Senin, 17 Oktober 2016

Bangga !!! Siswa SDLB Muhammadiyah Raih Juara ke 3 MTQ Kabupaten Jombang


WARTAMU, JOMBANG - Siswa SD Luar Biasa Muhammadiyah (SDLBM) Jombang berhasil meraih Juara ke 3 MTQ Tingkat Kabupaten Jombang yang diselenggarakan di Masjid Baitul Mukminin Jombang (14/10/2016).

Sofwan Jauharuddin Hasan, siswa kelas 3 SDLB Muhammadiyah Jombang meraih juara ke  3 lomba MTQ tingkat Kabupaten.

Sri Endahyati selaku Kepala SDLB Muhammadiyah Jombang menjelaskan sebelumnya Sofwan mengikuti perlombaan MTQ di tingkat Kecamatan Jombang.

"Tentang Sofwan atau Aan panggilan akrapnya dia bakat dibidang seni sehingga bagaimana bakat ini bisa diwujutkan, kami harus memfasilitasi baik dengan sarana maupun tenaga pengajarnya. Kita hadirkan guru musik dan kita siapkan keyboard untuk latihan bahkan kami bawai alat untuk belajar di rumah, sehingga sewaktu waktu ada  lomba anak sudah siap."Ucap Sri.

Sri mengaku bahwa surat undangan untuk mengikuti perlombaan diterima sekolah sehari sebelum hari perlombaan.

"Untuk keg MTQ kemarin memang surat baru kami terima sehari sebelum lomba, tapi kami optimis Aan bisa, karena surat yang dibaca tidak ditentukan, Aan saya suruh ambil surat Al Ma'un, suratnya pendek dan Aan sudah hafal karena besok sudah tampil di Kecamatan Jombang. Dan Alhamdulillah mendapatkan juara sehingga lanjut ke tingkat Kabupaten yang pelaksanaannya tadi malam," jelas Sri (14/10/16)


Sofwan pernah mewakili Kabupaten Jombang ke Provinsi dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN).


"Itu semua berkat dukungan Orangtua dan saya juga Termotivasi waktu ada pengajian akbar 'Aisyiyah di Masjid Al Akbar Surabaya yang dihadiri oleh Prof. Din Syamsuddin  yang dimana pemembaca ayat suci Al Quran adalah siswa SLB A'isyiyah Ponorogo kebetulan juga tunanetra."Imbuh Sri.

SDLB Muhammadiyah Jombang hanya memfasilitasi, dan memotivasi Sofwan agar tetap percaya diri dalam perlombaannya. Tentunya juga memberikan Apresisasi untuk Sofwan agar tetap semangat dalam belajar.

"Kemarin itu sudah saya tanya kalau Aan nanti juara 1 minta apa? Jawabnya pingin naik kereta api, dan yang lebih penting lagi anak bisa percaya diri, walaupun mereka berkebutuhan khusus tapi masih bisa berkopetisi dengan yang lain."Pungkas Sri.(*)

Ingin Jadikan Penerus Perjuangan Muhammadiyah, PR IPM SMPM 1 Jombang adakan Taruna Melati 1




WARTAMU, JOMBANG  - Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah ( PR IPM) SMP Muhammadiyah (SMPM) 1 Jombang melaksanakan perkaderan resminya yakni Taruna Melati 1 yang dilaksanakan pada 14 s.d. 15 Oktober 2016 di Padepokan Wonosalam Lestari, Wonosalam Kabupaten Jombang.

Perkaderan yang dikemas selama 2 hari 1 malam ini bertema “Membentuk Karakter Kader Cerdas untuk Mewujudkan Pelajar yang Berakhlaq dan Berkemajuan” dengan diikuti oleh kurang lebih 40 peserta Pelatihan Kader Taruna Melati 1 PR IPM SMPM 1 Jombang.

Sulaila Hambali selaku pembina PR IPM SMPM 1 Jombang menjelaskan bahwa agenda ini diperuntukkan untuk mengkader siswa siswi baru di SMP Muhammadiyah.

 “Taruna Melati ini bertea Outbond dan Materi, karena siswa siswi baru yang tergabung dalam PR IPM SMPM 1 Jombang ini berasal dari berbagai latar belakang, sehingga kami menyamakan dulu dengan cara outbond bersama baru kita beri materi pengenalan Organisasi Muhammadiyah dan Ortomnya,” ucap Sulaila.

Anggota baru PR IPM SMPM 1 Jombang perlu didampingi secara intens sehingga maksud dan tujuan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah terwujud.

“Pengurus PR IPM SMPM 1 Jombang akan kami pihak sekolah bersama Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Jombang akan terus menerus mendampingi dan membina secara intens agar tujuan Ikatan Pelajar Muhammadiyah terwujud dan tujuan dari Amal Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan untuk mencetak Kader Muhammadiyah berjalan,” Pungkas Sulaila. (*)

Ir. H. Abdul Malik : Muhammadiyah Siap Bersinergi Dengan Pemerintah Kabupaten Jombang




WARTAMU, JOMBANG - Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Jombang hari ini, Senin (17/10/2016) melakukan Silaturahmi dengan Bupati Kabupaten Jombang di Ruang Teratai Kompleks Pemerintah Kabupaten Jombang.

Membawa tema Dakwah Pencerahan Menuju Jombang Sejahterah dan Berkemajuan, PD Muhammadiyah Kabupaten Jombang membawa Pimpinan Muhammadiyah dan Pimpinan Organisasi Otonomnya.

Ir. H. Abdul Malik, M.P selaku Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)  Kabupaten Jombang dalam sambutannya menyampaikan bahwa program di PDM Kabupaten Jombang itu selaras dengan program Pemerintah Kabupaten Jombang dari segi Pendidikan, Kesehatan, Dakwah maupun di bidang sosial.

Muhammadiyah Jombang akan membawa program Tri Sula yakni Pemberdayaan Ekonomi, Pemberdayaan Masyarakat, dan Kebencanaan,”Ucap Abdul Malik.

Sementara itu Bupati Kabupaten Jombang Nyono Suharli dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada keluarga Muhammadiyah Kabupaten Jombang dan Organisasi Otonomnya. Ia mengaku program Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jombang sangat membantu program pemerintah. 

“Sinergi Pemerintah dengan Semua Pihak termasuk peran Muhammadiyah di Kabupaten Jombang ini sangat dibutuhkan,” Ucap Bupati Nyono.
Bupati nyono mengatakan agar Muhammadiyah Jombang dapat membantu mensosialisasikan program Pemerintah Kabupaten Jombang kepada masyarakat.
“Kami minta teman-teman di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jombang dapat membantu mensosialisasikan program-program pemerintah seperti pada bidang catatan sipil e-KTP, Akta Kelahiran, dan Kartu Keluarga kepada masyarakat agar paham,”pintanya. (*)

Rabu, 12 Oktober 2016

Inilah Karakter Indonesia Berkemajuan Menurut Muhammadiyah


WARTAMU, JAKARTA —Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan bahwa Muhammadiyah dalam buku Visi Karakter Muhammadiyah, telah menawarkan beberapa karakter utama yang harus selalu dipelihara oleh segenap bangsa Indonesia. Beberapa karakter utama itu diyakini akan membawa Indonesia mampu untuk meraih kemajuan. Hal itu dikatakan Haedar dalam acara Pengajianm Bulanan PP Muhammadiyah di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam (7/10).
Karakter pertama, kata Haedar adalah religious. “Orang Indonesia itu apapun agama, suku, rasa dan golongannya memiliki karakter religious. Religiusitas itu melebihi apapun. Orang berpengetahuan agama belum tentu religius. Religiusitas ini tidak terkait dengan pengetahuan agama apapun,” kata Haedar, sambil mencontohkan orang yang tahu menurut agama bahwa marah itu dilarang, belum tentu bisa mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, karakter cerdas berilmu. Indonesia berkemajuan, kata Haedar hanya bisa digapai dengan karakter ini. “Cerdas lahir dari proses diri yang membentuknya menjadi manusia yang kritis, inovatif. Indonesia hanya akan menjadi berbudaya kasur tua –kalau kata Rendra– jika tidak cerdas dan berilmu,” katanya.
Menurut Haedar, cerdas dan berilmu juga menjadi factor yang menyebabkan Indonesia mampu untuk berdiri sejajar dengan bangsa lainnya. Selain menjadi cerdas dan berilmu, Haedar juga mengingatkan supaya ilmu yang dimiliki jangan sampai membentuk manusia instrumental. “Kehebatan orang Muhammadiyah itu egaliter. Bahkan saking egaliter menjadi modular man, kurang rasa takzim. Ini perlu menjadi cacatan bagi orang Muhammadiyah,” ujarnya.
Karakter ketiga yaitu jiwa mandiri. Mandiri akan membentuk harkat, marwah dan muruah seseorang. Pada akhirnya kemandirian akan menjadikan seseorang menjadi unggul. “Muhammadiyah mengajarkan kemandirian. Kemandirian ini yang mengajarkan kita yad al ulya laisa  min yad al sulfa, menjadi tangan di atas, bukan tangan di bawah. Ia tidak pernah menjadi pengemis,” papar Haedar.
Keempat, sikap altruisme atau rasa solidaritas social yang tinggi. “Sekarang sikap altruis hilang, orang menjadi egois. Orang memperjuangkan dirinya dengan sikap Darwinian. Siapa memangsa siapa. Kelihatannya manusia modern diajarkan untuk saling kompetisi saling berebut, namun kadang jiwa altruism dan solidaritasnya menjadi luruh,” tutur Haedar.
Karakter kelima, etos kerja. Menurut Haedar, orang Muhammadiyah itu tidak pernah mau diam dan berhenti bergerak. Sehingga amal usaha Muhammadiyah tumbuh di mana-mana. Demikian halnya dengan ibu-ibu Aisyiyah yang begitu giat beramal dan bekerja keras.(*)
sumber : http://suaramuhammadiyah.id


WARTAMU, YOGYAKARTA –Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005, Prof Ahmad Syafii Maarif mengingatkan para politisi yang bertarung dalam pesta demokrasi agar tidak mencatut dan ‘memaksa’ Tuhan untuk berpihak pada tujuan politik sesaat. Termasuk tidak mempergunakan ayat-ayat kitab suci untuk saling menjatuhkan dan membela kepentingan politik tertentu.
“Kalau memperalat Tuhan untuk tujuan politik yang kotor itu tidak bisa dibenarkan.  Sepanjang sejarah  demokrasi kita, ayat Quran, Tuhan dibajak oleh politisi-politisi yang tidak mau naik kelas menjadi negarawan. Seperti dipaksa Tuhan berpihak kepadanya,” kata Syafii Maarif saat dimintai tanggapan soal kegaduhan pernyataan Ahok terkait Surat Al Maidah:51 pada acara program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan salah satu TV swasta, bertajuk “Setelah Ahok Minta Maaf” , Selasa (11/10).
Buya Syafii tidak melarang sama sekali para politisi untuk mengutip ayat. Namun hendaknya tidak mempergunakan ayat kitab suci untuk tujuan yang kotor. “Ini (mengutip ayat) mungkin bisa dipahami. Tapi kalau ini hanya untuk sekadar membela kepentingan politik sesaat, ini yang merusak kita. Merusak demokrasi yang sudah kita bangun selama 18 tahun,” tutur Buya Syafii.
Para politisi, kata Buya seharusnya memikirkan nasib rakyat yang masih mengalami kesenjangan di berbagai daerah. Bukan hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya dengan mempergunakan segala macam cara, termasuk menggunakan kitab suci. “Berbuat sesuatu untuk kepentingan rakyat, jangan omong, tapi tindakan,” imbau Syafii Maarif.
Guru bangsa itu mengajak segenap elemen bangsa, khususnya para politisi, untuk lebih peduli pada kepentingan rakyat yang lebih luas dan tujuan jangka panjang. “Suatu tujuan demokrasi yang ideal masih sulit karena kualitas politisi kita masih jauh dari ideal. Tapi paling tidak kalau kita mencintai bangsa ini, terkapar dalam perjalanan, mari kita perbaiki diri. Jangan berbohong,” katanya.
Kebrobrokan politik Indonesia, menurut Buya juga dipengaruhi oleh kualitas dan kapasitas politisi serta banyaknya praktek politik transaksional untuk tujuan-tujuan pragmatis. “Politik uang kita luar biasa. Itu sudah menjadi rahasia umum, semua orang tahu. Imbauan saya tidak cukup. Tapi mari kita dari niat hati yang baik, mengubah diri untuk memperbaiki keadaan,” tukas Buya Syafii.
Dalam kesempatan itu, Buya Syafii meminta semua pihak untuk tidak memperpanjang kegaduhan terkait ucapan Gubernur DKI Jakarta Ahok soal surat Al-Maidah ayat 51 saat berdialog dengan warga Kepulauan Seribu.  “Ahok sudah minta maaf, kalo sudah minta maaf yah diselesaikan saja. Dan saya rasa Ahok bukan orang jahat lah. Diselesaikan dengan baiklah dengan fair tanpa ada kampanye hitam” ucap Buya Syafii Maarif.(*)
sumber : http://suaramuhammadiyah.id

Selasa, 11 Oktober 2016

Inilah Pendapat dan Sikap Resmi MUI Tentang Video Al Maidah


WARTAMU, JAKARTA -  Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (11/10/2016) mengeluarkan pendapat dan sikap keagamaan tentang pernyataan Gubernur DKI Jakarta mengenai surat Al Maidah ayat 51, Pendapat dan sikap keagamaan MUI langsung ditandatangani Ketua Umum MUI  Dr KH Ma’ruf Amin  yang juga Rois Am PB NU dan Sekretaris Jendral MUI Dr  H Anwar Abbas MM MAg  yang juga Ketua PP Muhammadiyah.
Diantara sikap keagamaan sebagai berikut:  Menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat  51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran.
Sikap lainnya,  Menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat  51 tentang larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.
Namun demikian, MUI menghimbau pada masyarakat  untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri serta menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum, di samping tetap mengawasi aktivitas penistaan agama dan melaporkan kepada yang berwenang.
PENDAPAT  DAN  SIKAP  KEAGAMAAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Bismillahirrahmanirrahim
Sehubungan dengan pernyataan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Kabupaten Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016 yang antara lain menyatakan, ”… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” yang telah meresahkan masyarakat, maka Majelis Ulama Indonesia, setelah melakukan pengkajian, menyampaikan sikap keagamaan sebagai berikut:
  1. Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin.
  1. Ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin muslim adalah wajib.
  1. Setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin.
  1. Menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran.
  1. Menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.
Berdasarkan hal di atas, maka pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan : (1) menghina Al-Quran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.
Untuk itu Majelis Ulama Indonesia merekomendasikan :
  1. Pemerintah dan masyarakat wajib menjaga harmoni kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  1. Pemerintah wajib mencegah setiap penodaan dan penistaan Al-Quran dan agama Islam dengan tidak melakukan pembiaran atas perbuatan tersebut.
  1. Aparat penegak hukum wajib menindak tegas setiap orang yang melakukan penodaan dan penistaan Al-Quran dan ajaran agama Islam serta penghinaan terhadap ulama dan umat Islam sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  1. Aparat penegak hukum diminta proaktif melakukan penegakan hukum secara tegas, cepat, proporsional, dan profesional dengan memperhatikan rasa keadilan masyarakat, agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap penegakan hukum.
  1. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri serta menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum, di samping tetap mengawasi aktivitas penistaan agama dan melaporkan kepada yang berwenang.
Selasa, 11 Oktober 2016
Ketua Umum KH. MA’RUF AMIN
Sekretaris Jenderal  Dr H. ANWAR ABBAS, MM, MAg

Sabtu, 01 Oktober 2016

Muharram Bukan Bulan yang Sial



Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Saat ini kita berada di penghujung bulan Dzulhijjah, bulan terakhir di dalam urutan bulan kalender hijriyah atau kalender Islam. Sebentar lagi kita memasuki tahun 1437 H, yang dibuka dengan bulan Muharram. Bulan yang disebut juga dengan nama bulan Sura. Belum ada hasil penelitian yang final dan disepakati oleh para ahli sejarah Islam mengapa orang Islam di wilayah Nusantara (Asia Tenggara) terutama bangsa Jawa lebih suka menyebut nama bulan Muharram dengan nama bulan Sura. Salah satu teori yang agak masuk akal adalah karena pada bulan Muharram ini pernah terjadi peristiwa besar di dalam sejarah Islam. Yaitu peristiwa Asyura.

Ada dua peristiwa di hari Asyura (10 Muharram) di dalam Islam, pertama hari yang diyakini hari kebebasan Musa dari kejaran Fira’un, dan kita disunahkan berpuasa pada tanggal itu. Yang kedua adalah peristiwa gugurnya Husein bin Ali, cucu Rasulullah di tanah Karbala.

Asyura yang manakah yang dijadikan rujukan orang Jawa. Dari cara memperlakukan bulan muharram tampaknya peristiwa kedualah yang dijadikan rujukan. Mengapa demikian, karena orang Jawa cenderung menganggap bulan Sura sebagai bulan yang sial bukan bulan yang menggembirakan sebagaimana peristiwa pertama.

Yang jelas, di dalam mantra-mantra tradisional Jawa yang berbau Islam, banyak tersirat ritual yang memuliakan Fatimah (yang di Jawa disebut Dewi Pertimah yang disejajarkan dengan Dewi Pertiwi atau Dewi Bumi). Ali bin Thalib yang disebut Baginda Ngali, Hasan, Husein, maupun Muhammad Hanafiah. Mirip dengan kepercayaan kaum Syi’ah. Mereka juga sangat membenci Yazid yang disebut Raja Yazid Kang Duraka. Walau begitu mereka menghormati Abu Bakar, Umar, dan Usman juga Muawiyah.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.
Terkait atau tidaknya peristiwa Asyura dengan penamaan bulan Muharram dengan istilah bulan Sura oleh masyarakat Islam di wilayah Nusantara. Masyarakat di sini cenderung mengeramatkan bulan pertama di dalam kalender Islam ini. Bahkan ada pula yang menyatakan kalau bulan muharram sebagai bulan yang sial. Bulan yang tidak cocok untuk melakukan apa pun. Terutama untuk melakukan pernikahan, membangun rumah, pindah tempat tinggal, ataupun bepergian.

Menurut yang percaya pada mitos ini, bulan Muharram dianggap sebagai bulan yang dikhususkan untuk para makhluk halus menyelenggarakan perayaan pernikahan.
Terkait dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian menamakan ‘inab (anggur) sebagai karam (kemuliaan), dan janganlah kalian mengatakan alangkah sialnya masa (waktu) karena sesungguhnya Allah adalah (pencipta) masa.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dalam Hadits lain juga dijelaskan:
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Anak Adam telah menyakiti-Ku dia suka mencela masa. Padahal Aku adalah (pencipta) masa. Akulah yang menggilir siang dan malam.” (HR Muslim)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.
Kalau kita mau membuka sejarah, maka kita akan tahu kalau banyak peristiwa penting yang menggembirakan juga pernah terjadi di bulan Muharram. Di antaranya terbelahnya laut merah saat Nabi Musa mau menyeberang sehingga Musa dan kaumnya yang setia selamat dari kejaran Raja Fir’aun.

Peristiwa ini terjadi di bulan Muharram. Ini berarti menunjukkan kalau rahmat Allah sangat besar bagi hamba-Nya, khususnya bagi mereka yang tertindas justru terlimpah di bulan Muharram.
Perang Khaibar juga terjadi di bulan Muharram. Perang yang terjadi di tahun ketujuh hijriyah ini menandai penumpasan total kaum Yahudi yang suka bikin kekacauan dan perpecahan di kota Madinah.

Maka sungguh tidak tepat menganggap Muharram sebagai bulan sial. Semua bulan dan hari adalah sama saja. Tidak ada yang boleh disebut hari baik baik atau hari sial. Bulan baik atau bulan sial. Termasuk bulan Zulhijjah, bulan terbunuhnya dua khalifah, Umar dan Usman. Apalagi bulan Muharram. Bulan pertama di kalender Islam.

sumber : http://suaramuhammadiyah.id