya setelah selesai lelangan itu tidak ada seorang pun yang membawa arang-barang KHA Dahlan. Mereka lalu sama pamit mau pulang.

Tentu saja KHA Dahlan heran, mengapa mereka tidak mau membawa barang-barang yang sudah dilelang. KHA Dahlan berseru, ”Saudara-saudara, silahkan barang-barang yang sudah sampeyan lelang itu saudara bawa pulang. Atau nanti saya antar?”
Jawab mereka, “Tidak usah Kiai. Barang-barang itu biar di sini saja, semua kami kembalikan pada Kiai.”
“Lalu uang yang terkumpul ini bagaimana?“ tanya KHA Dahlan.
Kata salah seorang dari mereka, “Ya untuk Muhammadiyah. Kan Kiai tadi mengatakan Muhammadiyah perlu dana untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolahnya?”
“Ya, tapi kebutuhan Muhammadiyah hanya sekitar 500 gulden, ini dana yang terkumpul lebih dari 4000 gulden. Lalu sisanya bagaimana?” tanya KHA Dahlan.
Jawab orang itu, “Ya biar dimasukkan saja ke kas Muhammadiyah.

Drs. Sukriyanto AR. M.Hum. (Suara Muhammadiyah No. 13/98/1-15 Juni 2013)

Sabtu, 03 September 2016

Sejarah RS Muhammadiyah Jombang

BerdirinyaRumah Sakit Muhammadiyah Jombang dimulai dari rasa keinginan yang kuat dari seluruh warga Muhammadiyah Jombang untuk memiliki sebuah amal usaha kesehatan yang representative sebagai wahana untuk mengembangkan media dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan Persyarikatan Muhammadiyah khususnya di bidang kesehatan.

Dengan memanfaatkan sebuah bangunan wakaf dari KH. Abd Muchid Djaelani sengan posisi ditengah kota, maka dimulailah dengan rapat koordinasi antara Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah yang dipimppin oleh Ibu Mustifah Basar (Alm) beserta jajarannya dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang yang dipimpin oleh Bpk. K.H. Fauzan (Alm), Beserta jajarannya khususnya dari Majelis Kesehatan dan Kesehatan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang, membuat kesepakatan (MOU) atas dimulainya pendirian Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang dengan kepanitiaannya melibatkan personil dari ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Maka pada tanggal 1 Agustus 2001 terlibatlah surat keputusan panitia pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang dengan susunan panitia sebagai berikut :

Ketua                           : KH. Abd. Muchid Djaelani
Wakil Ketua               : Hj. Ny. Mamiek Rasyid Suyono
Sekretaris I                 : Arif Hidayat
Sekretaris II               : Maknunatin
Bendahara                  : Hj. Ny. Siswati Ning Dyah Amri
Wakill Bendahara     : Hj. Ny. Suliyah A. Munif
 
Seksi
Pembangunan           : Drs. H.M. Shodiq K
Sosialisasi                   : H. A. MiftahLatif
Penggalian Dana      : Drs. Fatkhurahman Sany

Panitia mulai bekerja dalam strateginya untuk mendapatkan dana yaitu dengan melibatkan peran serta seluruh warga Muhammadiyah Kabupaten Jombang dengan cara mengedarkan kupon seharga Rp. 10.000 tiap orang melalui Pimpinan – Pimpinan cabang yang ada, serta donatur dari para simpatisan Warga Muhammadiyah yang tersebar diberbagai daerah dan sumbangan dari uang kas Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, memberikan semangat tersendiri bagi panitia dalam meneruskan gerak dan langkahnya.

Dalam perjalanannya berbagai rintangan dan hambatan banyak menghadang baik masalah pendanaan yang muali macet maupun proses perijinan Birokrasi Pemerintah Kabupaten Jombang, yang pasa saat itu dengan sengaja menghambat berdirinya Rumah Sakit Muhammadiyah di Kota Jombang.

Kesabaran dan ihtiarlah yang akhirnya membuka jalan atas berdirinya bangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang dengan merehab dan mengalih fungsikan dari bangunan wakaf yang ada menjadi bangunan awal Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang, yang sekarang menjadi bangunan induk.

Ddibawah pimpinan Bapak Dr. Rahmad Hadi Santosa Sp,A., maka Rumah Sakit Muhammadiyah mulai operasional pada tamggal 15 April 2005, dengan jumlah tempat tidur sebanyak 10 TT dengan izin awal berupa Balai Pemgobatan dan Rumah Sakit Bersalin Muhammadiyah.

Dalam perkembangannya Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang mendapatkan simpati yang luar biasa dari masyarakat jombang dan sekitarnya, dibuktikan dengan meningkatnya jumlah kunjungan pasien baik rawat jalan maupun rawat inap, maka Pimpinan Muhammadiyah pada periode selanjutnya berusaha untuk memperluas bangunan yang ada dan menambah bangunan baru dua lantai.

Lagi – lagi tantangan mengenai tidak tersedianya dana yang cukup menjadi faktor penghambat. Serta tidak adanya akses ke perbankan tentang biaya permodalan yang disebabkan status tanah berupa tanah wakaf. Sehingga tidak ada pihak Bank yang berani memberikan dana pinjaman.

Dengan bantuan pendanaan dari warga Muhammadiyah, Profesional medis dan simpatisannya di dapatkanlah uang pinjaman secara personal sebesar 1 Milyard Rupiah, maka berdirilah gedung baru dua lantai dengan kapasitas 21 tempat tidur.

Alhamdulillah dengan Ridlo Allah yang Maha Kuasa, pada tanggal 26 Aguatus 2007 M bertepatan dengan tanggal 13 Sya’ban 1428 H diresmikanlah bangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Ibu Dr. dr. Siti Fadilah Supari Sp.JP (K). yang didampingi oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak Prof. DR. H. Dien Syamsudin, MA. Dan dilanjutkan dengan keluarnya Keputusan Pemberian Izin Penyelenggaraan Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang Kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang tertanggal 05 Januari 2009 M.

 Dengan MOTTO Pelayanan Kami Adalah Ibadah, Kesembuhan Anda Adalah Amanah “ mendorong setiap karyawan untuk selalu menunjukkan dedikasinya secara profesional dan Islami dalam memberikan pelayanan kepada setiap Klien yang memanfaatkan pelayanan dilingkungan Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang. Yang membedakan dengan Rumah Sakit lain dalam memberikan service pelayanan perawatannya yaitu mengkombinasikan antara perawatan lahiriah dan ruhaniyah dengan jalan memberikan pelayanan khusus untuk bimbingan Rohani dengan tujuan menjaga Tauhid klien yang beragama Islam dalam berikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan, juga membimbing klien selama menjalani perawatan untuk selalu ingat kepada Allah SWT, dengan menjalankan kewajiban Sholat 5 waktu di tempat tidur dalam posisi apapun selama dia masih mampu, sehingga selalu tegar dan menjauhi stress yang akan membantu proses kesembuhannya.

Dengan dukungan dari para profesional medis yang mumpuni Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang memberi pelayanan :

1.      UGD 24 jam
2.      Poli Umum
3.      Poli Gigi
4.      Poli Spesialis Anak
5.      Poli Kandungan
6.      Poli Bedah
7.      Poli Penyaki Dalam
8.      Laboratorium
9.      Kamar Operasi
-          Bedah Umum
-          Bedah Kandungan
-          Bedah Mata
 
Telah mendapatkan sambutan yang baik dari kalangan masyarakat Jombang dan sekitarnya dengan jumlah rata – rata kunjungan (BOR) diatas 80% setiap bulan.

Sejarah PAYM Jombang


WARTAMU, JOMBANG - Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Jombang didirikan pada tahun 1926 di desa Tugu Kecamatan Jombang, tepatnya dirintis dirumah kontrakan milik seorang warga Tionghoa bernama Djun, yang sebelumnya ditempati untuk pertokoan. Rumah kontrakan tersebut ditempati oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah waktu itu yaitu Bapak Zuhal Kusumo yang berasal dari Yogjakarta. Beliau bekerja sebagai Kepala Pendidikan Agama yang melebur saat ini menjadi  Kementrian Agama RI. 


Pada periode pertama perintisan Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah bernama Rumah Yatim Muhammadiyah dengan mengasuh sebanyak 26 anak yang kesemuanya laki-laki. Kemudian karena dari kontrakan tersbut pindah ke rumah wakaf yang diberikan oleh orang keturunan Arab bernama Abdullah Bahmid asal tugu juga. Rumah tersebut beralamat di desa Tugu gg. I yang kemudian sekarang ditempati oleh TK ABA I Jombang. Sebelumnya ditempati oleh MI Muhammadiyah I Jombang dan setelah itu ditempati oleh SMP Muhammadiyah I Jombang. 


Kepengurusan Pertama saat berdirinya Rumah Yatim adalah para Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang yaitu : Bapak Zuhal Kusumo, Bapak Hadi Kusumo, Bapak Isman, Bapak Smail Dwijoharsono, Bapak Kusen dan Bapak Abdurrochim.


Setelah lama bertempat di desa Tugu tepatnya Tahun 1954 Rumah Yatim Muhammadiyah Jombang pindah ke Jalan Arjuno Jombang yang sekarang menjadi Jalan dr. Sutomo 13 Jombang. Bangunan gedung Panti Asuhan Muhammadiyah Jombang berasal dari bantuan Menteri Sosial saat itu yaitu Bapak Mulyadi Joyo Martono pada tahun 1954 diresmikan oleh beliau juga atas bantuan usaha dari Pengurus Partai Masyumi saat itu dijabat oleh Bapak Sa’dullah Khumaidi dari Sumobito.


Periode pertama saat Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Jombang diasuh oleh :

1.    Ibu Djufainah tahun 1954 - 1957

2.    Ibu Asiyah tahun 1957 – 1964

3.    Bapak Rahmanto tahun 1964-1965

4.    Bapak Abdul Muchid Djaelani tahun 1966 sampai sekarang.


Beliau bekerja sebagai guru agama di SMP Negeri I Jombang dan menjadi pengasuh sejak bulan Mei 1966 dengan mengasuh beberapa anak Yatim eks peristiwa G-30S-PKI. Jumlah anak asuh saat itu 24 anak diantaranya : Sutarto (alm)yang bekerja di Pertamina, dan adik beliau bernama Suyatim bekerja sebagai Kepala BMKG Bengkulu, Sukarman  bekerja sebagai Guru, Ramiso (alm) di Pabrik Miwon, Wiji Maftuh (alm) sebagai Tukang kebun. Selama Bapak Abdul Muchid Djaelani mengasuh di PAYM Jombang beliau dibantu beberapa pembina diantaranya : Bapak Djuari (alm), Bapak Agus Subagiyo (alm), Bapak Sugeng Santoso, Bapak Hadi Nur Rahmat, Bapak Djudjuk Abdul Muis, Bapak Zainur Riduwan, Bapak Umar Buang.


Kepengurusan Panti Asuhan Muhammadiyah Jombang periode 1965 dipegang oleh PDM Jombang saat itu yaitu Bapak Abdullah Mukti (alm), Bapak Nur Effendi (alm), Bapak R. A. Suhardjo (alm), Bapak Shidiq Abbas (alm), Bapak H. Fauzan (alm), Bapak Djaslan (alm) dan Bapak Mohammad Ruslan.

Dengan perkembangan PAYM Jombang gedung dan tanah yang semula diperuntukkan untuk kegiatan Panti dimanfaatkan pula untuk pendidikan yakni SMP Muhammadiyah 1 Jombang dan SMA Muhammadiyah 1 Jombang sampai sekarang, dan Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Jombang juga sekarang dibangun diatas tanah tersebut.

Minggu, 31 Juli 2016

Sejarah Muhammadiyah

PROLOG
 
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .

Masjid Gede Yogyakarta
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
 
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
 
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.